Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 44 - Hanya masa lalu



Mengapa harus bertemu kembali?


Batin Jenny tak hentinya bertanya demikian. Pria yang tidak pernah ingin Jenny temui, kini berada tepat di hadapannya. Penampilan Frans sudah tidak sekacau dulu, hanya saja tubuhnya sedikit kurus jika dibandingkan saat dulu masih bersama Jenny.


"Apa kabarmu Jenny?"


Tanya Frans yang masih terperangah akan kecantikan Jenny. Di mata Frans Jenny yang sekarang jauh lebih cantik dibandingkan saat dulu masih bersamanya.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja."


Jawab Jenny dengan memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Frans lagi.


Frans merasa canggung di hadapan Jenny, namun batinnya tetap ingin menikmati pesona Jenny, masih berusaha untuk lebih dekat dengan Jenny. Bagaimanapun mereka pernah bersama, desiran cinta itu masih terasa diantara mereka.


"Aku merindukanmu Jenn."


Bisik Frans di telinga Jenny sesaat.


Baru saja jemari Frans hendak meraih jemari milik Jenny, tiba-tiba pria tampan langsung datang mendekap bahu Jenny dari belakang, mencium pelipis bagian kanan Jenny. Sontak Frans pun terkejut melihat mantan istrinya mendapat perlakuan seperti itu dari pria lain.


"Maaf sayang aku sedikit terlambat menjemputmu."


Arjuna datang menjemput Jenny. Bagi Jenny kedatangan Arjuna sangatlah tepat, setidaknya dia yang akan menyelamatkannya dari kehadiran Frans.


"Kamu datang tepat waktu sayang."


Jenny sengaja menekan kata 'sayang' di hadapan Frans.


"Hey Frans sedang apa disini?"


Ternyata Arjuna mengenali Frans. Batin Jenny semakin berkecamuk akan situasi ini. Jenny belum pernah bercerita akan detail masa lalunya kepada Arjuna, karena Arjuna pun tidak pernah menanyakan orang-orang di masa lalu Jenny.


"Aku datang ke pesta pengantin teman istriku Pak Arjuna."


Semakin rumit saja rupanya hubungan diantara mereka berdua.


Kenapa Frans memanggil Arjuna dengan sebutan Pak?


Pertanyaan itu muncul di benak Jenny.


"Kebetulan sekali kita bertemu disini. Kenalin Frans, ini Jenny calon istriku."


Hati Frans seperti tertusuk duri tajam mendengar pengakuan Arjuna, menyebutkan nama Jenny sebagai calon istrinya. Frans sudah lama mengenal Arjuna di dunia bisnis, bahkan perusahaan Arjuna sangat berperan besar perihal investasi saham, untuk menyokong kontribusi produk perusahaan milik Frans.


Frans mengenal Arjuna bukan hanya dalam bidang bisnis saja, Frans juga sudah lama mengetahui kalau Arjuna seorang duda yang ditinggal mati oleh istrinya. Sekarang Arjuna dengan bangga memeluk Jenny, bahkan mencium Jenny di hadapannya.


Apakah sakit yang kamu rasakan dulu sesakit ini Jenn?


Batin Frans bertanya pada dirinya sendiri. Walau kenyataannya rasa sakit yang dirasakan Jenny dahulu,  lebih dari yang Frans rasakan saat ini.


"Sejak kapan bapak mengenal Jenny?"


Ternyata Frans memulai permainan sandiwaranya, berusaha mencari informasi tentang hubungan mereka sejak awal dimulai.


"Kami bertemu sudah lama Frans. Oh iya, kita sedang tidak berada dalam forum bisnis, cukup panggil aku Arjuna saja."


Arjuna yang ingin membawa Frans dalam suasana yang santai meminta untuk tidak memanggilnya 'Pak Arjuna'. Ketenangan Arjuna sangat berbanding terbalik dengan suasana hati Jenny, ingin rasanya Jenny segera pergi dari hadapan Frans, tapi lagi-lagi Arjuna justru ingin berlama-lama dengan Frans.


"Baiklah, selamat Arjuna sudah menemukan wanita secantik Jenny Florencia."


Arjuna tertegun sesaat, darimana Frans tahu nama lengkap Jenny? Lalu Arjuna memperhatikan raut wajah Jenny yang nampak gelisah.


"Sayang, sebaiknya kita segera pulang."


Hati Jenny sedikit lega, akhirnya Arjuna mengajaknya pergi dari hadapan Frans. Jenny hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Frans, kita duluan ya."


Ujar Juna sambil memeluk bahu Jenny, sengaja memperlihatkan kemesraannya di hadapan Frans.


