Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 50 - Singkirkan tangan kotormu!



Langkah kaki Jenny menyusuri salah satu hotel mewah di Jakarta. Rencananya Jenny akan mengurus kontrak kerjasama dengan pemilik hotel.


Bisnis wedding organizer milik William selalu mencari lokasi baru yang pas dengan selera klien. Hotel ini menjadi hotel yang hits di beberapa kalangan, membuat Jenny berinisiatif untuk melakukan kerjasama yang harus segera terjalin.


Jenny sudah menginformasikan ke bagian resepsionis kalau niatnya datang ke hotel untuk bertemu dengan owner hotel, perihal kerjasama bisnis. Kemudian Jenny meninggalkan nomor handphone kepada resepsionis tersebut agar bisa menghubungi Jenny kalau pemilik hotel sudah siap bertemu, karena Jenny tidak ingin menghabiskan waktu menunggunya dengan hanya duduk-duduk di lobi hotel, dia ingin bergerak bebas melihat-lihat bangunan hotel tersebut.


Derap langkah Jenny sangat pelan, matanya masih berbinar setelah melihat suasana hotel yang menyejukkan dengan desain interior bertema klasik.


Jenny ingin mencoba lift yang ada di dalam hotel tersebut, lalu dia tekan tombol angka dua. Kabarnya di lantai dua terdapat caffe yang masih didesain klasik, ada alunan musik akustik di caffe tersebut, membuat Jenny semakin penasaran ingin mendatanginya.


Terdengar alunan musik akustik yang mendamaikan hati Jenny, biarlah Jenny duduk sejenak bersantai dengan memesan secangkir vanilla latte sambil menikmati alunan musik akustik. Lagu yang dibawakan cukup menghibur hati Jenny, lagu cinta milik Yura feat Glenn - Cinta dan rahasia yang sudah membuat Jenny sedikit ikut bersenandung.


Mulut Jenny masih melantunkan lagu, namun jemarinya masih sibuk membalas beberapa pesan whatsapp terkait pekerjaan. Pandangan Jenny hanya tertuju pada ponselnya.


"Jenny."


Seorang pria memanggil nama Jenny, dia berdiri tepat di hadapan meja Jenny. Seketika itu juga wajah Jenny menengadah ingin tahu siapa pria yang sudah datang menghampirinya.


"Frans. . ."


Jenny tak percaya pria itu datang menemui Jenny, bisa-bisanya dia ada disini.


Apa dunia terlalu sempit?


Jenny segera beranjak dari tempat duduknya, tak menghiraukan vanilla latte kesukaannya yang baru dia minum satu teguk.


Tangan Frans langsung menahan lengan Jenny, agar tidak beranjak darinya.


"Aku owner hotel ini Jenny."


Bisik Frans tepat di telinga Jenny.


"Kamu semakin cantik saja Jenn. I miss you so much."


Jenny menganggap Frans sudah gila.


Andai Jenny tahu kalau hotel ini milik Frans, semua proposal kerja samanya tidak akan pernah dia kirimkan.


"Lepaskan aku Frans."


Rahang Jenny mulai mengeras, merasa geram akan tingkah Frans yang sangat tidak pantas menurut Jenny. Tak seharusnya Frans masih mengejar Jenny, dia sudah mempunyai kehidupannya sendiri bersama Alea. Rasanya tidak perlu lagi Frans membayang-bayangi hidup Jenny kembali.


"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu Jenn. Keputusan terbodoh yang pernah aku buat di masa lalu adalah melepasmu. Kali ini aku akan membawamu kembali di hidupku. Jika kamu meminta aku untuk menceraikan Alea, hari ini juga akan kulakukan Jenn."


Jenny merasa aneh akan sikap Frans kali ini. Selama Jenny mengenal Frans belum pernah dia senekad ini dan sekasar ini sampai Jenny merasa ketakutan akan cengkraman tangan Frans di lengan Jenny.


"Kamu pikir semua yang telah terjadi dapat kamu kendalikan seenaknya."


Jenny semakin geram melihat wajah Frans walau semburat rasa takut itu lebih besar menyelinap di batin Jenny, tapi sekali lagi Jenny tidak ingin terlihat lemah di hadapan Frans. Ingin sekali Jenny lari dari tempat tersebut, tapi tangan Frans terlalu kuat untuk Jenny lepaskan, sampai Jenny berusaha meronta pun tetap saja tenaganya tidak mampu mengimbangi genggaman Frans.


Tiba-tiba kalimat itu muncul dari belakang Frans, sementara Jenny yang sudah lebih dulu melihat kehadiran pria tersebut seolah tak percaya.


Frans membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa pria yang sudah berani menyuruhnya melepaskan Jenny.


"Oh Arjuna rupanya."


Ujar Frans yang masih berpura-pura santai, tapi seperti merendahkan Arjuna.


"Lepaskan Jenny! Jangan sentuh dia sedikitpun."


Arjuna semakin geram melihat Frans yang masih menggenggam tangan Jenny, walau posisi Frans sudah berbalik arah menatap Arjuna.


"Kalau tidak bagaimana Jun?"


Frans semakin menantang Arjuna.


"Kalau tidak. . ."


Arjuna tidak melanjutkan kalimatnya, lalu. . .


Brugggggghhhh!


Hantaman keras di wajah Frans melesak dari tangan Arjuna sampai Frans tersungkur di meja caffe, bibir Frans pun sedikit robek mengalirkan darah segar di sudut bibirnya.


Arjuna tidak mau menyiakan kesempatan itu, dia langsung menarik lengan Jenny, bahkan tanpa ragu langsung ******* bibir Jenny di hadapan Frans, di hadapan beberapa pengunjung caffe.


Untung saja pengunjung caffe tak sepadat biasanya, bisa-bisa nama Jenny dan Arjuna akan menjadi trending di dunia media sosial.


Dapat Frans saksikan bagaimana Arjuna mencium Jenny dengan gaya ciuman ala-ala pria Francis. Arjuna menarik lengan Jenny kemudian langsung melesakkan bibirnya di bibir Jenny yang sebenarnya telah lama Arjuna rindukan.


Cukup lama Arjuna mencium Jenny tanpa gerakan sensual bibirnya. Ciuman itu hanya menyampaikan pesan rasa cinta dan penyeselan Arjuna yang sudah tak mempedulikan Jenny akhir-akhir ini, kemudian Arjuna mendekap erat tubuh Jenny dengan posisi Jenny yang membelakangi Frans, tapi berbeda dengan posisi Arjuna yang justru mampu melihat Frans dengan jelas.


Kedua bola mata Arjuna mengisyaratkan ancaman untuk Frans, seolah menyampaikan pesan pada Frans untuk tidak mengusik kehidupan Jenny lagi.


Jari telunjuk Arjuna menunjuk tepat ke arah Frans.


Jangan coba-coba kembali di kehidupan Jenny.


Batin Arjuna mengancam Frans sepenuhnya.


Bagaimanapun juga Arjuna takut cinta Jenny untuk Frans akan tumbuh kembali. Apalagi Frans yang sudah siap melepaskan Alea begitu saja demi Jenny.


••••


Happy reading 😉