
Tak bisa digambarkan bagaimana kepanikan William saat melihat Jenny yang terkulai tak sadarkan diri dalam gendongannya. William sempat mengancam Frans kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan pada Jenny dan kandungannya, dia tidak akan segan menuntut Frans.
"Bertahanlah Jenn." bisik William cemas dengan menatap wajah Jenny yang sudah pucat pasi.
Dokter meminta William untuk keluar ruangan, tapi William tetap berkeras hati ingin berada di samping Jenny. Apapun keadaannya William tidak ingin meninggalkan Jenny, bahkan William mengaku pada dokter kalau dia adalah suami Jenny.
"Baiklah Pak William kami izinkan Bapak berada di ruangan ini, sepertinya kandungan istri Bapak akan lahir prematur." ujar dokter mencoba memberitahukan kemungkinan yang akan terjadi pada Jenny.
Tuhan. . .
Cobaan apalagi yang harus diterima Jenny?
Tidak mungkin Jenny akan melahirkan bayinya yang masih delapan bulan. Baru saja dokter kandungan memprediksi kelahiran Jenny bulan depan dan lahir normal, tapi mengapa harus seperti ini?
"Saya mohon dokter lakukan yang terbaik untuk istri saya." pinta William, agar drama yang William mainkan semakin dipercaya oleh dokter.
Sekitar lima belas menit Jenny pingsan, dia mulai sadarkan diri. William pun segera menghampiri Jenny dengan wajah sumringah akibat terlalu panik memikirkan keselamatan Jenny.
"Jenny kamu pingsan." ucap William. Seketika itu juga Jenny langsung memeluk William, merasakan ketakutan yang masih menghantuinya saat bertemu Frans.
"Aku takut Willy, sungguh aku takut." keluh Jenny dengan nada cemas, bahkan semakin mengeratkan dekapannya pada William.
Entah kenapa William merasa senang mendengar Jenny memanggil namanya tanpa embel-embel Pak. Apalagi dengan sebutan manis yang sama seperti Clarisa memanggil William dengan nama Willy, lalu William mengelus puncak kepala Jenny penuh sayang.
"Kamu harus kuat Jenn, demi bayi yang ada dalam kandunganmu." ucap William mencoba memberikan semangat untuk Jenny. Namun, ada rasa yang aneh dari tubuh Jenny, tiba-tiba saja seperti ada darah yang mengalir dari pangkal paha sampai mata kaki.
"Dokter, apa aku akan melahirkan?" tanya Jenny mulai panik setelah dilihatnya darah segar yang sudah sampai di ujung mata kaki.
"Maaf Ibu Jenny, kami harus mempersiapkan operasi cesar akan kandungan ibu Jenny. Kalau dipaksa melahirkan normal, kami takut akan kondisi ibu Jenny yang baru saja drop, sementara bayinya harus segera diselamatkan." tutur dokter kandungan.
Jenny tidak tahu harus berkata apa mendengar keputusan dokter barusan. Mungkin poin pertamanya Jenny sangat bahagia kalau buah hatinya akan lahir, tapi Jenny juga ragu apakah buah hatinya akan normal seperti bayi pada umumnya? Mengingat usia kandungan Jenny yang masih delapan bulan.
"Baiklah dokter, lakukan yang terbaik untukku dan anakku dok." ucap Jenny pasrah dengan pandangan memelas pada sang dokter. Sementara William segera meraih jemari Jenny untuk memberinya kekuatan, karena yang Jenny butuhkan saat ini hanya itu.
•••
Awalnya Frans datang ke rumah sakit ingin menengok sahabatnya yang mendapat kabar kecelakaan lalu lintas, tapi justru Frans bertemu dengan Jenny. Melihat perut Jenny yang membuncit semakin membuat Frans penasaran, padahal pasca sidang cerai barulah sekitar delapan bulan, tapi kenapa perut Jenny sudah sebesar ini?
Sebenarnya dalam hati kecil Frans masih berharap setitik keajaiban, kalau anak yang dikandung Jenny adalah darah dagingnya. Karena sejujurnya Frans tahu tingkat kesetiaan Jenny terhadapnya yang tak bisa diragukan lagi, itu artinya bisa jadi anak yang dikandung Jenny adalah anak Frans.
Adapun Frans menuduh Jenny berselingkuh itu hanya siasatnya saja, untuk menghindar dari kesalahannya sendiri terhadap Jenny.
Frans masih mondar-mandir di depan pintu kamar bersalin, degub jantungnya tak menentu akibat memikirkan keselamatan mantan istrinya.
"Apa itu anak kita Jenn?" gumam Frans sambil menggigit jari telunjuknya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Sekitar setengah jam menunggu, tiba-tiba terdengar tangisan bayi yang begitu kencang, menghentakkan pandangan Frans yang menyelinap dibalik kaca kecil di tengah pintu bagian atas.
Ingin sekali Frans berada di sana untuk menguatkan Jenny, tapi perannya sudah tergantikan oleh William, dan itu sukses membuat hati Frans sesak melihat perlakuan William terhadap Jenny.
Keadaan justru berbalik, kalau dulu Jenny melihat Frans bersanding dengan Alea menyaksikan kelahiran Poppy, kini Frans yang melihat Jenny melahirkan ditemani oleh William.
"Selamat ya Pak William, bayinya laki-laki. Sehat pula, walaupun lahir prematur tapi ini termasuk bayi yang sehat."
Mendengar ucapan selamat dari salah satu perawat, membuat hati Frans seperti tertusuk pisau tajam. Harusnya Frans yang ada di sana, tapi kenyataannya William yang bersanding dengan Jenny.
Telah lama Frans mendamba memiliki anak laki-laki, sebagai penerus bisnisnya kelak. Kini Jenny justru melahirkan bayi laki-laki yang mungil menggemaskan, bayi itu terlahir dari rahim Jenny, rahim wanita yang dulu sangat Frans cintai, rahim dari wanita baik baik, tentunya akan menghasilkan keturunan yang baik pula.
Frans mengepalkan tangannya meninju tembok di samping pintu dengan sedikit isak tangis, menyesali semua yang telah dia lewatkan bersama Jenny.
Semua kenangan manis bersama Jenny banyak tergambar dalam ingatan Frans. Mulai dari Jenny yang selalu bersikap manja kepada Frans, tapi kadang juga mampu menjadi seperti ibu atau kakak untuk Frans. Di kala Frans merasakan penat dan lelah, Jenny selalu ada untuk menenangkan. Berbeda dengan Alea yang semakin hari semakin banyak menuntut segala bentuk perhatian Frans.
"Tak seharusnya aku melepasmu Jenn." ucap Frans lirih dengan ribuan sesal dibalik pintu ruang bersalin.
••••