
Kemuning langit senja menghiasi area parkir Cla Design`, nampak wanita cantik bertubuh ramping tengah berjalan tergesa-gesa menuju mobil.
Wanita itu terlihat anggun mengenakan dress warna hijau oliv dengan potongan lengan pendek, dan sedikit di atas lutut.
Sementara kaki jenjangnya berbalut heels bahan suede yang senada dengan warna dress.
Rupanya Jenny tengah keluar dari butik, ia sudah bersiap untuk memenuhi undangan fashion show dari Franda Imelda.
Kebetulan acaranya akan digelar sekitar pukul tujuh malam, sehingga Jenny memutuskan untuk berangkat lebih awal, mengingat jalanan yang macet, dan Jenny tidak ingin terlambat datang ke acara tersebut.
Di waktu bersamaan tiba-tiba saja Frans melewati jalan depan butik Cla Design`, kedua bola matanya menangkap bayangan Jenny dibalik kemudi, sehingga membuat Frans sedikit menurunkan laju mobil.
"Jenny. . . " bisik Frans yang tiba-tiba refleks menyebut nama Jenny.
Pesona yang dimiliki Jenny masih kuat di mata Frans, masih mampu menembus lubuk hati Frans. Hanya saja, Frans sudah mampu mengakui kalau Jenny bukan miliknya lagi.
Dari kejauhan Frans melihat Jenny tengah membuka pintu mobil, dapat Frans pastikan kalau Jenny sedang terburu-buru, apalagi saat Frans mendapati bayangan Jenny yang tengah merapikan poni miringnya yang sedikit menjuntai di sekitar mata.
Rambut Jenny nampak indah walau hanya digulung dalam satu tusuk konde mawar berhias mutiara.
"Jenny, kau semakin cantik saja di pelukan Arjuna." bisik Frans lagi.
"Tapi, mau kemana?"
"Sepertinya buru-buru sekali."
Rentetan pertanyaan itu terucap dari mulut Frans, hingga akhirnya Frans memilih untuk mengikuti kepergian Jenny.
•••
Di tengah perjalanan Frans kehilangan jejak Jenny, Frans pikir dari persimpangan tiga Jenny akan mengambil arah lurus, namun nyatanya Jenny justru memilih belok kanan.
"Sudah sekitar lima belas menit dari simpang tiga, kenapa mobil Jenny masih belum terlihat?" gumam Frans dengan kedua bola mata yang masih mencari keberadaan Jenny.
"Apa mungkin Jenny memilih belok kiri?"
"Atau bisa jadi Jenny ambil kanan?"
"Tapi, kalau ambil kanan itu ke arah villa puncak."
Frans semakin menerka nerka kemana arah mobil Jenny, namun lajunya masih memilih arah lurus, berharap ia segera menemukan mobil Jenny.
•••
Sekitar satu setengah jam perjalanan, akhirnya Jenny sampai di sebuah gedung mewah bertuliskan MK.House, dari balik kemudi mata Jenny mencari tempat parkir di sekeliling gedung.
"Hotelnya mewah sekali. " puji Jenny sambil melihat detail bangunan hotel.
"Tapi, kenapa sepi begini ya?"
"Ah, coba saja dulu."
"Kan acaranya di lantai delapan. " gumam Jenny menepiskan kecurigaannya.
Akhirnya, mobil Jenny terparkir di area basement. Kini langkah Jenny menyusur ke sudut basement yang terdapat pintu lift berwarna coklat tua.
Jemari Jenny langsung menekan tombol angka delapan, mengingat acara fashion show Franda Imelda akan digelar di sana, tepatnya di aula hotel kelas satu di MK.House.
Kedua bola mata Jenny masih menelisik seluruh sudut area lantai delapan, ia merasa aneh sekali, karena sepi pengunjung.
Padahal, kabarnya Franda Imelda mengundang seratus owner butik ternama.
"Pak, maaf saya mau tanya." ucap Jenny yang sudah menghampiri bapak paruh baya yang mengenakan seragam security.
"Iya Mba, ada yang bisa dibantu?" ujar security tersebut menawarkan bantuan.
"Apa benar acara fashion show atas nama Franda Imelda akan digelar di aula ini?" tanya Jenny memastikan tempat yang ia datangi.
"Iya Mba, di sini acaranya."
"Mba tinggal masuk saja ke pintu masuk yang banyak rangkaian bunga atas nama ibu Franda Imelda." security itu menjelaskan detail tempat fashion show.
"Tapi kenapa masih sepi ya Pak?" protes Jenny yang masih belum yakin.
"Sebentar lagi tamu undangan pasti akan datang, lagipula acaranya masih setengah jam lagi jadwalnya." ucapan security itu semakin meyakinkan Jenny.
"Baiklah, terimakasih ya."
Jenny pun berlalu dari hadapan pria paruh baya itu, kini langkahnya perlahan menuju pintu masuk aula.
Pelan pelan Jenny melangkah masuk, namun tidak ada satu orangpun terlihat di sana. Kedua bola mata Jenny masih berusaha mencari orang lain di dalam aula, namun tak juga ia dapati.
"Sepertinya tidak ada acara fashion show di sini." gumam Jenny.
Tiba-tiba saja terbesit perasaan aneh dalam benak Jenny, ia berpikir kalau dirinya sedang dijebak untuk masuk ke tempat ini.
Atau jangan jangan semua ini hanya rekayasa.
Batin Jenny semakin berkecamuk, lalu Jenny langsung mengambil langkah cepat untuk berbalik arah menuju pintu masuk tadi.
Tiba-tiba langkah Jenny seketika terhenti ketika ia mendapati seseorang berdiri tegak di depan pintu dengan seutas senyuman licik untuknya.
"Mark. . . "
••••
See u guys ☺☺☺