
Sekitar pukul tujuh malam Frans pulang dari aktivitas kantornya. Wajah Frans nampak lelah dan lusuh akibat urusan pekerjaannya. Bukan hanya itu saja, tepatnya emosi Frans nampak tidak stabil sejak kejadian tadi pagi bersama Jenny dan juga Arjuna.
Frans memasuki rumah mewahnya tanpa mengucap salam terlebih dahulu, lalu dihempaskannya tas dan kunci mobil di sofa ruang tamu.
Langkah Frans menyusur ke ruang tengah mencari sosok istrinya Alea, dia ingin meminta Alea membuatkan secangkir kopi untuknya karena kopi buatan Alea rasanya sangat pas di lidah Frans. Sejak Alea menjabat sebagai sekertaris hal pertama yang disukai dari Alea adalah racikan kopi dari tangannya.
Baru saja Frans sampai di pintu masuk ruang TV, tiba-tiba langkah Frans terhenti setelah melihat Alea yang sedang menelpon seseorang. Frans tidak tahu Alea sedang berbicara dengan siapa? Yang jelas nada bicara Alea terdengar bisik-bisik, membuat Frans sedikit curiga pada Alea. Tidak biasanya Alea bertingkah seperti ini.
Apakah ada yang kamu sembunyikan dariku Alea?
Batin Frans bertanya demikian.
Frans tetap mendengarkan dan memperhatikan gerak-gerik Alea yang mencurigakan, dia tidak ingin Alea mengetahui keberadaan dirinya.
"Jangan datang ke rumah ini! Biar kita bertemu di luar saja."
Hanya itu yang mampu terdengar oleh Frans dari bibir Alea.
Kenapa Alea terlihat seperti ketakutan? Pasti ada yang tidak beres.
Batin Frans kembali bertanya-tanya.
Alea langsung memutuskan sambungan telpon, dia kembali menyimpan handphone miliknya ke dalam saku celana, lalu langkahnya menuju lantai dua sambil berlari cepat, tak menyadari kehadiran Frans.
Sekitar lima menit Alea kembali menuruni anak tangga dengan menenteng tas tangan warna merah maroon, sepertinya Alea akan pergi keluar tanpa seizin Frans.
Frans memutuskan untuk menyelinap di balik bufet TV agar tidak diketahui oleh Alea, tekadnya kali ini akan mengikuti kemana Alea pergi.
Frans pun berbalik arah menuju ruang tamu mencari kunci mobil yang sempat dia hempaskan di sofa. Kebetulan mobil Frans sudah terparkir di garasi belakang, sehingga kepulangan Frans tidak disadari oleh Alea.
Setelah Alea melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah Frans, seketika itu juga Frans langsung mengikuti laju mobil Alea.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku Alea?"
Ucap Frans setelah dia menyalakan mesin mobil miliknya.
•••
Rasa lelah yang mendera tubuh Frans tidak dia pedulikan, karena rasa penasaran Frans lebih besar dari apapun.
Sekitar setengah jam perjalanan mobil Alea sudah terparkir di halaman caffe. Alea turun dari mobil dengan mata yang menyelidik di sekitar langkahnya.
Frans ikut turun dari mobil, mengikuti langkah Alea yang mulai memasuki area caffe.
Sulit Frans percaya, ternyata Alea datang mengunjungi caffe untuk menemui pria yang cukup berparas tampan tapi gayanya sedikit urakan. Pria itu mengenakan kaos oblong hitam dan celana jeans berjenis ripped jeans.
"Apa kabarmu honey? Lama tidak bertemu."
Batin Frans semakin terlonjak saat didengarnya pria tersebut menyebut Alea dengan panggilan honey.
Pria itu menyodorkan tangan kanannya, mengajak Alea untuk berjabat tangan. Namun Alea tidak menghiraukan, dia langsung menarik kursi kosong lalu duduk disana.
"Jangan temui aku lagi Bagas!"
Ancam Alea.
Bagas? Siapa Bagas? Alea tidak pernah bercerita tentang nama itu.
