
Jenny sudah kembali ke meja kerjanya untuk kembali melanjutkan aktivitas. Tiba-tiba pikiran Jenny teringat pada Bella, dia ingin menanyakan siapa wanita itu pada Bella. Tentunya Bella akan lebih tahu.
:: Bella ::
Ada cewek di ruangan William
dia meluk William erat banget.
Kira-kira lo tahu gak siapa cewek itu?
10:02
Rupanya Jenny mengirimkan pesan whatsapp kepada Bella akibat rasa penasarannya. Tanpa menunggu lama Bella langsung membalas pesan Jenny.
:: Bella ::
Pasti Renata
Mantan William.
10:05
Jenny mengangguk-anggukkan kepalanya setelah membaca isi pesan dari Bella.
Tidak ada rasa cemburu yang berlebihan atas kejadian tadi. Jenny hanya sedikit syok saja melihat William yang tidak mudah dekat dengan wanita.
Apapun itu terserah William saja, yang terpenting bagi Jenny hanyalah bekerja dengan baik di tempat William. Selebihnya Jenny tidak ingin memikirkan apapun lagi.
Sosok wanita cantik yang mengenakan blus warna coklat mocca dengan nuansa pakaian ala kantoran datang menghampiri meja Jenny.
"Pasti kamu yang namanya Jenny ya?"
Seketika Jenny melepaskan pandangannya dari layar monitor, kini pandangan Jenny fokus tertuju pada wanita itu, lalu dilihatnya secara seksama raut wajahnya. Ternyata dia wanita yang tadi sudah memeluk William.
"Renata."
Wanita itu menawarkan jabatan tangan di hadapan Jenny diiringi senyuman manis.
"Jenny."
Jenny meraih jabatan tangan Renata.
Sudah dapat dipastikan oleh Jenny kalau William sudah bercerita banyak pada Renata. Kalau tidak, mana mungkin Renata tahu nama Jenny.
"Apa boleh kita mengobrol berdua saja Jenn?"
Jenny yang masih penasaran akan sosok Renata langsung menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakan Renata.
"Kita ngobrol di caffe favoritku saja Jenn. Aku sudah izin pada William akan mengajakmu keluar sebentar."
Entah kenapa Renata nampak sebagai wanita yang tenang, sikapnya pun dewasa, kepribadiannya mirip sekali dengan Jenny.
"Ayo berangkat mba Renata."
Jenny bersiap mengambil tas tangan miliknya, kemudian memasukkan handphone ke dalam tas lalu beranjak dari duduknya.
Jenny dan Renata melangkah menuju parkiran. Mereka pergi dalam satu mobil milik Renata.
•••
"Maafkan aku Jenny, mungkin kedatanganku cukup membuatmu tidak nyaman."
Renata membuka obrolan lebih dulu setelah sampai di caffe yang bernuansa anak ABG.
"Tidak apa-apa mba."
"William itu mantan kekasihku."
Raut wajah Jenny terlihat biasa saja. Pengakuan yang diungkapkan Renata tidak membuat hati Jenny terkejut, karena Jenny sudah mengetahuinya lebih dulu dari Bella.
"Kami pacaran cukup lama. Sejak masa kuliah di semester akhir, bahkan sampai kami mulai meniti karir masing-masing."
Renata mulai menceritakan lebih lanjut tentang masa lalunya kepada Jenny.
"Lalu apa yang membuat kalian memilih berpisah?"
Sergah Jenny yang sudah tak sabar ingin mendengar alasan mereka putus.
"Waktu itu William selalu mendesak aku untuk segera menikah, sedangkan aku masih belum siap menikah muda. Aku lebih memilih fokus pada karirku untuk melanjutkan kuliah di Jerman, hingga akhirnya komunikasi diantara kami mulai jarang akibat jarak dan waktu. Apalagi aktivitas kami yang sama-sama padat."
Jenny dapat mengerti kalau William sebenarnya masih sangat mencintai Renata. Hubungan mereka terpisah bukan karena soal penghianatan ataupun kebohongan lain.
"Apa sekarang mba Renata datang kembali karena merasa sudah siap untuk serius dengan William?"
Jenny langsung memotong cerita Renata, pertanyaan Jenny barusan langsung membuat Renata tertunduk lemah.
"Iya Jenn."
Ucap Renata dengan tatapan nyalang merasa tidak percaya diri.
"Tapi di saat aku sudah siap kembali, dia sudah menjatuhkan hatinya pada wanita lain Jenn. Wanita itu kamu."
Hati Jenny cukup terlonjak mendengar penuturan Renata barusan.
"William sudah banyak bercerita tentang kamu Jenn. Saat dia menyebut namamu aku bisa merasakan cintanya begitu dalam untukmu, hingga mampu menggantikan namaku di dalam hatinya."
Ada perasaan sakit hati yang tersirat dari raut wajah Renata.
"Maaf mba Renata, saya sama sekali tidak ada maksud untuk melakukan semua itu. Saya dengan William hanya sebatas hubungan karyawan dengan atasan dan teman biasa. Sama sekali tidak ada hubungan lebih diantara kami."
Jenny sedikit mencoba menenangkan suasana hati Renata.
Pengakuan Jenny memang benar adanya, kalau hubungan Jenny dengan William tidak ada yang lebih dari sekedar teman.
"Apa kamu juga mencintai William Jenn?"
Renata sangat penasaran akan perasaan Jenny terhadap William.
"Cinta? Aku sudah lelah untuk mencintai atau dicintai. Perasaanku untuk William sejak dulu hingga sekarang tidak ada yang berubah, dia tetap sosok sahabat yang menenangkan bagiku."
Pengakuan Jenny membuat Renata merasa sedikit heran, mengapa Jenny tidak mau menerima William?
"Aku yakin kalau William sebenarnya masih ada hati untuk mba Renata. Perbaiki lagi hubungan kalian, aku turut bahagia kalau melihat William bahagia. Semua kebaikan yang dia lakukan padaku dan juga anakku tidak lain hanya perasaan kasihan saja, jangan anggap berlebihan. Aku bisa merasakan ketulusan cinta William saat memeluk mba Renata tadi pagi."
Keyakinan Jenny membuat Renata sedikit percaya diri, senyum pun merekah dari bibir Renata.
Jenny mencoba meraih jemari Renata untuk memberikan semangat pada Renata.
"Jagakan hati William baik-baik mba. Selama dia putus denganmu dia tidak pernah berhubungan dengan wanita lain lagi. Aku yakin cinta itu masih ada, hanya ego yang sedikit menguasai hatinya saat ini."
Tutur Jenny dengan tatapan begitu lembut untuk Renata.
"Terimakasih Jenn. Kamu wanita yang sangat baik dan bijak ternyata, pantas saja William menyukaimu."
Jenny tersipu malu mendengar pujian dari Renata. Hati Jenny sangat berlapang dada jika William akan kembali bersama Renata, karena sudah saatnya William bahagia menemukan kembali cintanya,menemukan jodoh yang sempat tertunda.
••••