
Sejak Arjuna datang menemui Jenny dan Cleo di rumah Jenny, kini pria itu jadi intens datang ke rumah dengan alasan ingin menemui Cleo. Padahal itu hanya akal-akalan Arjuna saja untuk dapat menemui Jenny setiap hari.
Setiap pulang dari kantor Arjuna selalu menyempatkan berkunjung ke rumah Jenny. Kebetulan letak rumah Jenny terlewati oleh jalan pulang rumah Arjuna.
"Pa pa pa."
Teriak Cleo kegirangan saat terdengar suara mobil milik Arjuna terparkir di halaman rumah Jenny. Entah kenapa putra Arjuna ini sangat mengerti kalau Arjuna adalah papah kandungnya yang akhir-akhir ini selalu Cleo rindukan kehadirannya.
Tak jarang Cleo meminta sambungan video call pada Arjuna di saat jam-jam kerja Arjuna, hanya untuk mengobati rasa rindu Cleo terhadap papahnya. Begitupun dengan Arjuna yang sama merindukan Cleo, lebih tepatnya Arjuna merindukan Jenny. Wajah Arjuna selalu bersemu merah saat menerima panggilan video dari Jenny.
Arjuna turun dari mobil kemudian langsung menyambar Cleo dalam gendongannya, sesekali menatap Jenny yang masih berdiri terpaku di pintu utama.
"Anak papah muach."
Arjuna menciumi pipi gembul Cleo yang terlihat menggemaskan, sementara Jenny hanya menatap interaksi kedua pria berbeda generasi.
"Anak papah udah makan belum?"
Tanya Arjuna sambil mencubit pipi putranya dengan penuh perasaan gemas.
"dah, dah."
Cleo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengartikan kata dah dengan udah. Arjuna pun tersenyum melihat tingkah jagoan kecilnya.
"Pintar sekali anak papah ini."
Ujar Arjuna menatap Cleo penuh semangat.
"Acuk pa, acuk."
Maksud Cleo masuk pah masuk tapi Arjuna tak mengerti bahasa putranya, wajar saja karena Arjuna baru bertemu Cleo sekarang-sekarang ini.
Pria tampan bermata hitam pekat itu membulatkan matanya meminta penjelasan pada Jenny atas apa yang diucapkan Cleo.
"Masuk pah, masuk."
Jenny mengartikan maksud Cleo.
"Begitu katanya."
Jenny menegaskan lagi maksud ucapan putranya.
"Oh papah disuruh masuk, tapi sepertinya mamah tidak mengizinkan sayang."
Raut wajah Arjuna terlihat dibuat sememelas mungkin di hadapan Cleo. Menurut Jenny terlihat sangat lebay aksi Arjuna ini.
Cleo hanya tertunduk kesal kemudian menatap ke arah sang mamah.
"Ma.. ma.., pa pa pa acuk ma."
Cleo langsung memohon pada Jenny mengartikan kalimatnya,
Mamah, papah masuk mah.
Jenny hanya tersenyum tak bisa lagi menolak permohonan putranya.
"Iya sayang boleh, mamah nggak mau Cleo sakit karena masuk angin."
Arjuna tersenyum penuh kemenangan setelah mendapat izin dari Jenny. Itu artinya dia akan berlama-lama bersama Jenny di rumah, apalagi kini rumah Jenny tidak ada siapa-siapa. Kalau malam hanya tinggal Jenny dengan Cleo saja, karena mba Sinta sang pengasuh Cleo hanya sampai saat Jenny pulang saja mengasuhnya, kalau Jenny sudah pulang dari pekerjaannya mba Sinta sudah diperbolehkan pulang oleh Jenny.
"Kamu sudah makan belum Jenn?"
Arjuna akhir-akhir ini selalu memberikan perhatian lebih pada Jenny, walau Jenny menanggapinya datar saja.
"Belum."
Jawab Jenny simple.
"Kalau begitu kita keluar makan malam bersama saja Jenn."
Tawar Arjuna dengan ribuan siasatnya.
"Tidak usah Arjuna. Tadi rencananya aku mau masak, tapi tiba-tiba kamu datang."
Jenny selalu menolak kebaikan Arjuna, mungkin ini sudah menjadi sikapnya sejak dulu. Masa perceraian yang terjadi diantara Jenny dan Frans membuat Jenny sulit menerima kebaikan pria manapun selain William yang sudah Jenny anggap seperti kakak sendiri.
Di masa pendekatan ini Arjuna benar-benar ingin mengenal lebih dalam tentang Jenny. Mulai dari makanan kesukaan Jenny, hobi Jenny, sampai passion Jenny. Rasanya sangat Arjuna perhatikan.
"Tidak usah Arjuna. Kalau kamu lapar aku bisa masak porsi lebih buat kamu, tapi masakanku tak seenak chef di rumahmu."
Jenny menawarkan sedikit kebaikannya untuk Arjuna.
"Apapun itu aku akan makan Jenn. Aku gak pilih-pilih makanan, paling aku lebih pilih-pilih ke yang masaknya."