Frans semakin penasaran. Kini dia duduk di caffe tersebut, memilih meja yang terletak di sudut caffe, dan menutupi wajahnya dengan buku menu makanan yang sudah tersedia di meja tersebut.
"Tiga tahun telah berlalu Alea. Apa kamu sudah lupa akan perjanjian kita?"
Frans segera menekan tombol record di layar ponselnya. Suasana hening di caffe tidak ingin Frans sia-siakan.
Ujar Alea yang nampak geram pada Bagas. Dia merasa diperas oleh Bagas.
"Itu tidak sebanding dengan kekayaan yang Frans miliki Alea."
Bagas kembali mengintimidasi Alea.
"Kamu mau memeras saya?!"
Alea semakin geram.
"Bukan memeras Alea sayang. Aku hanya menuntut apa yang menjadi hak aku sendiri."
Hak apa?
Frans sulit mengerti akan pembahasan antara Alea dengan Bagas.
"Sudahlah Bagas aku capek diteror terus sama kamu. Berapa yang kamu minta? Asal kamu lenyap dari hidupku."
Bagas hanya tersenyum smirk di hadapan Alea.
"Sepertinya kamu sudah lupa akan rencana kita sayang."
Alea sebenarnya sangat ingat akan rencana awalnya dengan Bagas. Hanya saja saat ini Alea sudah merasa lebih nyaman menjadi nyonya Frans.
"Lupakan Bagas! Biarkan aku hidup bersama suamiku Frans."
Alea bangkit dari duduknya, berusaha meninggalkan Bagas begitu saja. Namun tangan kekar Bagas langsung menarik lengan Alea.
"Ingat janji kita Alea, kamu akan meninggalkan Frans setelah berhasil menguasai seluruh asset Frans. Kita akan hidup bersama kembali sayang. Lupakan Frans, suami palsumu."
Bagas semakin meminta Alea untuk kembali bersamanya. Alea adalah kekasih Bagas sebelum Alea menjalin hubungan gelap dengan Frans, dia lebih dulu menjadi kekasih Alea.
"Itu rencana kita dulu Bagas. Kenyataannya kini aku benar-benar jatuh cinta pada suamiku, apalagi dia sudah menikahiku secara sah. Hanya aku istrinya, tidak ada wanita lain. Lebih baik kamu lupakan aku saja mulai hari ini."
"Bagaimana dengan Poppy?"
Sergah Bagas yang membuat Alea sedikit gelagapan.
"Bagaimana kalau Frans mengetahui kalau Poppy bukan darah dagingnya? Dia anakku, benihku sudah tertanam lebih dulu, sebelum kamu memulai hal gila bersama bosmu dulu."
Kalimat yang diucapkan Bagas sangat menohok hati Alea, menyudutkan Alea hingga tak mampu berkata-kata lagi.
"Apa kamu yakin Frans akan tetap mencintaimu jika mengetahui semua ini?"
Bagas semakin mencecar Alea. Wanita itu hanya termenung, tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Frans mengetahui kalau Poppy bukan darah dagingnya.
"Dasar kurang ajar! Beraninya kamu mengancamku."
Alea mengumpat Bagas, dia tak mampu menimpali ucapan Bagas lagi. Kemudian Alea bergegas meninggalkan Bagas sendirian di salah satu meja caffe.
Frans yang sudah mendengar percakapan antara Bagas dan Alea membuat tangannya mengepal sangat erat, seperti menyimpan dendam dan juga kecewa yang mendalam.
Ternyata sejauh ini Alea membohongi dirinya, hingga melepaskan Jenny begitu saja. Ironisnya Alea telah lama berniat menguasai seluruh harta kekayaan keluarga Wicaksana Saputra, namun tidak pernah Frans sadari.
Hati Frans semakin dirundung rasa bersalah terhadap Jenny, terbayang sudah saat dulu dia berpisah dengan Jenny. Sementara amarah tak terkira tertuju pada Alea, namun Frans juga tidak ingin ceroboh dalam bertindak.
Frans akan meyelidiki lebih dalam lagi kalau Poppy itu sebenarnya anak siapa?
••••