
Suasana rumah Verlita terasa begitu hening setelah kepergian Alya dan Meyriska. Verlita sangat merasa bersalah pada calon menantunya, tak seharusnya keadaan menjadi seperti ini di momen pertemuan pertamanya bersama Jenny.
"Duduklah Jenn."
Verlita menepuk sofa di sampingnya, meminta Jenny untuk duduk berdampingan dengannya. Jenny pun menuruti perintah Verlita, dia duduk di samping Verlita dengan perasaan yang tak menentu.
"Juna, sebaiknya kamu urus Clarisa dulu. Sepertinya dia sudah mulai ngantuk."
Verlita menyuruh Arjuna untuk menengok Clarisa di kamarnya, agar Verlita lebih leluasa membahas tentang perjodohan yang Alya ajukan kepadanya.
"Mamah harap kamu jangan hiraukan kejadian tadi. Jangan sampai menyurutkan niatan baikmu bersama Arjuna."
Verlita sepenuhnya mendukung hubungan Arjuna bersama Jenny. Wanita itu tidak ingin melihat mimpi putranya hancur kembali.
"Sepertinya tidak akan mudah bagi Jenny untuk bisa bersama Arjuna."
Terbias wajah Jenny yang hampir menyerah begitu saja akan hubungannya dengan Arjuna. Rasanya Jenny sudah tidak sanggup lagi untuk berharap. Belum juga Jenny melangkah, dia harus jatuh kembali.
"Tidak Jenn. Jangan katakan seperti itu. Apapun rintangannya mamah harap kalian harus bisa bersatu, demi cucu mamah."
Verlita masih terus berusaha menguatkan hati Jenny.
"Apa boleh Jenny jujur mah?"
Jenny menatap Verlita dengan tatapan nanar.
"Tentu Jenn."
Ucap Verlita, memberikan kesempatan pada Jenny.
"Jujur Jenny sudah mulai mencintai Arjuna, tapi entah kenapa Jenny merasa kalau takdir cinta tak pernah berpihak pada Jenny. Mungkin Jenny hanya wanita biasa, tak pantas bersanding dengan Arjuna. Kalau dirasa hubungan Jenny dengan Arjuna hanya sampai disini, Jenny akan berusaha merelakan Arjuna. Jenny sudah terbiasa akan arti kehilangan."
Derai air mata yang berusaha Jenny tahan tetap sia-sia. Buliran bening itu sudah membasahi pipi mulus Jenny.
"Jangan menyerah Jenn, mamah mohon. Demi Clarisa dan juga Cleo, bahkan demi kebahagiaanmu juga."
Verlita menggenggam jemari Jenny erat, mencoba memberi kekuatan untuk Jenny.
"Apa kamu tidak lelah terus-terusan mengalah dari kehidupan cintamu?"
Pertanyaan Verlita memang ada benarnya juga. Haruskah Jenny menyerah kembali? Sama seperti dulu saat menyerahkan Frans pada Alea.
"Kamu juga berhak untuk bahagia Jenn."
Verlita menegaskan lagi, menatap Jenny penuh keyakinan.
"Jenny takut mah. Benar-benar takut untuk memulai lagi. Keraguan itu seketika hadir kembali dalam benak Jenny."
Nafas Jenny sedikit tersengal, tak kuasa menahan emosi yang berkecamuk di dalam hatinya. Bahu Jenny bergetar menahan tangis yang tak sanggup lagi Jenny sembunyikan.
Verlita membawa Jenny ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan suasana hati Jenny yang tak menentu.
Setelah Clarisa berhasil terlelap tidur, Arjuna kembali ke ruang tamu untuk melihat kondisi Jenny. Arjuna menatap Jenny dengan perasaan bersalah, tak seharusnya Jenny menyaksikan kejadian ini.
"Juna, antarkan Jenny pulang. Biar Jenny bisa istirahat di rumah."
Verlita yang merasa kasihan pada Jenny meminta Arjuna untuk mengantarnya pulang, waktu pun sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Iya mah, Juna antar Jenny pulang dulu. Besok Jenny juga harus masuk kerja."
Kemudian mereka bergegas menuju perjalanan pulang. Hati Jenny sudah sangat merindukan Cleo, rasanya ingin cepat-cepat sampai rumah bertemu dengan putra tercintanya. Hanya dengan melihat Cleo yang membuat hati Jenny terasa damai.
•••
Sekitar pukul sebelas malam Jenny sampai di rumah, masih dengan perasaannya yang tak menentu memikirkan hubungannya dengan Arjuna. Apa harus berlanjut? Atau menyerah begitu saja.
"Jenn..."
Panggil Juna dengan suara lembut dan sedikit serak.
"Iya."
Hanya itu jawaban Jenny saat membalikkan tubuhnya. Panggilan Arjuna menghentikan langkah Jenny yang menuju pintu masuk.
Arjuna semakin mendekat ke arah Jenny yang masih menundukkan kepalanya. Jenny tak mampu menatap Arjuna lebih lama, sebelum semuanya jatuh terlalu dalam. Jenny masih berusaha mengendalikan hatinya, agar rasa kehilangan tidak begitu terasa.
"Jangan surutkan cintamu untukku Jenn."
Arjuna menggenggam jemari Jenny, pria itu seperti mengerti akan gelagat Jenny yang ingin menyerah begitu saja.
"Jangan diam saja Jenn, jangan buat aku gelisah setelah pulang mengantarmu."
Batin Jenny seperti tertampar jika mengingat kejadian di rumah Verlita. Ada tanya yang sulit Jenny sampaikan. Jenny masih tidak habis pikir mengapa Arjuna tidak bercerita sebelumya kepada Jenny? Itulah yang membuat hati Jenny sedikit kecewa pada Arjuna.
