
"Alea."
Jenny masih tak mempercayai pertemuannya dengan Alea. Kenapa harus di butik milik Arjuna? Ada hubungan apa antara Alea dengan Arjuna?
Rupanya hidup Jenny harus selalu berkelit dengan Alea. Wanita yang benar-benar Jenny benci seumur hidupnya, wanita yang telah merenggut kebahagiaannya bersama Frans.
Awalnya Alea akan membeli beberapa gaun pesta di Cla Design` butik yang sudah menjadi langganan Alea selama dua tahun terakhir ini. Alea pun tak menyangka kalau dirinya akan bertemu dengan Jenny disini. Kemudian Alea menatap Jenny dari ujung rambut sampai ujung kaki, mungkin Alea mengira kalau Jenny akan menjadi sosok gelandangan tanpa kehadiran Frans di sampingnya.
"Apa kabar Jenny?"
Alea menatap Jenny lekat, mencoba membaca raut wajah Jenny setelah bertemu dengannya. Jenny terlihat lebih santai menanggapi Alea, Jenny tidak ingin tersulut emosi saat bertatap dengan Alea.
"Kamu yang apa kabar Alea?"
Jenny merasa enggan untuk menjawab pertanyaan Alea, dia justru berbalik tanya pada wanita yang sudah kembali terlihat cantik bak model sosialita. Bagaimana tidak terlihat cantik, Alea menjadi milik Frans seutuhnya, menjadi nyonya Wicaksana seutuhnya. Pastinya uang belanja yang Frans berikan untuk Alea sama besarnya saat Jenny dapatkan dulu dari Frans.
"As you see Jenn, I'm looking very well without you."
Raut wajah Alea terlihat begitu angkuh dengan melebarkan kedua tangannya agar Jenny melihat semua produk branded yang dia kenakan. Sementara Jenny hanya tersenyum sinis menanggapi keangkuhan Alea.
"Baguslah kalau kamu baik-baik saja."
Timpal Jenny yang kemudian berusaha berlalu dari pandangan Alea, namun langkah Jenny segera dicegah oleh Alea dengan menarik salah satu lengan Jenny.
"Terimakasih Jenn, kamu sudah pergi dari kehidupan Frans. Jangan coba-coba mengambil kembali Frans dari sisiku."
Bisikan Alea penuh ancaman tepat di telinga Jenny.
"Kamu tidak perlu takut denganku Alea, yang perlu kamu takutkan hanyalah ketika Frans menemukan sekertaris baru di kantornya yang lebih muda dan lebih sexy pastinya. Sama seperti dirimu dulu merebut Frans dari sisiku."
Mendengar ucapan Jenny barusan, tiba-tiba raut wajah Alea merah padam. Tangannya sudah mengangkat ingin menghempaskan tamparan di pipi mulus milik Jenny.
"Astaga! Mba Alea apa-apaan sih?"
Tika yang kebetulan akan menemui Jenny kembali langsung terkejut setelah melihat tangan Alea yang akan menghempaskan tamparan untuk Jenny. Kalau saja Tika tidak segera datang, mungkin pipi Jenny sudah bertanda merah bekas jemari Alea.
"Wanita ini sudah kurang ajar denganku Tika."
Alea membela dirinya di hadapan Tika. Namun Tika tidak langsung mempercayainya, karena Jenny adalah wanita tuannya Arjuna. Tidak mungkin bagi Arjuna memilih wanita dengan kepribadian rendah, Tika beranggapan kalau Jenny itu setidaknya punya sikap yang sama hangatnya dengan Claudia.
"Mba Alea jangan asal bicara mba. Saya paham selera wanita pak Arjuna, tidak mungkin bos saya ini memilih wanita dengan kepribadian rendah."
Tika tanpa sadar sudah memberikan informasi pada Alea, kalau Jenny adalah milik Arjuna. Raut wajah Alea langsung berubah seperti tak percaya mendengar penjelasan Tika.
"Arjuna pemilik butik ini? Penerus kekayan keluarga Prasetya? Atau kamu ini sedang mengada-ngada Tik?"
Alea semakin penasaran akan informasi yang Tika berikan, mencecar Tika dengan beberapa pertanyaan.
"Iya mba, Pak Arjuna Prasetya pemilik butik ini."
