Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 48 - Kecewa



Malam ini adalah malam yang sangat melelahkan bagi Jenny setelah seharian waktunya tersita oleh aktivitas kerja. Belum lagi Cleo yang super rewel hari ini, semakin menguras energi Jenny. Malam ini Cleo sulit sekali untuk tidur lebih awal, mulutnya selalu memanggil-manggil kata papah.  Tentunya Cleo sangat merindukan Arjuna karena hari ini Arjuna tidak datang menemuinya.


Ada yang aneh menurut Jenny akan sikap Arjuna hari ini. Arjuna tidak intens menghubungi Jenny seperti hari-hari biasanya. Arjuna juga tidak pernah absen ke rumah Jenny untuk menemui putranya, tapi hari ini Arjuna tidak datang. Padahal Jenny dan Cleo sudah menunggu kedatangannya saat pulang kantor.


Apa mungkin Arjuna terlalu sibuk di kantor? Hingga tidak ada waktu untuk memberi kabar pada Jenny. Atau sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada Arjuna?


Pikiran Jenny semakin tak menentu, menerka-nerka alasan Arjuna yang menghilang seharian ini. Ingin sekali Jenny menelpon Arjuna, tapi niatnya dia urungkan. Jenny takut kalau Arjuna masih sibuk dengan urusan kantor, mengingat Arjuna yang sering bekerja paruh waktu jika menemukan kendala perihal bisnisnya.


Akhirnya Jenny memutuskan mengirimkan pesan whatsapp untuk Arjuna, setelah dilihatnya Cleo yang sudah tertidur pulas di samping Jenny.


:: Arjuna ::


Arjunaku, semoga kamu baik-baik saja disana.


Cleo selalu memanggil namamu, merindukanmu.


Sampai aku bingung mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan jagoan kecil kamu.


10:05 pm


Pesan whatsapp yang Jenny kirimkan pada Arjuna tak kunjung mendapatkan balasan. Lelah menunggu balasan pesan Arjuna membuat Jenny merasakan kantuk yang tak terkira. Akhirnya Jenny ikut terbawa tidur bersama putra tercintanya, terbawa oleh alam mimpi yang akan sedikit meringankan lelah di tubuhnya.


Biarlah hari ini Jenny merasakan kecewa, berharap besok pagi keadaan akan lebih baik seperti kemarin-kemarin. Sebenarnya bukan hanya Cleo saja yang merindukan Arjuna, hati kecil Jenny pun merindukan calon suaminya. Biarlah rasa rindu itu Jenny simpan bersama mimpi dan lelahnya di penghujung malam.


•••


Sekitar pukul sepuluh malam Arjuna baru saja pulang dari kantor. Ada yang berbeda dari kepulangan Arjuna malam ini. Arjuna tidak pulang ke rumah Verlita, tidak pula menemui Clarisa, dia justru pulang ke apartemen mewah miliknya.


Setiap ada masalah yang membebani pikirannya, Arjuna tidak akan pulang ke rumah mamahnya. Dia akan mengurung dirinya di apartemen, hanya untuk menenangkan diri.


Pria tampan bermata hitam pekat itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa, tangannya melonggarkan dasi warna dongker yang dia kenakan, lalu menggulung lengan kemejanya sampai siku.


Arjuna menyandarkan tubuhnya di sofa, memejamkan matanya sesaat. Kisah hidup yang pernah dia lalui bersama Claudia kini muncul kembali. Memory itu seperti diputar kembali, mulai saat pertemuan pertamanya dengan Claudia, sampai Claudia direnggut oleh maut. Semuanya masih tergambar jelas dalam ingatan Arjuna.


Janji yang Arjuna ucapkan pada almarhum Claudia semakin menghantui pikirannya.


"Kenapa takdir kita harus seperti ini Cla?"


Bisik Arjuna yang masih memejamkan matanya.


Bayangan Claudia kini pergi berganti menjadi sosok Jenny dalam pikiran Arjuna. Kemudian Arjuna bangkit dari posisi duduknya yang bersandar di sofa, meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya.


Arjuna membuka layar ponsel, ada beberapa notifikasi pesan yang belum terbaca. Pesan di ponsel Arjuna hampir semuanya membahas urusan kantor, mulai dari group whatsapp sampai beberapa relasi bisnis. Namun ada satu nama yang menggelitik hati Arjuna, saat dilihatnya nama Jenny yang mengirimkan pesan yang belum dia baca.


Jemari Arjuna langsung tertuju pada nama Jenny, tak ingin mempedulikan pesan lainnya.


Sesaat Arjuna termenung setelah membaca isi pesan dari Jenny, hati kecil Arjuna pun sebenarnya merindukan Cleo dan Jenny. Namun keyakinan itu seperti runtuh dari benak Arjuna, nama Claudia yang justru semakin berperan dalam pikirannya.


"Maafkan papah nak."


Hanya itu yang terucap dari bibir Arjuna sambil memijat ujung matanya yang menahan kesedihan dan keraguan.


•••


Keesokan harinya Jenny sudah beraktivitas seperti biasa, walau hatinya masih bertanya-tanya akan Arjuna yang menghilang tanpa kabar. Bahkan pesan Jenny semalam pun tidak mendapatkan balasan. Jenny sudah mencoba menghubungi Arjuna, sayangnya hanya terdengar nada sibuk dari operator.


Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Arjuna?


Batin Jenny bertanya-tanya.


Jenny tidak ingin larut dalam kisah cinta yang rumit, dia memutuskan untuk kembali bekerja, karena hari ini adalah hari yang sibuk untuk Jenny untuk mencari beberapa suplier catering dan souvenir untuk kliennya.


"Mau kemana Jenn?"


Pertanyaan William menghentikan langkah Jenny yang sudah menenteng tas tangan hitam.


"Biasa pak William, saya mau survey beberapa catering khas Yogyakarta untuk klien kita. Sekalian mau mencari beberapa sampling souvenirnya juga."


William tersenyum hangat mendengar penjelasan Jenny. Menurut William harusnya Jenny sibuk mengurus pesta pernikahannya sendiri, tapi dia justru sibuk dengan pesta pernikahan klien.


Jenny sedikit menggoda William dengan panggilannya, berusaha memecahkan kecanggungan diantara mereka.


"Ayo! Aku temenin."


William tanpa ragu menarik lengan Jenny penuh semangat. Ini adalah kesempatan terakhir William untuk bisa bersama Jenny, sebelum Jenny sah menjadi milik pria lain.


•••


Hari ini Jenny pulang sedikit terlambat dari biasanya, dia terlalu bersemangat mencari pernak-pernik souvenir. Apalagi Jenny ditemani oleh William, pria itu seperti berusaha memperlambat waktu agar bisa berlama-lama dengan Jenny.


Baru saja Jenny membuka pintu utama, dia dikejutkan oleh pemandangan antara anak dan ayah yang sedang bercengkrama melepas rindu. Arjuna datang ke rumah Jenny untuk menemui putranya yang kini nyaman berada di pangkuan Arjuna.


"Ma ma ma."


Panggil Cleo saat melihat mamahnya yang masih berdiri di pintu dengan tatapan kosong ke arah Arjuna.


Jenny segera meletakkan tasnya di meja ruang tamu dan meraih Cleo dari pangkuan Arjuna.


"Anak mamah mmuach."


Jenny menciumi pipi putranya, melepaskan kerinduannya, tak menghiraukan keberadaan Arjuna.


Batin Jenny merasa seperti tak dihargai oleh Arjuna, merasa diabaikan oleh calon suaminya. Apalagi saat Cleo memanggil-manggil kata papah rasanya sangat menyesakkan hati Jenny.


"Dari mana saja kamu Jenn?"


Kini Arjuna yang buka suara, tak biasanya Jenny pulang terlambat tanpa memberikan kabar pada Arjuna.


"Biasa urusan pekerjaan."


Jawab Jenny seperlunya, tanpa menatap ke arah Arjuna. Jenny masih sibuk menepuk-nepuk punggung putranya yang mulai mengantuk dalam gendongan Jenny.


Arjuna hanya diam, tak ingin menimpali ucapan Jenny lagi.


Jenny masih tak menghiraukan Arjuna, dia pergi ke kamar membawa Cleo yang sudah mulai mengantuk.


Sekitar setengah jam Jenny merebahkan tubuhnya di kamar, menemani Cleo sampai tertidur pulas, kini Jenny melangkah menuju dapur. Jenny sedikit kehausan, bergegas mengambil air dingin di dalam kulkas.


"Dari mana saja kamu Jenn?"


Baru saja Jenny meneguk air minum, Arjuna kembali datang dengan pertanyaan yang sama. Jenny pikir Arjuna sudah pergi dari rumahnya.


"Bukannya aku sudah bilang, aku ada urusan pekerjaan."


Jenny masih memberikan jawaban yang sama.


"Urusan pekerjaan dengan pria lain?"


Akhirnya pertanyaan itu meluncur dari bibir Arjuna. Padahal Arjuna sudah dari tadi ingin melepaskan kalimat itu. Hanya saja kehadiran Cleo yang membuat Arjuna mengurungkannya kembali.


Arjuna mengetahui kalau Jenny pergi bersama William. Ada yang sengaja mengirimkan foto keakraban mereka berdua pada Arjuna, saat Jenny dan William istirahat untuk makan siang bersama.


"Terserah kamu saja Arjuna, mau mengasumsikannya seperti apa? Yang jelas aku pergi dengan William ada perihal pekerjaan yang aku urus bersama. Maaf kalau aku tidak memberimu kabar. Bukankah dari kemarin kamu pun pergi tanpa kabar?"


Arjuna hanya diam tak mengatakan sepatah katapun, lalu bergegas pergi dari hadapan Jenny.


Andai Arjuna tahu kalau sebenarnya hati Jenny pun merasakan sesak tak terkira setelah menentang pertanyaan Arjuna barusan.


Jenny hanya sedang berusaha kuat di hadapan Arjuna. Kalaupun pernikahan mereka akan dibatalkan, Jenny akan siap menerima semua itu. Hati Jenny sudah lelah untuk disakiti lagi dan lagi.


••••


Jika suratan takdirku hanya untuk tersakiti


Setidaknya takkan ku biarkan celah itu kembali.


Miss Viona~