"Entahlah Arjuna. Aku merasa tidak pantas untukmu, sebelum semuanya terlalu jauh."
Hati Arjuna terlonjak mendengar ucapan Jenny, dia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Jenny, walau Jenny berusaha menarik jemarinya dari genggaman Arjuna.
"Tidak Jenn, jangan katakan itu padaku. Yakinkan kembali cinta kita."
"Pulanglah, sudah malam."
Jenny sudah tak kuasa menahan lelah, ingin segera masuk ke kamar lalu menumpahkan tangisnya disana.
"Aku tidak akan pulang sebelum kamu berjanji untuk tidak meninggalkanku Jenn."
Arjuna masih keras kepala dengan keyakinannya, kemudian Jenny menarik nafasnya dalam.
"Iya."
Hanya kata itu yang Jenny ucapkan pada Arjuna, berharap Arjuna segera pergi meninggalkannya. Kata iya yang tidak bermakna janji bagi Jenny, namun sangat berarti bagi Arjuna.
Arjuna mencium kening Jenny cukup lama, penuh perasaan yang mendalam.
"I love you."
Bisik Arjuna setelah melepaskan kening Jenny, sementara Jenny hanya tersenyum kecil di hadapan Arjuna sebelum Arjuna pergi dari hadapannya.
•••
Hari ini adalah weekend yang sangat sibuk untuk Jenny, dia harus memastikan dua pesta pernikahan berjalan lancar dalam waktu bersamaan. Beruntung Jenny mempunyai team yang hebat, dibantu oleh Franda dan kawan-kawan.
Selain berbakat dalam desain wedding organizer, skill Jenny kini bertambah, yaitu ahli dalam hal make up pengantin. Berkat bantuan William yang sering mengikut sertakan Jenny dalam beberapa training beuty class, menjadikan Jenny semakin mahir dalam hal tata rias pengantin dan beberapa make up acara pesta.
Sekitar pukul empat sore, Jenny kembali mendatangi pesta pernikahan Imelda. Saatnya untuk mempelai pengantin berganti kostum dan make up, karena acara pernikahan mereka digelar sampai malam hari.
Langkah Jenny nampak tergesa-gesa sejak turun dari mobil, Jenny tidak ingin mengecewakan cliennya. Sesampainya di lokasi Jenny segera menghampiri Imelda.
"Mba Imelda ayo bersiap ganti kostum dan make up."
Titah Jenny sambil meraih lengan pengantin mempelai wanita.
"Siap mba Jenny."
Imelda merekahkan senyum terbaiknya untuk Jenny. Kemudian Jenny membawa Imelda ke ruang make up yang tidak jauh dari area pesta.
Tangan Jenny sangat cekatan merias Imelda, wanita itu tak hentinya tersenyum menatap dirinya yang sudah disulap menjadi ratu sehari oleh Jenny.
"Mba Jenny, aku puas banget dengan make up dan baju pengantinnya."
Ujar Imelda memuji skill dan selera fashion Jenny.
"Alhamdulillah kalau mba Imelda suka."
Jenny berusaha rendah hati di hadapan Imelda. Wanita itu tetap melanjutkan aktivitasnya merias Imelda penuh semangat.
"Akhirnya selesai. Lihat mba Imelda cantik sekali."
Jenny meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Imelda. Sang pengantin pun tersenyum puas menatap dirinya dari bayangan cermin.
"Terimakasih mba Jenny."
"Sama-sama mba, ayo aku antar ke pelaminan. Pengantin pria sudah menunggu mba disana."
Ujar Jenny, menawarkan kebaikannya pada Imelda. Sementara pengantin pria sudah ditangani oleh Franda untuk perihal kostum, karena pengantin pria tidak akan seribet wanitanya, sehingga Jenny lebih mempercayakan pada Franda.
Jenny sudah mengantar Imelda duduk kembali di pelaminan untuk menemui beberapa tamu undangan. Tiba-tiba ponsel Jenny berdering, ada pesan whatsapp masuk di ponsel Jenny.
:: Arjuna ::
Apa sudah selesai sayang?
05:03 pm
Jenny sudah memberitahukan Arjuna kalau pekerjaannya akan selesai sore ini. Arjuna sudah tidak sabar ingin menemui pujaan hatinya yang sudah hampir satu minggu mereka tidak bertemu, akibat kesibukan masing-masing.
Setelah membalas pesan whatsapp Arjuna, tiba-tiba saja Jenny menabrak seorang pria tampan berbalut celana kain hitam slimfit dan kemeja batik yang sangat pas di tubuhnya. Langkah kaki Jenny yang terlalu fokus pada layar ponsel membuat Jenny tidak memperhatikan jalan di depannya.
"Maaf pak, maaf."
Kilah Jenny berusaha meminta maaf pada pria tersebut, masih dengan pandangan tertunduk menahan rasa takut. Pria itu tertegun menatap Jenny, menatap wanita yang selama tiga tahun dia rindukan.
Pandangan pria itu terpesona menikmati keindahan tubuh Jenny, walau hanya berbalut jeans hitam dan cardigan panjang selutut, sama sekali tidak mengurangi pesona Jenny.
"Jenny..."
Panggil pria itu dengan suara yang begitu lembut, bahkan memaksa wajah Jenny untuk menatap ke arahnya. Jenny pun tertegun, menahan rasa terkejut yang tak terkira. Tak pernah Jenny bayangkan sebelumnya, kalau dia akan bertemu kembali dengan pria yang sudah lama ingin Jenny lupakan.
"Frans..."
Mulut Jenny menganga tak percaya menatap Frans.
Mengapa harus bertemu kembali?
••••