Tika membenarkan pertanyaan Alea, sementara Jenny sibuk menerka-nerka keadaan. Dari mana Alea tahu tentang Arjuna? Sedangkan Jenny sendiri tidak tahu apapun tentang Arjuna, tidak tahu semua aset yang dimiliki Arjuna. Jenny hanya tahu tentang Arjuna hanyalah seorang duda beranak satu yang tengah kesepian mencari wanita untuk dijadikannya pendamping hidup.
"Luar biasa kamu Jenny, membuang Frans lalu bersanding dengan Arjuna. Hebat sekali rayuanmu."
Ingin rasanya Jenny menampar mulut Alea yang bicara seenaknya, tapi rasanya tidak mungkin Jenny lakukan karena Jenny bukanlah tipe wanita seanarkis itu. Bagi Jenny pertengkaran dan kekerasan hanya akan membuang waktunya saja, hanya akan merusak citra kepribadiannya.
"Hebat banget kan gue."
Jenny berceloteh dengan nada bangga, berlaga seperti membenarkan tuduhan Alea.
Jenny semakin berani membalikkan fakta, seperti tidak peduli dengan kehadiran Tika disana.
"Kurang ajar kamu Jenny."
Racau Alea menahan rasa geram terhadap Jenny. Alea kehabisan kata-kata untuk memaki Jenny lebih dalam lagi.
"Sudahlah Alea, aku sibuk tidak ada waktu untuk berlama-lama denganmu."
Ujar Jenny setelah melihat balasan whatsapp dari kliennya yang bernama Mela.
"Mba Tika, aku jadi ambil gaun yang ini."
Kini Jenny beralih topik pada Tika, menyodorkan ponsel miliknya untuk menampilkan foto gaun yang Jenny kirim kepada Mela.
"Baik mba Jenny. Tapi untuk gaunnya mau sekalian dibawa atau kita kirimkan saja ke tempat mba?"
Tika menawarkan pada Jenny.
"Mending dikirim saja mba, soalnya aku ingin cepat-cepat pergi dari sini. Banyak kerjaan yang harus aku selesaikan."
Mata Jenny melirik tajam Alea saat mengucap di bagian kalimat ingin cepat cepat pergi dari sini.
"Baik mba Jenny, nanti kita siap kirimkan ke alamat kantor mba."
"Oke, terimakasih mba Tika."
Kemudian Jenny melangkahkan kakinya setelah mengucapkan terimakasih pada Tika. Jenny melewati Alea yang masih berdiri di belakang Tika.
"Tunggu Jenny, kita belum selesai."
Bisik Alea tepat di telinga Jenny sambil menahan bahu Jenny. Batin Alea masih menyimpan segudang amarah untuk Jenny.
"Memang belum selesai Alea, karena aku juga belum tahu siapa sosok ayah Poppy yang sebenarnya?"
Mendengar kalimat yang diucapkan Jenny barusan membuat hati Alea seperti tertusuk. Raut wajahnya berubah pucat bercampur keringat dingin. Hati Alea bertanya-tanya, dari mana Jenny tahu kalau Poppy bukanlah anak Frans?
"Kenapa diam Alea?"
Jenny memicingkan pandangannya terhadap Alea. Wanita itu sudah berubah menjadi buas dan lebih berani di hadapan Alea. Rupanya Jenny sudah tidak senaif dulu.
"Atas dasar apa kamu menuduhku seperti itu?"
Alea mulai berkelit, tetapi Jenny hanya menatap Alea begitu lekat dengan melipatkan kedua tangan di depan dadanya.
"Karena aku sudah mencoba dengan pria lain. Kalau aku tidak mandul, berarti Frans lah yang mandul. Jangan atas namakan Poppy untuk mengikat Frans, untuk menghancurkan rumah tanggaku dengan Frans."
Tutur Jenny begitu santai, namun arti dari kalimatnya begitu menusuk hati Alea.
Alea yang awalnya datang ke butik untuk mencari gaun pesta yang akan dia kenakan saat acara ulang tahun pernikahannya dengan Frans, kini justru berbalik arah. Tidak ingin mendengar lagi kalimat yang Jenny ucapkan. Bahkan Alea terlihat ketakutan di hadapan Jenny.
Jenny masih tersenyum penuh kemenangan menatap kepergian Alea, walau sebenarnya hati Jenny tidak tega menuturkan ancaman yang luar biasa menakutkan untuk Alea.
••••
Jangan lupa vote yah guys 😉