
Satu minggu telah berlalu setelah acara lamaran Jenny dan Arjuna. Orang tua mereka memutuskan untuk mempercepat waktu pernikahan Arjuna dengan Jenny. Verlita dan juga Linda tidak mau menunda lebih lama lagi, menurut mereka Arjuna dan Jenny sudah sama-sama dewasa tidak ada waktu lagi untuk mereka mengenal istilah pacaran, lagipula dengan hadirnya Cleo sudah cukup menjawab cinta diantara mereka.
Verlita sudah menemukan tanggal pernikahan yang pas untuk putranya. Pernikahan mereka akan dilaksanakan satu bulan setelah lamaran. Jenny sudah meminta pada Verlita untuk tidak menggelar pesta pernikahan yang mewah, Jenny hanya menginginkan pesta yang sederhana saja, bahkan kalau bisa tidak perlu ada pesta. Cukuplah rukun nikah saja yang hadir, itu sudah lebih dari cukup bagi Jenny.
Walau pernikahan Jenny akan dilaksanakan sekitar satu bulan lagi, Jenny masih tetap berkutat dengan kesibukannya di kantor, masih mengurus semua resepsi pernikahan klien.
"Calon pengantin sibuk banget."
Celoteh Franda, menggoda Jenny yang sedang sibuk di meja kerjanya.
"Siapa yang mau jadi pengantin?"
Tanya William yang kebetulan berjalan melewati meja kerja Jenny dan menghentikan langkahnya.
"Pak William tidak tahu?"
Franda merasa aneh, harusnya William lebih tahu dari pada Franda, karena William telah lama menaruh hati pada Jenny.
"Serius Franda, saya tidak tahu apapun."
William semakin penasaran.
"Mba Jenny mau menikah lagi Pak."
Deggg. . .
Hati William terkejut mendengar ucapan Franda barusan. Ada rasa kecewa yang mendalam dari batin William. Harapannya pada Jenny kini musnah sudah.
"Apa benar Jenn?"
William kini menatap Jenny lekat, ingin mendengar kebenaran dari mulut Jenny langsung.
"Iya Pak William."
Jawab Jenny dengan menganggukkan kepalanya, melepaskan pandangannya dari monitor kerjanya.
Siapa pria itu Jenn?
Batin William bertanya-tanya, siapa pria yang beruntung mendapatkan hati Jenny?
Ingin sekali William menanyakan langsung pada Jenny, namun dia urungkan karena masih ada beberapa karyawan lain disana. Gurat kecewa pun terbias dari wajah William.
"Selamat yah Jenn. Semoga dia adalah pria yang tepat untukmu."
William menyodorkan tangannya di hadapan Jenny, memberikan selamat untuk Jenny, walau hatinya harus menelan rasa kecewa yang mendalam.
"Terimakasih Pak William."
Jenny meraih jabatan tangan William. Sebenarnya perasaan kecewa dari William mampu Jenny rasakan, tapi Jenny lebih memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Jenny tidak ingin mempertanyakan atau membahas tentang perasaan William padanya. Bagaimanapun William adalah sosok pria yang selalu ada untuk Jenny, rasanya tidak sanggup bagi Jenny untuk menyakiti hati pria sebaik William.
•••
Arjuna sibuk mengontrol semua perkembangan bisnisnya di beberapa kantor cabang, membandingkan semua data hasil pencapaian antara bulan lalu dengan bulan sekarang.
Arjuna membuka email yang berisi attachment report harian. Email tersebut baru saja dikirim tadi pagi oleh beberapa manager di kantor cabang milik Arjuna.
Saat membuka email tiba-tiba mata Arjuna terhentak melihat tanggal sekarang, yaitu tanggal lima mei, tanggal anniversary pernikahannya bersama Claudia.
Suasana hati Arjuna langsung berubah saat ingat tanggal ulang tahun pernikahannya dengan Claudia, batinnya masih merindukan Claudia. Andai maut tidak menjemput, mungkin Arjuna masih bisa bersama Claudia.
Arjuna menutup layar laptopnya lalu bangkit dari kursi kebesarannya. Langkah Arjuna tergesa-gesa, entah kemana dia akan pergi? Yang jelas hati Arjuna saat ini terasa tak menentu.
•••
Sekitar setengah jam perjalanan Arjuna sudah memarkirkan mobilnya di area pemakaman, dengan membawa seikat rangkaian bunga di tangan kanannya. Kemudian langkah Arjuna menyusur ke beberapa batu nisan, hingga akhirnya dia berhenti pada batu nisan yang bertuliskan nama Claudia Aurelia.
"Apa kabarmu sayang?"
Arjuna bergumam sendirian sambil meletakkan rangkaian bunga di sisi batu nisan Claudia.
"Maafkan aku yang sudah melupakanmu akhir-akhir ini."
Arjuna mengusap nama Claudia disana.
"Aku tidak bermaksud untuk menghianati cinta kita. Cinta ini masih ada untukmu sayang. Maafkan aku yang tak mampu memenuhi janjiku padamu bahwa hanya kamulah satu-satunya cintaku di dunia ini."
Entah kenapa Arjuna sangat merasa bersalah jika dirinya mengingat pernikahan yang akan dilaksanakannya bersama Jenny dalam waktu dekat ini.
"Aku tidak bermaksud melukaimu, tidak ada niatan untukku berhianat akan janjiku padamu Cla."
Arjuna memang pernah berjanji pada Claudia kalau cintanya hanya untuk Claudia sampai kapanpun, tidak akan pernah terbagi dengan wanita lain. Hari ini tepat di hari ulang tahun pernikahan yang harusnya menginjak tahun ke tujuh bersama Claudia, seolah menohok hati Arjuna.
Arjuna merasa bahwa hubungannya bersama Jenny adalah bagian dari bentuk penghianatannya pada Claudia. Apalagi jika Arjuna teringat pada Cleo, membuat semakin besar saja rasa bersalah Arjuna terhadap Claudia.
"Tak pernah aku kira sebelumnya kalau Tuhan akan merenggut cinta yang telah kita bangun bersama. Aku dan Clarisa sangat merindukanmu sayang."
Hati Arjuna semakin sesak. Apalagi saat membayangkan wajah Clarisa yang selalu bilang merindukan mamihnya.
"Tenanglah disana Cla."
Arjuna masih menatap tulisan nama Claudia, kemudian dia bangkit untuk meninggalkan makam Claudia. Rasa bersalahnya masih ada di benak Arjuna, tak mampu dia tepiskan lagi.
Hari ini Arjuna dilemahkan kembali oleh takdir. Cinta yang terlalu setia pada mendiang istrinya dulu, justru kembali menyiksanya di saat Arjuna sudah mulai melangkah untuk kehidupan yang baru.
••••
Jangan terlena akan rasa bahagia, hingga melupakan takdir yang berjalan semaunya.
Miss Viona~