•••


Mobil Arjuna melaju begitu kencang. Kemana Arjuna akan membawa Jenny pergi? Jenny pun tidak tahu, yang jelas ini bukan arah menuju rumah Jenny. Hati Jenny menyiratkan banyak tanya untuk Arjuna, raut wajahnya sangat berbeda saat masih berada di lokasi pesta. Wajah Arjuna terlihat menahan emosi. Sejak berada di mobil Arjuna hanya mendiamkan Jenny, tidak berkata sepatah katapun.


Sekitar setengah jam perjalanan mobil Arjuna sudah terparkir di halaman caffe. Arjuna mengaitkan jemarinya dengan jemari Jenny, membawa Jenny ke area lantai tiga caffe tersebut.


Arjuna sengaja memilih suasana caffe yang sepi, dan juga terbuka. Sunset senja dapat mereka nikmati dari lantai tiga caffe tersebut. Bias layung matahari senja sangat indah, netra Jenny pun terperangah akan keindahan suasana di caffe ini. Jenny yakin ini adalah tempat favorit Arjuna.


"Siapa Frans?"


Pertanyaan Arjuna membuyarkan lamunan Jenny. Walau sebenarnya Arjuna sudah mengetahui masa lalu Jenny bersama Frans, tetap saja Arjuna ingin mendengar pengakuan dari mulut Jenny langsung.


"Jawab Jenn."


Arjuna sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari Jenny. Andai saja Frans tidak menyebutkan nama lengkap Jenny dan mendekati Jenny, mungkin Arjuna tidak akan semarah ini.


"My ex husband."


Hanya itu jawaban Jenny di hadapan Arjuna. Wajah Jenny kembali berpaling menikmati sunset, berusaha menghindar dari tatapan tajam Arjuna.


Arjuna mengacak rambutnya kasar sesaat. Batin Arjuna tak pernah mengira akan sesakit ini melihat kekasihnya bertemu dengan masa lalu.


"Apa kamu sengaja sudah mengatur janji untuk bertemu di pesta pernikahan clien kamu Jenn?"


Berbagai prasangka buruk tergambar dalam benak Arjuna.


"Kotor sekali cara berpikirmu Juna."


Jenny mulai tersulut emosi akan pertanyaan Arjuna.


"Aku melihat Frans mendekatimu tadi, matanya masih berbinar saat melihatmu, perasaan cinta itu masih ada untukmu Jenn. Aku tadi sengaja tidak langsung menghampirimu Jenn, ternyata benar saja Frans masih ada hati padamu."


Rupanya Arjuna sudah menyaksikan aksi Frans yang berusaha mendekati Jenny.


"Sudahlah Jun. Masa lalu hanya tinggal masa lalu, tak perlu lagi kamu ungkit. Lagi pula Frans sudah beristri, apa lagi yang akan kamu takutkan?"


Arjuna menghela nafasnya dalam, memalingkan wajahnya, berusaha mencari solusi dari rasa cemburu yang menderanya saat ini.


"Baiklah Jenn. Kalau dirasa Frans hanya tinggal masa lalu, besok malam aku akan datang melamarmu. Membawa mamahku ke rumah ibumu."


Jenny terkejut mendengar ucapan Arjuna. Mengapa Arjuna mengambil keputusan secepat ini.


"Kenapa secepat ini?"


Tanya Jenny yang masih tak percaya akan niat Arjuna.


"Semakin cepat semakin lebih baik."


Hanya itu jawaban Arjuna. Jenny meraih jemari Arjuna di atas meja caffe, lalu menggenggamnya erat.


"Jangan mengambil keputusan di saat emosi seperti ini."


Ucap Jenny lirih, berusaha melunakkan hati Arjuna yang sedang terbakar api cemburu.


"Aku takut kehilanganmu Jenn. Aku tidak sanggup menahan diriku lebih lama lagi. Aku yakin seyakin-yakinnya dengan posisimu yang belum resmi menjadi istriku, Frans akan berusaha mendapatkanmu kembali."


Akhirnya Jenny mengerti dengan apa yang ditakutkan oleh Arjuna. Betapa besarnya cinta Arjuna untuk Jenny.


"Baiklah, besok malam aku dan ibu akan menunggu kedatanganmu."


Ucap Jenny penuh keyakinan.


Sudah saatnya bagi Jenny untuk segera mengakhiri masa kesendiriannya. Jenny membutuhkan sosok pelindung seperti Arjuna, agar Frans tidak lagi bergerak bebas mengganggu kehidupan Jenny.


••••