Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 41 - Dress navy



Arjuna bersama Jenny memasuki rumah milik Verlita. Kedatangan mereka disambut oleh bi Minah, asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama puluhan tahun di rumah nyonya Verlita.


"Aduh tuan muda sudah datang."


Sapa bi Minah menghampiri majikannya, walau sebenarnya tujuan bi Minah bukan hanya untuk sekedar menyapa saja. Bi Minah lebih kepada rasa penasarannya yang ingin mengetahui rupa wanita yang akan menjadi pendamping hidup Arjuna.


"Mamah mana bi?"


Tanya Arjuna dengan kedua bola mata yang mencari Verlita, setelah dirinya sampai di ruang tengah.


"Nyonya sedang menyiapkan jamuan buat neng Jenny di belakang."


Mendengar jawaban bi Minah tiba-tiba batin Jenny terlonjak.


"Bi Minah kenalin ini Jenny, calon istri Arjuna."


Arjuna mendekap bahu Jenny dengan posesif, seperti menyampaikan pesan pada bi Minah kalau Jenny adalah wanita yang benar-benar Juna cintai.


"Cantik sekali neng Jenny. Pantas saja tuan sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikahi neng Jenny."


Bi Minah tidak malu-malu menyampaikan niatan Arjuna di hadapan Jenny. Sebenarnya bukan Arjuna yang bercerita pada bi Minah, tapi Verlita lah yang menceritakan semuanya pada bi Minah. Verlita sudah menganggap bi Minah seperti keluarganya sendiri, sehingga tidak sungkan membagi cerita pada asisten rumah tangganya.


"Hmm, mamah sudah cerita apa saja sama bibi?"


Arjuna sudah menduga, pasti dari mulut mamahnya kalau bi Minah tahu semuanya.


"Hanya sedikit tuan."


Bi Minah terkekeh akan pengakuannya.


"Kenalin bi, namaku Jenny."


Jenny menyodorkan tangan kanannya kepada bi Minah, kemudian dengan sopan menjabat tangan bi Minah sebagai salam perkenalan di pertemuan pertama mereka.


"Ah iya neng Jenny, bibi sudah tahu nama neng Jenny. Maaf yah kalau bibi lancang."


"Tidak apa-apa bi. Berarti nama Jenny hits di rumah ini."


Jenny berusaha memecahkan situasi canggung dengan sedikit menggoda Arjuna. Tidak mungkin orang-orang di rumahnya mengetahui nama Jenny kalau Arjuna tidak pernah menceritakannya.


"Calon menantu mamah sudah datang rupanya."


Suara itu datang dari ruang belakang. Jenny menoleh ke sumber suara, didapatinya seorang wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih, disanggul rapi, mengenakan blus berwarna navy. Wajah wanita itu mirip sekali dengan Arjuna, mulai dari bentuk dahi dan juga hidung sangat persis dengan putranya.


"Selamat malam tante."


Jenny menyapa Verlita. Walau hatinya merasa gugup, Jenny memberanikan diri untuk menyapa, kemudian menjabat tangan Verlita.


"Malam juga Jenny."


Verlita menatap Jenny, berusaha memperhatikan rupa wanita pilihan putranya. Verlita memperhatikan kecantikan yang dimiliki Jenny, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kok kita pakai warna bajunya sama ya?"


Ujar mamah Arjuna, berusaha mengakrabkan dirinya dengan Jenny.


"Arjuna yang meminta Jenny pakai dress ini tante."


Jenny belum berani memanggil Verlita dengan sebutan mamah.


"Hmmm, anak mamah sudah membocorkan warna favorit mamah sama kamu ya Jenn."


Jenny hanya membalas pertanyaan Verlita dengan senyuman. Kemudian Verlita mengajak Jenny dan juga Arjuna menuju ruang makan.


Verlita sudah menyiapkan makanan yang cukup banyak untuk makan malam bersama. Putranya sudah memberitahukan kalau Jenny mempunyai selera makan yang tinggi, walau tubuhnya langsing, porsi makannya banyak.


