Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 60 - Maafkan Ayah



Satu minggu telah berlalu setelah kepergian Alea dari rumah Frans. Bahkan Frans sudah mengurus proses perceraian dengan Alea.


Hanya dalam satu minggu saja Frans sudah dinyatakan sah bercerai dengan Alea. Rupanya Frans sengaja menggunakan jasa pengacara handal untuk mengurus proses perceraiannya, akibat rasa benci yang terlalu dalam kepada Alea.


Sebenarnya Frans tidak tega kepada Poppy yang sering merasa kehilangan Alea. Hampir tiap hari Poppy selalu menanyakan keberadaan Alea, namun Frans tetap tak ingin mempertemukan Poppy dengan Alea.


Alea sudah berjanji pada Frans untuk tidak menampakkan dirinya lagi di hadapan Poppy. Alea takut kalau Frans akan menyeretnya ke ranah hukum akibat kasus manipulasi data perusahaan.


Ancaman Frans tidak main-main kepada Alea. Lagipula Poppy lebih sering menghabiskan waktunya dengan bi Irah sejak Alea ada maupun tidak ada. Anak perempuan satu-satunya yang sudah Frans anggap seperti putri kandungnya itu sudah menyatu dengan kasih sayang bi Irah.


Tiba-tiba terdengar suara bel dari pintu utama rumah Frans.


"Biar bibi saja yang buka pintunya."


Bi Irah langsung menuju pintu utama, dia meminta izin kepada Frans yang masih setia memangku Poppy di sofa ruang TV.


Sesampainya di pintu utama bi Irah tercengang akan sosok Wicaksana Saputra. Rupanya mendiang ayah Frans yang datang, setelah bertahun-tahun lamanya ayah Frans sibuk mengurus bisnisnya di  Turki, kini dia kembali.


"Tuan Wicaksana."


Bi Irah sangat terkejut akan kedatangan majikan lamanya. Sejenak bi Irah berpikir pasti kedatangan Wicaksana ingin menemui putra dan juga menantunya Jenny.


Ayah Frans sama sekali tidak pernah tahu akan perceraian Frans dengan Jenny, bahkan Wicaksana sudah membawakan oleh-oleh sari kurma yang berkhasiat sebagai penyubur untuk Jenny dan juga Frans, agar mereka segera dikaruniai keturunan.


"Apa kabar bi Irah?"


Ayah Frans memang sosok orang kaya yang penuh hormat, dia tidak pernah memandang orang hanya dari status sosial saja.


"Alhamdulillah baik tuan."


Sahut bi Irah sambil menyambut kedatangan majikan tertuanya.


"Frans dan Jenny ada di dalam kan bi?"


Degggg


Jantung bi Irah berpacu lebih cepat, dia tidak pernah menyangka kalau tuan Wicaksana tidak pernah tahu soal perceraian Frans dengan Jenny.


"A.. Ada tuan, di dalam. Ayo masuk."


Jawaban bi Irah terbata-bata. Biarlah dia berbohong, biar Frans sendiri yang menjelaskan semuanya.


Pria paruh baya itu memasuki rumah Frans, sementara bi Irah langsung menuju keberadaan Frans.


"Tuan muda, di depan ada ayah tuan muda."


Seketika itu juga Frans langsung terperanjat.


"Serius bi?"


Frans masih tidak percaya akan informasi yang diberikan oleh bi Irah.


"Iya tuan, bi Irah tidak bohong."


Raut wajah bi Irah terlihat panik, begitupun dengan Frans. Dapat Frans pastikan kalau ayahnya akan mempertanyakan keberadaan Jenny, justru Wicaksana akan bertanya siapa Poppy? Apalagi posisi Frans yang kini sedang memangku Poppy.


"Bi Irah tolong bawa Poppy ke kamar."


Frans menyerahkan Poppy kepada bi Irah.


"Baik tuan."


Bi Irah pun berlalu dari hadapan Frans, menuruti perintah Frans. Kemudian pria gagah bermata coklat itu segera beranjak dari sofa untuk menemui ayahnya.


"Ayah."


Panggil Frans yang langsung menjabat tangan Wicaksana, kemudian mereka saling melepas rindu dengan pelukan sesaat.


"Ayah merindukanmu nak."


Wicaksana menepuk-nepuk bahu Frans.


"Anak ayah semakin jelek saja."


Pria paruh baya itu menyelidik rupa putranya yang masih berantakan, badan Frans pun semakin kurus, aura wajahnya gelap seperti memikul beban berat.


"Ah ayah bisa saja mujinya."


Frans masih berusaha menutupi keadaan.


"Jenny mana Frans?"


Mendengar pertanyaan ayahnya membuat Frans tertunduk lemas.


Frans mengajak Wicaksana masuk ke ruang tengah lalu dia membuatkan secangkir kopi hangat untuk ayahnya.


"Kopi hitam kesukaan ayah nih, sengaja Frans sendiri yang buat. Sudah lama kan ayah tidak menikmati kopi buatan Frans?"


Kebiasaan lama yang ayah Frans rindukan adalah kopi buatan putranya. Sejak usia SMP Frans sering membuatkan kopi untuk Wicaksana.


"Iya ya, ayah hampir lupa rasa kopi buatanmu."


Ujar Wicaksana yang hanya ditanggapi senyuman oleh Frans.


"Oh iya dari tadi kamu belum menjawab pertanyaan ayah, kemana Jenny? Lagian rumah terlihat sepi sekali Frans."