Sahut Arjuna dengan bumbu-bumbu rayuannya, tapi bukan sekedar rayuan gombal, niatan Arjuna memang sungguh-sungguh pada Jenny.
"Dasar gombal!"
Seru Jenny sambil meninggalkan Arjuna yang sibuk menjaga Cleo dalam pangkuannya.
Arjuna hanya tersenyum kecil melihat wajah Jenny yang sedikit ditekuk setelah mendengar gombalan darinya. Kemudian Jenny berjalan menuju dapur untuk membuat nasi goreng telor ceplok kesukaannya karena bahan makanan yang tersedia hanya itu.
Akhir-akhir ini Jenny terlalu sibuk sampai lupa mengisi stok bahan makanan di kulkasnya. Terserah jika Arjuna tidak suka masakannya, Jenny tidak peduli. Justru bagus bukan? Dia bisa cepat pulang dari rumahnya.
Sekitar setengah jam Jenny memasak di dapur, kini Jenny membawa dua piring berisi nasi goreng telor ceplok untuknya dan juga Arjuna.
Sesampainya di ruang TV yang berdekatan dengan posisi meja makan, tiba-tiba mata Jenny terkejut melihat Cleo yang sudah tidur pulas di pangkuan Arjuna.
"Leo anak mamah sudah bobo."
Jenny segera meraih tubuh Cleo setelah meletakkan kedua piring di meja makan. Hatinya merasa kasihan melihat Cleo yang sudah terkulai lemas dalam pangkuan Arjuna.
"Aku bawa masuk Leo ke kamar dulu."
Jenny bergegas memindahkan Cleo masuk ke kamar. Jenny menyelimuti putra semata wayangnya, kemudian menyalakan obat nyamuk elektrik agar buah hatinya terhindar dari gigitan nyamuk, lalu mengganti lampu kamar dengan lampu tidur karena Cleo tidak suka tidur dengan penerangan yang menyilaukan mata.
Jenny kembali ke meja makan menyiapkan makan malam yang sederhana bersama Arjuna, namun tidak bagi Arjuna. Ini adalah momennya yang telah lama hilang, yang telah lama tak dirasakan lagi oleh Arjuna sepeninggalnya Claudia di hidup Arjuna.
"Maaf yah Jenn, aku sudah merepotkanmu."
Ucap Arjuna sambil menatap Jenny yang sedang menuangkan secangkir teh tawar hangat untuk Arjuna.
"Asal jangan sering-sering, nanti stok bahan makananku habis."
Arjuna terkekeh sesaat mendengar respon Jenny. Entah kenapa Jenny ini sangat sulit dibawa dalam suasana hangat, apalagi romantis.
"Tenang Jenn, nanti aku ganti sekalian dengan uang jajan Leo."
Timpal Arjuna tidak mau kalah.
"Sudah buruan makan, terus kamu cepat pulang sebelum ketua RT di komplek ini mengusirmu."
Jenny menyodorkan cangkir berisi teh hangat kepada Arjuna, kemudian mereka berdua menikmati makan malam dalam suasana hening.
"Jenn. . ."
Arjuna menggenggam jemari Jenny setelah mereka melepaskan sendok makan, karena nasi goreng sudah habis dilahap Arjuna, bahkan sisa makanan Jenny pun tidak canggung Arjuna habiskan.
Jenny yang dipanggil namanya oleh Arjuna hanya menatap Arjuna sesaat kemudian melanjutkan tegukan teh hangatnya.
"Aku sudah tidak sabar ingin menikahimu Jenn."
Ucapan Arjuna barusan membuat kerongkongan Jenny sedikit tersedak. Seketika itu juga Jenny meletakkan gelasnya kembali di meja.
"Aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tak sanggup melihatmu yang hidup hanya berdua dengan Leo di rumah ini. Aku pun tak sanggup menahan rinduku pada Leo, apalagi saat bertemu dengan anakku sendiri aku harus pulang, rasanya itu sangat menyakitkan Jenn."
Memang benar apa yang diungkapkan oleh Arjuna. Hati ayah mana yang sanggup menahan perih saat melepas rindu dengan buah hatinya dan dia harus pamit pulang. Harusnya Cleo adalah tujuan terakhirnya di akhir aktivitas.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun Arjuna."
Ucap Jenny dengan nada datar dan tatapan nyalang menatap langit-langit rumah.
"Aku tahu masa lalumu terlalu rumit. Aku minta maaf jika aku sudah terlalu banyak mengorek tentang privasimu, tapi itu semua aku lakukan karena kesungguhanku padamu Jenny Florencia."
Jenny terkejut mendengar pengakuan Arjuna yang sudah mengetahui kisah masa lalu Jenny bersama Frans yang membuat Jenny sulit untuk melangkah, sulit untuk memulai lagi. Memulai kehidupan baru bersama cinta baru. Walau hati kecil Jenny masih ada setitik harapan, namun keraguan lebih banyak berperan dalam pikiran Jenny.
••••
Happy reading 😉