"Ayo Jenn makan yang banyak, jangan sungkan. Arjuna bilang kamu itu makannya banyak."


Tiba-tiba Jenny membulatkan matanya pada Arjuna. Rasanya sangat memalukan bagi Jenny.


"Sudah tidak usah malu, justru mamah senang kalau ada anak perempuan yang tidak mempermasalahkan tubuhnya dengan berbagai program diet. Jangan seperti Serlita, adik Arjuna. Sama makanan saja pilih-pilih. Bilang kadar lemaknya tinggi lah, gendut lah, repot deh pokoknya."


Arjuna dan Jenny tertawa mendengar ocehan Verlita yang muak akan sikap anak perempuannya. Andai saja Serlita ada di rumah pasti sudah mengomel, membanggakan keindahan tubuhnya yang benar-benar dijaga dengan baik.


"Iya tante. Pasti Jenny habiskan."


Jenny terkekeh sendiri.


"Panggil mamah, jangan tante."


Protes Verlita pada calon menantunya.


"Oh iya mah, Clarisa kemana?"


Arjuna baru sadar kalau putrinya tidak ada, biasanya Clarisa yang paling ingin tahu kalau ada yang bertamu ke rumah neneknya.


"Sore tadi Alya datang jemput Clarisa, dia bilang ingin membawa Clarisa beli mainan baru."


Arjuna menghela nafasnya dalam, dia tidak suka akan sikap neneknya yang sering memanjakan Clarisa. Hampir dua kali dalam satu minggu Clarisa dibawa oleh Alya hanya untuk membeli mainan, padahal mainan Clarisa sudah bertumpuk begitu banyak di gudang.


"Mainan lagi, mainan lagi. Mamah tidak coba melarang mamah Alya sih."


Arjuna protes pada Verlita seperti tidak mengizinkan putrinya dibawa pergi.


"Mamah bingung Jun, kalau mamah larang nanti dikira mamah yang terlalu berkuasa terhadap Clarisa."


Penjelasan Verlita ada benarnya juga, tapi tetap saja hati Arjuna tidak suka kalau mertuanya terlalu memanjakan putrinya.


"Sudahlah, mending kita mulai makan."


•••


"Jenny, mamah ingin bicara denganmu."


Ucap Verlita setelah makan malam selesai.


Verlita mengajak Jenny menuju ruang TV, lalu duduk di sofa ruang tersebut. Banyak hal yang ingin Verlita bicarakan dengan Jenny, Verlita sudah meminta Arjuna untuk memberikan ruang diantara mereka.


"Apa kamu benar-benar mencintai putra mamah Jenn?"


Verlita menggenggam jemari Jenny erat.


"Jenny tidak sanggup menjanjikan apapun pada mamah ataupun Arjuna."


Jenny seolah mengerti maksud Verlita yang akan meminta Jenny berjanji untuk menemani Arjuna seumur hidupnya.


"Kenapa Jenny?"


Verlita pun seketika terlonjak mendengar ucapan Jenny.


"Jenny hanya takut kalau suatu hari nanti cinta Arjuna berubah. Tentunya mamah sudah mengetahui kehidupan cinta Jenny yang rumit di masa lalu."


Hati Verlita seperti ikut merasakan sesak yang Jenny rasakan, sangat wajar jika Jenny tak mampu berharap banyak pada Arjuna.


"Iya sayang, mamah bisa mengerti. Tapi mamah harap apapun ujian rumah tangga kalian nanti, jangan sampai terucap kata pisah diantara kalian."


Verlita menuturkan harapannya pada rumah tangga Arjuna bersama Jenny kelak.


"Iya mah, semoga."


Jenny mengiyakan harapan calon ibu mertuanya.


"Jenn, maafkan mamah yang tidak pernah tahu kehadiran Cleo. Maafkan Arjuna juga, tak seharusnya kamu memikul beban sendirian. Harusnya Arjuna bertanggung jawab atas perbuatannya padamu Jenn."