Wicaksana semakin penasaran pada keberadaan Jenny. Sementara Frans hanya mampu menghela nafasnya dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menceritakan semua yang terjadi antara rumah tangganya bersama Jenny.


"Jenny sudah pergi dari rumah ini Yah."


Ucapan Frans barusan membuat Wicaksana sedikit tersedak saat meneguk kopi buatan Frans.


"Apa maksud ucapanmu barusan Frans?"


Ayah Frans masih tidak percaya.


"Frans dan Jenny sudah bercerai tiga tahun lalu. Semua terjadi akibat kesalahan Frans sendiri yang sudah menyiakan Jenny. Frans berselingkuh dengan Alea, sekertaris di kantor Frans. Hanya demi mendapatkan seorang anak membuat Frans gelap mata menikah sirih dengan Alea."


"Dan Jenny yang tidak sanggup untuk dimadu pasti lebih memilih pergi meninggalkanmu, dia lebih memilih bercerai denganmu Frans."


Ayah Frans sangat mengerti sikap Jenny, dia sangat paham wanita seperti apa menantunya itu.


"Iya ayah. Jenny lebih memilih pergi dari hidup Frans."


Wicaksana mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia kecewa akan tingkah laku putranya, bukan hanya itu saja Wicaksana juga kecewa pada istrinya Lina yang tidak pernah memberitahukan masalah yang terjadi pada putranya.


"Keterlaluan kamu Frans, hanya karena menuntut kehadiran seorang anak kamu bisa menyiakan Jenny begitu saja. Dia wanita baik-baik Frans, asal kamu tahu beberapa rekanan bisnis ayah banyak yang iri padamu bisa mendapatkan wanita seperti Jenny."


Hubungan mereka memang dipersatukan oleh Wicaksana. Betapa hancurnya perasaan Wicaksana saat ini setelah tahu Jenny sudah tidak lagi menjadi menantunya.


"Maafkan Frans ayah, Frans mohon. Sekarang Frans pun menyesal sudah melepaskan Jenny, hanya demi Alea dan juga putrinya. Kenyataannya satu minggu yang lalu Frans sudah berhasil membongkar kedok Alea dan mengurus perceraian dengan Alea. Putri yang dikandung Alea ternyata bukan darah daging Frans. Dia sudah menjalin hubungan dengan pria lain sebelum Frans dekat dengannya."


Wicaksana memejamkan kedua bola matanya, mencoba memberikan ruang sabar yang tiada batas di hatinya.


"Apa Alea dan anaknya sudah pergi?"


Wicaksana semakin ingin memastikan keadaan.


"Hanya Alea yang pergi, karena Frans tidak sanggup jika harus kehilangan Poppy. Apalagi kini Frans tahu kenyataannya kalau Frans lah yang mandul."


Lengkap sudah kepedihan hati ayah Frans, dia masih tidak habis pikir kepada istrinya. Bisa-bisanya menyembunyikan masalah sebesar ini.


"Maafkan ayah Frans, yang terlalu sibuk dengan bisnis, hingga melupakan keberadaanmu nak. Maafkan ayah nak."


Air mata mulai mengalir dari kedua bola mata Wicaksana.


"Tidak ayah, ayah tidak salah. Andai saja Frans menuruti pesan ayah untuk menjaga keutuhan rumah tangga, mungkin semuanya tidak akan seperti ini."


Frans meraih jemari ayahnya, dia berusaha meyakinkan ayahnya agar tidak merasa bersalah atas apa yang telah terjadi di rumah tangga Frans.


"Apa Jenny sudah menikah lagi Frans?"


Pertanyaan itu seketika muncul dari bibir Wicaksana.


"Frans rasa belum. Tapi beberapa waktu lalu Frans sempat ribut dengan Arjuna, sepertinya dia sangat tertarik dengan Jenny."


"Maksud kamu Arjuna Prasetya? Direktur dari A&J bukan?"


Sergah Wicaksana, meyakinkan dugaannya. Lagipula siapa yang tidak kenal Arjuna, bahkan perusahaan Frans ikut andil dalam kerja sama bisnis. Hanya saja saham milik perusahaan Arjuna lebih besar dibandingkan perusahaan Wicaksana.


"Iya ayah."


Hanya itu jawaban Frans. Tatapan Frans terlihat pasrah.


"Cari mati kamu sudah berani berurusan dengan Arjuna. Bisa-bisa dia menghabisi kerja sama bisnis kita."


Wicaksana sangat paham akan skill bisnis yang dimiliki oleh Arjuna, bahkan secara usia Arjuna lebih tua dari Frans. Wicaksana takut jika Arjuna akan membawa urusan pribadi ke dalam urusan perusahaan, dan itu tentunya akan menyulitkan perusahaan Wicaksana.


Pria paruh baya itu sudah sangat paham silsilah keluarga Prasetya dalam bisnis. Jika mereka sedang berada di atas tidak segan-segan menghabisi perusahaan yang dianggapnya sebagai kompetitor.


"Ikhlaskan saja Jenny Frans. Jangan berharap untuk kembali bersamanya. Biarkan Jenny bahagia bersama pria yang mampu membahagiakan Jenny, tapi ayah juga ingin berkunjung ke rumah Linda. Ayah ingin meminta maaf atas semua yang telah terjadi diantara rumah tangga kalian."


••••