
Klik like sebelum baca ya. . .
😅
Sekitar pukul dua belas malam Frans pulang dari club malam. Tubuhnya sudah sangat lunglai, bahkan langkah kaki Frans pun tak mampu berjalan tegak. Tidak sekali dua kali tubuh Frans terhuyung, tangannya meraba-raba gerbang dan tembok di sekitar rumahnya.
Jemari Frans mencari-cari bell rumah yang terletak di dekat pintu. Frans berharap bi Irah akan segera datang membukakan pintu rumahnya.
"Ya ampun tuan muda!"
Seru bi Irah setelah melihat majikannya terkulai lemas di lantai depan pintu masuk. Seketika rasa kantuk bi Irah hilang saat menyaksikan Frans yang sudah nampak lusuh tak bertenaga sedikitpun.
"Panggil Jenny bi, suruh dia datang menemuiku bi."
Frans masih meracau tidak karuan dengan wajah tertunduk di hadapan bi Irah.
Entah kenapa hati bi Irah merasakan nyeri tak terkira saat mendapati majikannya dalam kondisi seperti ini. Ada sesal dan luka mendalam untuk Frans. Bagi bi Irah tuan mudanya itu sudah dia anggap seperti putranya sendiri. Sejak kecil Frans sudah diasuh oleh bi Irah sampai dia tumbuh dewasa.
"Ayo tuan muda masuk dulu, sudah malam."
"Tidak mau bi! Sekarang juga panggilkan Jenny, biar dia yang membawaku masuk."
Sepertinya Frans sudah kehilangan kesadaran dirinya. Keadaan Frans yang seperti ini seakan mengingatkan bi Irah pada masa-masa Frans di usia labil. Dulu Frans sering mabuk seperti ini saat kehilangan mantan kekasihnya yang pergi entah kemana? Hingga akhirnya Jenny lah yang menjadi pengobat luka hati Frans, dan Jenny pula yang membuat Frans kembali seperti ini.
"Non Jenny sudah menunggu tuan muda di dalam."
Tidak ada pilihan lain bagi bi Irah, dia terpaksa berbohong. Berharap Frans segera beranjak masuk ke rumahnya.
"Bi Irah tidak bohong kan?"
Ujar Frans dengan sedikit derai air mata memelas.
"Tidak tuan muda."
Nyeri sekali hati bi Irah yang terpaksa membohongi tuannya. Kemudian Frans pun mulai beranjak masuk dan mencari-cari Jenny di semua ruangan. Persis saat Frans mencari Jenny setelah pulang dari kantor, saat Frans masih merajut bahtera rumah tangga bersama Jenny dulu.
Semua ruangan sudah ditelusuri oleh Frans sampai akhirnya Frans kembali terduduk di ruang kerjanya yang dulu sering dia nikmati momen coaching bersama Jenny perihal bisnis. Kini kesadaran Frans sedikit pulih.
"Ternyata aku masih belum mampu menerima kenyataan kalau kamu sudah pergi Jenn."
Isak tangis kembali membuncah dari raut wajah Frans. Sementara bi Irah masih setia mengikuti tuan muda yang sudah dia anggap seperti putranya sendiri. Bi Irah masih menatap Frans dari balik pintu ruangan, hatinya ikut merasakan pilu tak terkira.
"Sabar tuan. . . Memang sulit sekali melepas wanita sebaik non Jenny."
Ujar bi Irah yang mulai mencoba memasuki ruangan dimana Frans sedang terduduk lemas.
"Sudah tidak ada lagi kesempatan untukku memperbaiki semuanya bi. Dunia sedang mentertawakanku sekarang."
"Setidaknya biarkan non Jenny bahagia tuan. Mungkin Tuhan sudah mempercayakan si non dengan pria yang lebih tepat untuknya."
"Iya bi. Aku memang tidak pantas untuk Jenny. Terlalu banyak kesalahan yang sudah ku buat terhadap Jenny."
Nada bicara Frans mulai sedikit terdengar melemah.
"Aku ingin sendiri, lebih baik bi irah kembali istirahat."
Ujar Frans yang masih ingin menikmati lamunan dan penyesalannya. Kemudian bi Irah pun pergi meninggalkan Frans seorang diri.
Sebenarnya ada hal yang ingin bi Irah sampaikan perihal Poppy yang sudah dibawa pergi oleh Bagas. Namun melihat kondisi Frans saat ini membuat lidah bi Irah kelu untuk menyampaikannya.
Biarlah besok pagi saja bi Irah sampaikan pada tuan mudanya mengenai kepergian Poppy. Bi Irah berharap kondisi Frans sedikit lebih baik esok pagi.
•••
Kalau Frans tengah sibuk dengan penyesalannya, lain halnya dengan sepasang pengantin baru yang tengah dimabuk momen romansa.
Arjuna yang selalu gagal menikmati momen malam pertama bersama Jenny, membuatnya gusar memikirkan berbagai cara untuk bisa menikmati momen berduanya. Pria itu membawa Jenny ke apartemen miliknya di keesokan hari setelah mengucap janji suci pernikahan.
Arjuna seakan tidak ingin berlama-lama dalam suasana keramaian. Kedua anaknya sengaja Arjuna titipkan pada Verlita dan juga Linda dengan alasan honeymoon. Sama sekali tidak ingin diganggu oleh team krucil.
"Kenapa kamu membawaku kesini lagi?"
Tanya Jenny yang masih tidak mengerti akan ajakan Arjuna.
"Aku hanya ingin berdua denganmu."
Bisik Arjuna sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Jenny.
"Dulu aku hampir gila berada di apartemen ini Arjuna."
Ungkap Jenny seperti sedang mengenang masa lalunya bersama pria yang kini sudah sah menjadi pasangan hidupnya.
"Tapi kamu menikmatinya sayang. Akui saja."
Seperti biasanya Arjuna selalu menggoda wanitanya. Jenny pun tersipu malu di hadapan Arjuna. Melihat ekspresi Jenny yang nampak menggemaskan tiba-tiba jemari Arjuna langsung meraih dagu Jenny. Wajah Arjuna semakin mendekat ke arah wajah Jenny.
"Kalau dulu aku melakukannya di luar kesadaran, kini aku akan melakukannya dalam kondisi penuh dengan kesadaranku Jenn."
"Akan aku pastikan, tidak akan ada satu titik tubuhmu yang terlewat dari seranganku sayang."
••••
Cut 😆