
Pagi yang terasa sangat indah bagi Cleo, belum pernah Cleo rasakan sebelumnya. Ketika kedua bola mata yang bulat hitam itu terbuka di pagi hari, menatap dua orang dewasa di sisi kiri dan kanan.
Jenny dan Arjuna masih terlelap dalam tidur masing-masing. Tangan kecil Cleo mengusap wajah Jenny lebih dulu, kemudian berganti ke samping kanan, mengamati wajah pria tampan yang sering dipanggil papah olehnya.
Jemari kecil Cleo menyusuri wajah Arjuna, mengusapnya perlahan, tapi Arjuna masih tetap lelap dalam tidurnya. Sementara Jenny yang peka akan sentuhan Cleo tadi, seperti merasakan kalau putranya sudah terbangun dari tidur.
"Cleo sudah bangun."
Jenny menyapa putra kesayangannya, berusaha bangkit dari posisi tidurnya.
"Pa pa."
Celoteh Cleo, sambil menunjuk ke arah Arjuna.
"Iya sayang, itu papah."
Jenny baru menyadari kalau semalam dirinya tidur bersama Arjuna, beruntung ada Cleo yang memberikan jarak diantara mereka.
"Pa pa pa."
Cleo tak henti-hentinya memanggil Arjuna dengan panggilan papah. Akhirnya Arjuna pun terbangun akibat celotehan Cleo. Sementara Jenny hanya tersenyum kecil menyaksikan interaksi putranya dengan Arjuna.
Apa sebahagia ini mempunyai keluarga yang utuh?
Batin Jenny mengatakan demikian, hatinya merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Rasanya sangat sulit untuk Jenny ungkapkan. Melihat kedua pria yang Jenny cintai, sangat terasa mendamaikan hatinya.
"Anak papah pagi-pagi sudah iseng bangunin papah."
Arjuna meraih tubuh gempal Cleo, membawanya ke dalam dekapan. Menganggap Cleo sudah seperti bantal guling, kemudian menciumnya tanpa henti.
"Panggil mamah sayang."
Bisik Arjuna di telinga putranya, menyuruh Cleo untuk mengajak Jenny bergabung dalam cengkrama keluarga kecil di pagi hari.
"Ma.. Ma.."
Cleo seperti mengerti perintah papahnya. Bocah itu seperti tahu kalau mamah dan papahnya harus tetap berada dalam hubungan yang harmonis.
Jenny hanya tersenyum melihat keduanya, kemudian bangkit bergegas menuju toilet. Tak ingin menghiraukan Arjuna yang sedang memanfaatkan Cleo untuk merayu dirinya, agar mau bergabung ke dalam dekapan Arjuna.
"Hmmm.. Mamah kok pergi?"
Ujar Arjuna, setelah Jenny melangkah menuju toilet.
"Ini sudah siang Juna, bisa-bisa aku terlambat ke kantor."
Teriak Jenny, langkahnya sudah sampai di dapur.
Arjuna hanya tersenyum mendengar jawaban Jenny.
Mungkin rasanya seperti ini, hidup bersamamu Jenn.
Bisik hati Arjuna dengan raut wajah yang tersenyum sendirian sambil mengacak rambutnya, membayangkan senyuman indah Jenny di pagi hari.
"Mamahmu memang menggemaskan sayang."
Arjuna mengajak bicara pada putranya yang masih berguling ke kanan ke kiri di atas tempat tidur, tak mempedulikan ucapan papahnya barusan.
•••
Sepanjang perjalanan tak hentinya Arjuna bersiul riang dibalik kemudi, bibirnya sesekali bersenandung mengikuti lirik lagu cinta yang Arjuna putar di dalam mobil.
Hati Arjuna belum pernah sebahagia ini, selama hampir tiga tahun setelah kepergian Claudia. Tidak ada wanita yang mampu menggetarkan hatinya kembali selain Jenny, walau tak sedikit wanita yang mencoba mendekati Arjuna, namun tidak ada satupun yang berhasil memikat hatinya selain Jenny.
"Kau membuatku gila Jenny Florencia."
Ucap Arjuna, ketika mobilnya berhenti di perempatan lampu merah.
Arjuna baru saja mengantarkan Jenny ke butik milik Claudia, tepatnya milik Arjuna juga, karena modal usaha membuka Cla Design` masih bersumber dari keuangan Arjuna. Kadang Arjuna merasa kesulitan untuk mencari orang yang berbakat seperti Claudia, agar bisnis butik istrinya tetap berjalan, meski Claudia telah tiada. Sulit bagi Arjuna mencari orang dengan kapasitas yang sama seperti Claudia, dalam perihal fashion design.
Jenny yang awalnya mengungkapkan sedikit masalah di pekerjaan, mengenai kendala gaun pengantin yang dipesan oleh kliennya sudah tak tersedia dengan model yang sama membuat Arjuna berpikir untuk mengantarkan Jenny ke Cla Design`. Berharap Jenny akan menemukan beberapa alternatif gaun pengantin yang bisa diterima oleh kliennya disana.
Arjuna mempercayakan keberadaan Jenny pada salah satu manager butik miliknya yang bernama Tika, bahkan dia memperkenalkan Jenny sebagai calon istrinya pada Tika.
