Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 38 - Papih! Bukan papah!



Langit senja begitu indah membiaskan kemuning bercampur awan gelap. Wajah-wajah lelah kehidupan mulai tergurat dari semua pejuang hidup yang berada di bawah biasnya. Betapa indahnya jika senja ini dinikmati oleh lamunan. Hanya untuk mengingat kehidupan yang telah terlewat, walau hanya berteman secangkir teh hangat.


Wanita cantik berambut panjang yang menjuntai sampai punggung sedang hanyut dalam lamunan, mengingat pertemuannya siang tadi dengan wanita yang seumur hidup tak ingin dia temui.


Pertemuan Jenny dengan Alea masih menyesakkan ingatannya, seperti memutar kembali memory yang selalu ingin Jenny ingkari.


Sudah hampir tiga tahun lamanya Jenny tak pernah bertatap dengan Alea ataupun Frans, tapi hari ini seperti ada luka yang terkoyak kembali.


Setiap hari bahkan setiap detik yang telah Jenny lalui, selalu dia berpesan pada hatinya sendiri untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi di masa lalu, agar luka itu terasa biasa saja jika suatu saat nanti Jenny bertatap dengan wajah-wajah yang pernah menorehkan luka.


Peluk lukanya Jenn, agar sakit itu tidak lagi terasa.


Batin Jenny mengatakan demikian, mencoba memotivasi dirinya sendiri, mencoba mengikhlaskan semua yang telah terjadi, walau ikhlas itu sulit.


Perhatian Jenny kini beralih pada putranya yang sedang asyik bermain miniatur satwa. Cleo duduk di lantai teras rumahnya, bocah gempal berkulit putih itu sangat menikmati mainan favoritnya higga tidak mempedulikan tatapan sayang mamahnya.


Cukup lama Jenny memandangi Cleo, mengamati wajah putranya yang semakin hari semakin menyerupai wajah sang ayah. Garis simetris pola huruf 'T' di area wajah Cleo sangat mirip dengan Arjuna. Mulai dari bentuk dahi, mata, hidung, dan bibir semuanya persis dengan milik Arjuna.


Ada yang menggelitik batin Jenny saat memandangi wajah Cleo, hatinya teringat akan Arjuna yang kini hadir di hidupnya menawarkan cinta untuknya.


Terkadang Jenny merasa ingin berterimakasih pada Arjuna, karena malam tiga tahun yang lalu membuat dirinya memiliki Cleo. Menghadirkan Cleo yang selalu menjadi sumber kekuatan Jenny. Kalau saja malam itu tidak pernah terjadi, mungkin Jenny masih sendirian, tidak ada kebahagiaan lain yang mampu Jenny rasakan tanpa hadirnya Cleo.


Kedua bola mata Jenny berbinar melihat mobil berwarna hitam berhenti di halaman rumahnya, dapat Jenny pastikan itu mobil Arjuna. Jenny mengira kalau Arjuna datang sendirian, saat sang empunya mobil keluar tiba-tiba anak kecil perempuan berambut panjang sebahu dengan dress putih selutut berlari ke arah Jenny.


"Ante balbie...!"


Clarisa berteriak histeris sambil berlari ke arah Jenny, membuyarkan lamunan Jenny yang tengah menikmati senja di teras rumah. Jenny tidak asing dengan panggilan itu, dia masih dapat mengingat panggilan sayang Clarisa terhadapnya. Kemudian Jenny pun bangkit dari duduknya, berniat menyambut kedatangan Clarisa.


"Ante balbie, Clarisa kangen ante."


Clarisa mencurahkan kerinduan ke dalam pelukan Jenny, mendekap Jenny penuh semangat.


"Clarisa sudah tumbuh besar yah."


Ujar Jenny dengan membelai rambut hitam putri Arjuna. Clarisa seenaknya menghambur ke dalam pelukan Jenny tanpa mempedulikan keberadaan Cleo yang sedang asyik bermain miniatur satwa di lantai. Sementara Arjuna hanya mampu menatap teriring senyum menyaksikan kebahagiaan putrinya yang bertemu kembali dengan sosok barbie sungguhan, rasa bahagia pun tersirat dari wajah Arjuna.


"Iyah ante, Clarisa terus tumbuh tinggi. Papih yang selalu mengukur tinggi badan Clarisa."


Jenny terkekeh mendengar ucapan dari Clarisa, tak disangka kalau Arjuna sangat memperhatikan tumbuh kembang putrinya.


"Hebat juga yah papih Clarisa, itu tandanya papih sangat peduli dengan pertumbuhan Clarisa."


Anak kecil itu tidak mau membalas kalimat Jenny lagi, dia hanya butuh pelukan Jenny yang hangat. Clarisa hanya ingin merasakan secercah kasih sayang dari wanita dewasa yang tak pernah lagi Clarisa rasakan, seakan Jenny adalah sosok ibunda yang mendamaikan hatinya.