Betapa bijaknya Verlita di hadapan Jenny, sikap yang sangat berbeda dengan ibu mertuanya dulu. Jenny sangat bersyukur bisa mengenal Arjuna dan masuk di kehidupan Arjuna.


"Tidak apa-apa mah, semua itu Jenny yang meminta pada Juna untuk melupakan semua yang pernah terjadi diantara kami. Bahkan saat masa hamil Cleo, Jenny pun masih ragu, masih tak percaya kalau benih Arjuna lah yang akan tumbuh di rahim Jenny."


Penuturan Jenny seperti memutar memory yang telah lama Jenny lupakan.


"Apa kamu masih mencintai mantan suamimu Jenn?"


Tiba-tiba pertanyaan Verlita terasa menusuk telinga Jenny.


"Cinta itu sudah lama hilang, sejak Jenny tahu perbuatannya di belakang Jenny."


Ungkapan Jenny barusan membuat hati Verlita lega, setidaknya Jenny sudah tidak dibayang-bayangi masa lalu.


"Syukurlah nak, mamah tenang mendengarnya. Mamah mohon jaga Arjuna baik-baik. Terimalah kehadiran Clarisa diantara kalian, anggap Clarisa sama seperti rasa sayangmu terhadap Cleo."


Verlita sedikit meragukan kasih sayang Jenny terhadap cucu pertamanya.


"Pasti mah."


Jawab Jenny singkat, kemudian memeluk Verlita dengan perasaan haru. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau mamah Arjuna akan sehangat ini terhadap Jenny.


•••


"Ante balbie...!"


Seru Clarisa sambil berlari menuju keberadaan Jenny yang masih duduk bersama nenek Clarisa. Anak kecil itu langsung menghambur ke dalam pangkuan Jenny dengan begitu manja.


"Clarisa dari mana saja? Ante barbie nungguin Clarisa sama omah."


Jenny mengelus puncak kepala Clarisa lembut.


"Abis jalan-jalan sama nenek."


Jawab Clarisa. Sementara kedua bola mata Jenny mencari sosok nenek Alya, namun tidak Jenny temukan.


"Mana neneknya? Tidak ada."


Ujar Jenny memprotes kalimat Clarisa.


"Masih di depan ante, tapi mau kesini kok. Neneknya sama ante Meymey juga."


Clarisa yang diberitahu bi Minah kalau di dalam ada tante barbie, langsung antusias melepaskan gandengan tangan tante Meymey. Tapi tunggu dulu, batin Jenny bertanya-tanya siapa tante Meymey yang Clarisa sebutkan?


•••


Arjuna turun dari lantai dua, penampilannya nampak segar berbalut kaos putih dan celana jeans navy selutut. Derap langkah Arjuna begitu cepat menuju ruang TV untuk bergabung bersama Jenny dan mamahnya.


"Anak papih sudah pulang?"


Arjuna menyentuh wajah Clarisa yang masih bergelayut manja di pangkuan Jenny. Bukan hanya Clarisa yang ingin bermanja di pundak Jenny, tapi juga Arjuna yang begitu posesif memeluk bahu Jenny.


"Ante barbie itu milik papih."


Arjuna tidak ingin kalah dengan putrinya, bahkan Arjuna menggoda Clarisa dengan menjulurkan lidahnya.


Verlita yang melihat interaksi mereka bertiga sangat merasa bahagia, mereka tampak seperti satu keluarga yang utuh. Telah lama Verlita memimpikan semua ini.


"Ah ada ante Meymey Pih."


Clarisa menunjuk ke arah belakang Jenny dan Arjuna. Sementara posisi mereka masih erat dengan Jenny. Apalagi Arjuna dengan manjanya menyandarkan kepala di bahu Jenny. Kebiasaan Arjuna yang baru dia lakukan lagi, selain kepada almarhum Claudia.


••••