
Bintang-bintang bertaburan di langit mengisyaratkan cuaca malam yang cerah. Kerlipnya tak menyurutkan lelah. Hanya datang untuk menyapa jiwa-jiwa yang sepi terbakar sunyi.
Perasaan gundah gulana menyelimuti hati seorang wanita yang terduduk di teras. Menunggu sang kekasih untuk bertemu dengan janji. Jenny yang setia menunggu kedatangan Arjuna, malam ini akan memenuhi janjinya untuk membawa Jenny berhadapan dengan Verlita.
Jantung Jenny sebenarnya berdebar tak menentu, terlalu banyak yang Jenny risaukan, terlalu banyak rasa takut yang Jenny tepiskan.
Ribuan tanya merasuk pikiran Jenny, akan tetapi logika sedikit berperan disini. Kalau Jenny terus menerus takut dengan keadaan, lantas kapan dirinya akan bangkit? Kapan dirinya akan membuktikan kepada Frans? Kalau dia sudah mampu melangkah jauh meninggalkan Frans.
Jenny terlihat anggun mempesona malam ini, mengenakan dress semi formal yang sengaja dikirimkan Arjuna tadi pagi, untuk dipakai malam ini. Arjuna memilihkan dress berwarna navy dengan tangan sesiku, dan panjang dress itu tepat selutut Jenny. Arjuna sengaja memilih warna navy, warna favorit sang mamah. Apalagi kulit Jenny yang putih memberikan kesan kontras, dan semakin terlihat bercahaya.
Walau Jenny nampak cantik dan anggun, namun tidak dengan suasana hatinya. Jenny merasa takut akan pertemuannya dengan calon ibu mertua, terbesit dalam pikiran Jenny, bagaimana kalau mamahnya Arjuna tidak mau menerima kehadirannya? Bagaimana kalau mamahnya Arjuna tidak suka dengan dirinya?. Ah, semakin banyak saja pikiran yang berkecamuk di dalam otak Jenny.
Bukan hanya kecemasan perihal calon ibu mertuanya saja, tetapi juga Jenny yang tidak tega meninggalkan Cleo dengan mba Sinta malam ini. Jenny sengaja tidak ingin membawa Cleo ke rumah mamah Arjuna. Menurut Jenny belum saatnya membawa Cleo di pertemuan pertamanya dengan calon ibu mertua. Jenny takut kalau Verlita belum bisa menerima kehadirannya di samping Arjuna, apalagi kehadiran Cleo. Cukuplah Jenny yang siap menerima resiko apapun, untuk sekarang Jenny tidak ingin melibatkan Cleo dulu. Biarlah Cleo di rumah saja ditemani mba Sinta, walau hati Jenny tak rela meninggalkan Cleo.
Terlalu hanyut dalam lamunan, membuat waktu menunggu tidak terasa untuk Jenny. Suara mobil milik Arjuna sudah terdengar di halaman rumah. Pria tampan itu masih mengenakan setelan jas hitam yang menjadi warna favoritnya. Derap langkah Arjuna terlihat begitu cepat menuju teras rumah Jenny, netranya terpesona menatap kecantikan Jenny yang sudah mengenakan dress navy, sesuai dengan permintaanya. Rambut Jenny digerai indah terbagi dua, di bagian depan dan belakang. Sapuan make up tipis semakin menambah aura Jenny, dan sukses membuat Arjuna menganga menikmati pemandangan indah di hadapannya.
Jenny merekahkan senyumnya untuk Arjuna, berusaha menepiskan kegundahan hatinya. Arjuna semakin mendekat ke arah Jenny hingga jarak mereka hanya terpaut satu langkah saja.
"Kenapa Arjuna?"
Tanya Jenny yang masih kebingungan menyaksikan raut wajah Arjuna. Pria itu menatapnya tanpa henti, bahkan tak berkedip sekalipun. Arjuna masih diam, tak mau menjawab pertanyaan Jenny. Dia hanya mendekatkan bibirnya di telinga Jenny.
"Kamu cantik sekali malam ini Jenn."
Bisikan Arjuna sukses membuat bulu kuduk Jenny berdiri. Pujian Arjuna terdengar begitu sensual di telinga Jenny. Kemudian Arjuna mengecup pipi Jenny penuh perasaan yang mendalam.
Wajah Jenny seketika merah bagai kepiting rebus. Jenny tak kuasa menahan malu di hadapan Arjuna. Momen indah seperti ini telah lama hilang dari hidup Jenny, seperti membangkitkan kembali gairah cinta Jenny yang sempat padam.
Arjuna menangkup kedua pipi Jenny dengan kedua tangan kekarnya, tatapannya mesra penuh cinta.
"Untuk malam ini, percayakan semuanya padaku sayang."
Arjuna seperti mengetahui kalau perasaan Jenny sedang tak menentu, banyak rasa kekhawatiran Jenny disana. Sebisa mungkin Arjuna meyakinkan Jenny kembali.
Jenny hanya membalas ucapan Arjuna dengan satu anggukkan diiringi senyuman. Setidaknya kini ada Arjuna yang siap melindungi dirinya dari situasi apapun.
"Oh iya, jagoan kecilku mana Jenn?"
Kali ini Arjuna baru ingat akan Cleo.
"Cleo sudah tidur. Seharian ini dia tidak tidur siang."