Cleo yang tersentak melihat interaksi mamahnya dengan Clarisa, tiba-tiba bangkit dari aktivitas bermainnya. Langkah kecilnya menuntun ke arah Clarisa. Ada gurat cemburu sosial dari mata Cleo.


"Ma ma ma."


Celoteh Cleo ketika jaraknya sudah dekat dengan Jenny, tangan kecilnya menggenggam dress warna putih yang Clarisa kenakan, kemudian menarik ujung dress dengan jemari kecilnya. Tarikan tangan Cleo semakin lama semakin bertenaga hingga mampu menyadarkan Clarisa kalau dress miliknya ada yang berusaha menariknya, tepatnya berusaha menjauhkan Clarisa dengan sang mamah.


"Wah, ada adik kecil. Lucu sekali."


Ujar Clarisa ketika berhasil membalikkan tubuhnya dari pelukan Jenny. Mata Clarisa tampak berbinar saat melihat sosok Cleo di belakangnya.


"Ma ma ma."


Cleo menyebutkan panggilan kepada mamahnya, tapi tatapannya menatap ke arah Clarisa.


"Mamah, bukan ma ma ma."


Clarisa memprotes panggilan Cleo terhadap Jenny.


"Anak tante belum bisa bercakap sempurna sayang."


Jenny memberikan sedikit pengertian kepada Clarisa.


"Baiklah, tapi siapa nama adik lucu ini?"


Clarisa mencubit pipi Cleo yang menggemaskan.


"Le... O."


Jawaban Cleo membuat Clarisa tak mengerti. Jika ada yang menanyakan namanya, Cleo selalu menjawab kalau nama dirinya adalah Leo maksudnya.


"Leo, nama adik kecil ini Leo mba, tapi nama sebenarnya Cleo."


Ujar Jenny, menjelaskan kata yang diucapkan putranya dan memanggilkan Clarisa mba untuk Cleo. Kemudian Clarisa menyodorkan tangan kanannya, menjabat jemari kecil Cleo.


"Kenalin yah adik kecil, namaku clarisa, usiaku enam tahun. Adik kecil bisa panggil aku mba Clarisa."


Clarisa terlihat riang saat bertemu dengan Cleo. Sikap riangnya persis dengan mendiang mamihnya yang telah tiada.


"Ba ba ba."


Hanya itu jawaban Cleo menanggapi kalimat Clarisa.


"Ante, aku gak ngerti. Kok jawaban Cleo cuma bilang ba ba ba?"


Jenny tersenyum kecil saat Clarisa berbalik ke arahnya, menanyakan maksud dari Cleo.


"Mba. Leo sedang memanggil Clarisa mba."


Clarisa hanya tersenyum sambil membelai wajah Cleo. Betapa lucunya anak laki-laki di hadapannya itu. Jenny kemudian meraih tubuh Cleo, membawanya ke dalam gendongan.


"Pulang jam berapa tadi Jenn?"


Arjuna baru berani bertanya saat interaksi Clarisa dengan Cleo berhenti.


"Pulang jam lima sampai rumah. Ayo ajak Clarisa masuk."


Jawab Jenny. Kemudian langkah Jenny memasuki ruang tamu. Arjuna dan Clarisa mengikuti langkah Jenny.


"Clarisa mau minum apa?"


Jenny menawarkan minuman untuk putri Arjuna.


"Clarisa mau minum susu putih."


Putri Arjuna sama sekali tidak sungkan pada tawaran Jenny.


Jenny kini bertanya pada Arjuna.


"Secangkir coffe mix sepertinya lebih nikmat dari buatan tanganmu Jenn."


Rupanya Arjuna sudah mulai pandai merayu Jenny.


"Baiklah, tapi titip Cleo dulu."


Jenny menyerahkan Cleo ke dalam pangkuan Arjuna, kemudian langkahnya menuju dapur untuk menyiapkan minum untuk Clarisa dan juga Arjuna.


"Pa pa."


Cleo memanggil Arjuna seperti biasanya. Clarisa yang mendengar panggilan Cleo terhadap Arjuna, langsung terperanjat.


"Papih! Bukan papah!"


Rupanya Clarisa ngotot akan panggilannya terhadap Arjuna, membenarkan panggilan Cleo untuk satu suara dengannya.


"Anak kecil belum bisa bicara selantang Clarisa sayang, jadi wajar kalau Cleo panggil papih dengan sebutan papah."


Clarisa hanya diam mendengar nasehat papihnya, lalu menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Arjuna dan juga Cleo."


"Sekarang Clarisa senang tidak bertemu dengan Cleo?"