Wanita yang Arjuna percaya untuk mengurus Cla Design` itu merasa sangat senang, kalau majikannya kini sudah mampu menemukan tambatan hatinya kembali, setelah kepergian Claudia.
Setelah Jenny sampai di butik, dia meminta Arjuna meninggalkannya, agar Arjuna tidak terlambat datang ke kantor. Biarlah Jenny melihat-lihat beberapa gaun pengantin hasil desain Claudia sendiri, karena membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menentukan pilihannya.
Lampu hijau pun sudah menyala, Arjuna kembali melajukan mobilnya, melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Tentunya Arjuna akan lebih bersemangat saat bekerja, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kehidupan Arjuna terasa lebih berwarna, setelah cintanya terbalaskan oleh Jenny.
•••
Berbagai gaun pengantin banyak tertata rapi di butik milik Claudia, tak hentinya binar takjub dari sorot mata Jenny terbias. Gaun-gaun pengantin yang sangat indah menurut Jenny, betapa kecewanya butik ini yang telah kehilangan sosok Claudia, kehilangan tangan mahirnya dalam desain.
Meski hampir tiga tahun berlalu, model gaun pengantin dan beberapa kebaya pengantin tidak tampak terlihat sebagai stok jadul di mata Jenny. Kualitas desain yang Claudia miliki sungguh sangat luar biasa.
"Ibu Jenny, coba lihat-lihat kesini. Siapa tahu ibu menemukan yang cocok buat klien."
Tika begitu setia membantu kebutuhan Jenny, meminta Jenny untuk memasuki butik ke area lorong sebelah kanan, ternyata masih banyak model lain lagi disana.
Jenny menemukan gaun yang menurutnya pas untuk Mela, lalu Jenny mengambil ponsel dari dalam tasnya, untuk mengambil foto gaun tersebut. Jenny mengirim foto gaun via whatsapp kepada Mela.
"Mba Tika, biarkan aku sendirian saja melihat gaunnya. Mba Tika pasti banyak pekerjaan lain."
Ujar Jenny, mencoba mengerti di posisi Tika.
"Apa ibu Jenny tidak keberatan kalau aku tinggalkan?"
Tika memastikan wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu bos di butik ini.
"Tidak apa-apa mba, aku bisa mengerti. Manager itu selalu sibuk dengan berbagai projek lain."
Pekerjaan Jenny pun sama posisinya seperti Tika, sehingga dia paham bagaimana sibuknya mengelola bisnis yang sudah dipercayakan oleh atasan.
"Baiklah ibu Jenny, aku tinggal dulu yah. Kalau butuh apapun ibu boleh panggil aku saja, nanti ada karyawan lain yang siap membantu ibu Jenny."
Jenny pun tersenyum mendengar ucapan Tika yang penuh perhatian terhadapnya.
"Oh iya mba, jangan panggil aku ibu, aku bukan siapa-siapa disini."
Sebenarnya Jenny sangat merasa risih ketika Arjuna memperkenalkan dirinya sebagai calon istri terhadap Tika, seharusnya Arjuna tidak terlalu fulgar, karena hubungan mereka baru saja dimulai.
"Ibu Jenny kan calon istri pak Arjuna, sudah seharusnya aku memanggil Ibu, bahkan ibu bos tepatnya."
Tika terkekeh di akhir kalimatnya.
"Sepertinya usia kita tidak berbeda jauh deh mba Tika."
Memang benar perkiraan Jenny, usia Tika hanya terpaut satu tahun di bawah Jenny.
"Baiklah, bagaimana kalau aku panggil mba Jenny?"
Tawar Tika, kemudian Jenny pun menyambut dengan senyuman.
"Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu yah mba Jenny."
Tandas Tika mencoba pamit dari hadapan Jenny.
Jenny kembali melihat-lihat gaun sambil menunggu balasan pesan dari Mela. Kini langkahnya tertuju ke area gaun pesta, banyak gaun pesta yang sangat indah disana.
"Claudia dengan bakat sehebat ini, sungguh terlalu cepat kepergianmu."
Gumam Jenny lirih sambil menyentuh gaun hitam berhias pernak-pernik bebatuan antik di bagian dada.
Derap langkah sepatu heels terdengar dari arah belakang Jenny, membuat Jenny penasaran siapa yang datang ke arahnya. Jenny berpikir mungkin itu karyawan Arjuna yang lain, kemudian tubuh Jenny berbalik arah, ingin mengetahui siapa wanita di belakangnya.
Nafas Jenny sedikit sesak, saat didapatinya wajah yang dulu Jenny ingat, wajah yang sulit Jenny lupakan, wajah yang menorehkan luka yang dalam untuknya.
"Alea."
Ucap Jenny, menyebut nama wanita yang telah memporak-porandakan rumah tangganya dulu.
Tak pernah Jenny kira sebelumnya akan bertemu Alea di butik milik Arjuna. Jangan-jangan Alea mengenal Arjuna ataupun Claudia.
Batin Jenny tak hentinya memaki pertemuannya dengan Alea. Wajah yang tak ingin Jenny lihat lagi, kini justru tepat berada di hadapan Jenny.
Alea pun sama terkejutnya melihat Jenny, setelah hampir tiga tahun lamanya mereka dipertemukan kembali, tapi luka dan kebencian diantara mereka masih belum usai.
••••
Klik vote nya yah 😊😄😉