Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 71 - Mark



Sambungan video bersama Clarisa dan juga Cleo sudah terhenti. Verlita yang memohon izin mengakhiri sambungan tersebut, karena sudah waktunya mandi dan sarapan untuk team krucil.


Walau sambungan video call sudah berakhir, tangan Jenny masih memainkan ponselnya, melihat lihat foto Cleo dan Clarisa. Mungkin akibat rasa rindu yang sudah menggunung, tiga hari Jenny tidak bertemu mereka.


"Mamah masih kangen sayang."


Bisik Jenny dengan mata yang masih fokus ke layar ponsel.


"Are you alone here?"


Tiba tiba suara itu membuat Jenny terkejut.


Ternyata sosok pria bule berambut coklat spike dengan sedikit jambang menyapa Jenny yang duduk sendirian.


Jenny masih diam, tak ingin menjawab sapaan pria tersebut. Wanita cantik itu hanya menatap pria bule yang berdiri di hadapannya sekilas.


Batin Jenny sangat paham dengan karakter pria bule, dia tidak ingin mengumbar senyumannya, karena itu akan menjadi salah arti.


Bisa jadi nanti Jenny dicap sebagai cewek gampangan.


"Siapa namamu cantik?"


Melihat Jenny yang tidak respon, membuat pria itu terpaksa menggunakan bahasa indonesia dengan aksen bule.


Jenny pun terkejut saat mendengar pria itu menanyakan namanya dengan bahasa indonesia.


"Hey Mark, . . What are you doing here?"


"Long time no see."


Tiba tiba Arjuna datang mendekat, memecah jarak antara Jenny dengan Mark. Arjuna seperti mengerti kalau wanitanya sedang digoda oleh Mark.


Mark adalah teman lama Arjuna waktu SMA dulu, parasnya yang berdarah Jerman membuat hampir semua kalangan wanita tergila gila padanya.


"Aku kangen Bali."


Hanya itu jawaban Mark.


Jenny masih tak habis pikir melihat interaksi dua lelaki tampan di hadapannya. Dia masih diam terpaku, sesekali lirikan matanya terarah pada Arjuna dan juga Mark.


"She's my wife Mark."


Ujar Arjuna mengakui Jenny itu istrinya, tangan kekar Arjuna langsung meraih bahu Jenny ke dalam dekapan.


"Oh.. this world so crazy."


Ucap Mark sambil menepuk keningnya.


Sejak dulu Mark selalu dikalahkan oleh pesona Arjuna, dan anehnya lagi mereka selalu tertarik dengan satu wanita yang sama. Jadi wajar saja kali ini Arjuna merasa sangat posesif terhadap kehadiran Mark.


Kalau masa Remaja dulu Arjuna sering mengalah untuk Mark, namun sekarang cinta Arjuna untuk Jenny bukan lagi cinta monyet yang mereka rasakan saat SMA dulu. Tentunya dengan seluruh kemampuannya Arjuna akan tetap mempertahankan Jenny, meski apapun yang terjadi.


"Jangan terbesit pikiran untuk tertarik dengan istriku Mark."


Gelagat Mark sudah mampu terbaca oleh Arjuna.


"Sejak dulu kita selalu tertarik dengan wanita yang sama. Ternyata kita tak berubah Juna."


Pengakuan Mark membuat dirinya terkekeh sendiri, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Jenny.


"Ternyata kamu masih sama seperti dulu Mark, sama sama gila."


Arjuna menimpali ucapan Mark, kemudian mereka saling tertawa. Sementara Jenny merasa cukup roaming dengan keakraban mereka.


"How about coffee to enjoy our time?"


"Ide bagus."


Sahut Arjuna, tidak mempedulikan perasaan Jenny yang sedikit tidak nyaman dengan keberadaan Mark.


•••


Mereka bertiga kini sudah berada di salah satu caffe yang masih terletak di sekitar kawasan ubud. Pemandangan hijau begitu nikmat ditemani secangkir kopi dan roti panggang berselai coklat.


Jenny sibuk memandang pesawahan luas yang menghijau, tak ingin mendengarkan celotehan Mark dan juga Arjuna.


"Juna, gimana ceritanya lo bisa ketemu cewek secantik Jenny?"


Mark yang tidak ingin membuat Jenny berada dalam situasi yang kikuk berusaha mencari topik obrolan yang melibatkan Jenny.


"Takdir."


Hanya itu jawaban Arjuna.


"Semua orang kalau berjodoh memang takdir Arjuna. Gimana sih lo!"


Jenny tak pernah menyangka kalau pria bule itu bisa lancar berbahasa gue - lo.


"Karena Jenny terlahir hanya untuk Arjuna. Iya kan sayang?"


Ujar Arjuna sambil memeluk bahu Jenny, dan mencium bagian pelipis Jenny. Pria itu dengan bangga memperlihatkan kemesraannya di depan Mark.


"Coba kalau gue duluan yang bertemu dengan Jenny."


Kilah Mark sambil menghela nafasnya.


"Lo sendiri gimana? Udah nikah belum?"


Giliran Arjuna yang bertanya tentang kehidupan Mark.


"Belum."


Jawaban yang singkat namun sudah terduga oleh Arjuna.


Sebenarnya Arjuna sudah tahu kalau Mark bukan tipikal pria yang mudah berkomitmen dalam satu hubungan, menurutnya pernikahan itu hanya akan menjerat ke dalam beberapa aturan yang merusak kebebasannya sebagai pria.


"Buruan nikah, anak gue udah dua. Sementara lo masih begini ajah."


Ucapan Arjuna terasa begitu menyudutkan Mark.


"Calm down man."


Kilah Mark dengan seringainya di hadapan Arjuna.


"Sayang aku kebelet pipis nih. Aku tinggal dulu ke toilet, gak papa kan?"


Tiba tiba Arjuna berbisik meminta izin pada Jenny.


"Jangan lama lama."


Jenny seperti tidak mau ditinggalkan oleh Arjuna. Wanita itu takut ditinggalkan berdua dengan Mark.


"Mark, awas lo! Jangan gangguin bini gue."


Ancam Arjuna sambil berlalu meninggalkan meja yang hanya diisi oleh Mark dan Jenny.


••••


Klik like ya 😉