Arjuna hanya tersenyum mendengar jawaban Jenny, karena Jenny sudah menyampaikan pada Arjuna kalau dirinya belum siap membawa Cleo untuk bertemu dengan sang nenek.
"Anak pintar. Dia selalu tahu kalau papahnya sedang berjuang untuk cintanya."
Ujar Arjuna yang terkekeh sendiri.
Mereka berdua beranjak pergi menuju rumah Verlita. Betapa bahagianya perasaan Arjuna saat ini, dan sebentar lagi dia akan melepas masa kesendiriannya setelah kepergian Claudia.
•••
"Honey, sepertinya kamu terlihat sangat gugup."
Arjuna memulai obrolan di dalam mobil, matanya masih fokus menatap jalanan. Sesekali dia melirik ke arah Jenny yang nampak gelisah.
"Aku hanya takut kalau mamahmu tidak suka denganku."
Akhirnya Jenny buka suara, mengungkapkan ketakutannya pada Arjuna. Mendengar jawaban Jenny barusan, Arjuna hanya tersenyum kecil.
Tutur Arjuna, mencoba meyakinkan Jenny kembali.
"Ngomong-ngomong di rumah orangtuamu ada berapa orang?"
Jenny mulai mengorek informasi tentang keluarga Arjuna.
"Hanya tiga orang. Mamah, Clarisa dan juga bi Minah."
Mendengar jawaban Arjuna, hati Jenny sedikit lega. Setidaknya di rumah itu tidak terlalu banyak penghuni.
"Bukannya kamu bilang dua bersaudara? Kemana adikmu?"
Jenny semakin penasaran.
"Serlita sibuk dengan karirnya. Dia berkarir di bidang modeling di New York. Padahal mamah sering bilang pada Serlita untuk tetap tinggal di Jakarta, tapi mau gimana lagi? Dia sosok keras kepala, persis seperti almarhum papah."
Mendengar informasi yang Arjuna berikan membuat hati Jenny semakin ciut, betapa hebatnya keluarga Arjuna di mata Jenny. Wanita itu semakin merasa kecil jika harus masuk ke dalam keluarga Arjuna.
Jenny sudah mengetahui kalau papah Arjuna sudah meninggal, orangtua Arjuna tinggal Verlita seorang. Papahnya meninggal sekitar lima tahun silam, akibat sakit jantung yang dideritanya selama bertahun-tahun.
"Aku semakin merasa kecil jika harus memasuki kehidupan keluargamu Juna."
Jenny tertunduk mengepalkan jemari di atas paha. Jenny merasa tidak percaya diri jika harus bersanding dengan keluarga kelas atas. Keraguan batinnya kembali berperan.
Sesaat Arjuna tidak mengindahkan kalimat Jenny, karena mobil yang dikemudikannya sudah sampai di halaman rumah Verlita. Setelah mesin mobil dimatikan, Arjuna mendekatkan posisi wajahnya ke arah Jenny.
"Jangan merasa kecil di hadapanku ataupun keluargaku. Kamu mempunyai sesuatu yang sangat berarti, yang tidak mampu dimiliki oleh wanita manapun."
Tutur Arjuna menatap netra Jenny begitu dalam.
"Hatiku hanya tergetar olehmu Jenn. Itu sudah cukup mewakili segala kelebihan yang kamu miliki."
Arjuna benar. Ketika seorang pria memilih wanita untuk menjadi pendamping hidupnya, terjawab sudah kelebihan yang dimiliki seorang wanita tersebut, untuk layak bersanding dengannya.
Arjuna meraih telapak tangan Jenny, lalu menempelkan di dada bidangnya, agar Jenny mampu merasakan detak jantung Arjuna yang kian berpacu saat berada di samping Jenny.
"Apa kamu bisa merasakannya Jenn? Jantungku berdegub kencang setiap berada di sampingmu."
Jenny tersipu malu di hadapan Arjuna. Memang benar irama jantung Arjuna begitu terasa.
Arjuna meraih dagu Jenny untuk lebih dekat dengannya, wajah Arjuna semakin mendekat ke arah bibir Jenny. Diciumnya bibir Jenny dengan satu lumatan yang begitu dalam. Arjuna sengaja memberikan ciuman yang dalam dan terasa sangat romantis memperlakukan Jenny. Tujuannya untuk sedikit menghilangkan rasa gugup yang mendera Jenny.
Setelah mencecap bibir Jenny dalam satu pagutan, Arjuna melepaskan ciuman itu perlahan. Mengusap bibir Jenny dengan jemarinya begitu lembut, karena bibir Jenny basah akibat ulah Arjuna.
Arjuna menarik puncak kepala Jenny pelan, lalu dikecupnya kening Jenny penuh kasih.
"Ayo turun. Bahaya kalau lama-lama begini, bisa-bisa aku tidak tahan sayang."
Ucap Arjuna setelah mengecup pipi Jenny sesaat. Tingkah Arjuna selalu sulit Jenny prediksi, dia selalu bisa menghangatkan suasana hati Jenny.
Mereka berdua pun akhirnya turun dari mobil, melangkah memasuki rumah Verlita dengan posisi jemari yang saling terkait. Sengaja Arjuna lakukan, untuk sedikit mengurangi rasa gugup yang dirasakan oleh Jenny.
••••
Yang suka vote yah 😉