Arjuna mencoba mencuri isi hati putrinya.


"Senang sih pih."


"Kok pake sih?"


Arjuna langsung memotong jawaban Clarisa yang terdengar seperti tidak ikhlas.


"Clarisa sudah lama pengen punya adik kecil, apa lagi selucu Leo pih. Tapi Clarisa juga takut kalau ante balbie jadi gak sayang sama Clarisa pih. Dulu kan ante balbie belum punya adik kecil ini."


Ternyata pola pikir Clarisa sudah jauh, padahal usia Clarisa baru saja enam tahun.


"Tentu tidak sayang. Tante barbie masih sama seperti dulu. Buktinya kedatangan Clarisa hari ini disambut hangat sama tante barbie."


Arjuna berusaha meyakinkan putrinya.


"Iya ya pih."


Clarisa akhirnya menyadari kasih sayang Jenny yang tak berubah terhadapnya.


Jenny sudah kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman.


"Minuman datang."


Ujar Jenny penuh semangat, kemudian meletakkan nampan tersebut di meja. Clarisa pun segera mengambil susu putih kesukaannya, begitupun dengan Arjuna yang langsung menikmati secangkir kopi buatan Jenny.


"Terimakasih Jenn."


Jenny hanya membalas dengan senyuman.


"Leo ayo main sama baba."


Ajak Clarisa dengan menyebutkan dirinya baba, yang artinya mba versi Cleo.


Arjuna yang menunggu celah untuk bisa berduaan dengan Jenny langsung mengajak kedua anaknya ke ruang TV, karena ruang disana lebih luas. Tidak ada tembok pembatas antara ruang tamu dengan ruang TV, sehingga masih dapat terkontrol oleh Arjuna maupun Jenny.


Kini Arjuna kembali duduk di samping Jenny dengan jarak yang begitu dekat, kemudian mencium pipi Jenny sesaat, dan itu sukses membuat Jenny terperanjat.


"Dari tadi aku gak tahan pengen cium kamu sayang."


Bisik Arjuna, yang sudah menyandarkan kepalanya di bahu Jenny.


"Ada anak-anak, kamu harus kendalikan sikapmu."


Kilah Jenny, walau sebenarnya dia pun merasa senang diperlakukan semanis ini oleh Arjuna.


"Bodo amat. Aku sudah tak kuasa menahan rindu padamu Jenn, bahkan di sela aktivitas kantor aku selalu terbayang wajahmu."


Jenny terkekeh mendengar pengakuan Arjuna.


"Oh iya, kenapa kamu tidak bilang sebelumnya kalau Clarisa akan dibawa kesini?"


Kalau saja Arjuna bilang terlebih dahulu, pastinya Jenny akan menyiapkan beberapa kue untuk Clarisa.


"Mumpung ada waktu, kebetulan aku pulang cepat hari ini."


Ungkap Arjuna yang masih manja di bahu Jenny, bahkan tangan kekarnya sudah melingkar di pinggang Jenny.


"Dia sudah tumbuh cantik ya, hampir tiga tahun tidak bertemu."


"Hampir tiga tahun juga kamu menghilang."


Sergah Arjuna, bermaksud menyalahkan kepergian Jenny darinya. Sayangnya Jenny hanya tersenyum mendengar kalimat Arjuna. Kemudian Jenny mengelus bahu Arjuna penuh kasih.


Tidak terlalu banyak pembicaraan diantara Jenny dengan Arjuna, mereka hanya ingin menikmati momen bahagianya saat ini. Walau tanpa rentetan kalimat, tidak menyurutkan perasaan cinta di antara mereka, yang Arjuna butuhkan hanyalah bahu untuk bersandar dari segala penat aktivitasnya, begitupun dengan Jenny yang sama membutuhkan kehadiran Arjuna di sisinya.


"Honey, aku ingin membawamu ke rumah ibuku."


Jenny terkejut mendengar kalimat Arjuna, lalu bangkit dari sandaran sofa, menegakkan posisi duduknya.


"Kamu serius Juna?"


Wanita itu menatap Arjuna lekat, meyakinkan kembali ucapan Arjuna, karena Jenny masih belum siap untuk bertemu orang tua Arjuna.


"Kalau aku tidak serius, mana mungkin aku bawa Clarisa kesini Jenn."


Memang benar apa yang diucapkan Arjuna, tidak mungkin pria itu mengenalkan Clarisa ke dalam hidup Jenny, tapi rasanya ini terlalu cepat bagi Jenny.


"Ayo lah Jenn, aku sudah tak kuasa menahan semua ini. Aku ingin segera hidup satu atap bersamamu."


Arjuna menarik wajah Jenny, menyatukan pandangannya, agar sirat kejujuran hatinya tersampaikan.


••••