
"Ah ada ante Meymey Pih."
Setelah mendengar suara Clarisa yang memanggil tante Meymey tiba-tiba Jenny menoleh ke posisi belakang tubuhnya. Jenny melihat sosok wanita paruh baya yang usianya tidak beda jauh dengan Verlita, di samping wanita paruh baya itu ada sosok wanita cantik yang usianya lebih muda dari Jenny. Dapat Jenny pastikan wanita itu yang dimaksud Clarisa dengan panggilan 'Ante Meymey'. Wajahnya cantik terawat dengan penampilan yang elegan berbalut mini dress warna coklat. Rambut panjangnya sengaja dikuncir kuda, memperlihatkan lehernya yang jenjang.
"Arjuna, tolong angkat kepalamu dari bahuku."
Bisik Jenny pada kekasihnya. Jenny merasa tidak enak hati kepada dua wanita yang baru datang tadi, sementara Arjuna masih tetap cuek dengan sikap manjanya di bahu Jenny.
"Sudah pewe sayang."
Celoteh Arjuna, masih belum juga mengangkat kepala dari bahu Jenny. Gemas dengan tingkah Arjuna yang masih berpura-pura cuek, Jenny memutuskan untuk mencubit perut Arjuna.
"Aduh! Sakit sayang."
Arjuna meringis kesakitan akibat ulah Jenny. Clarisa yang menyaksikan papihnya menjerit sakit justru ikut tertawa.
"Eh, ada mamah Alya ternyata."
Arjuna baru menyadari kalau di belakangnya ada sosok ibu mertuanya dulu. Raut wajah Alya sedikit merah padam menyaksikan interaksi diantara Arjuna dengan Jenny. Banyak pertanyaan yang ingin Alya tanyakan pada Arjuna ataupun Verlita.
Arjuna bangkit dari sofa, kemudian menghampiri Alya, menjabat tangan Alya lalu menciumnya. Walau Claudia sudah tiada, Arjuna masih tetap berlaku sopan pada ibu mertuanya.
"Sepertinya kita harus bicara serius Verlita."
Alya mulai tersulut emosi, melihat kehadiran Jenny.
"Tentu Alya."
Verlita bangkit dari sofa, lalu mengajak Alya ke ruang tamu, agar mereka lebih leluasa.
Jenny tidak mengerti akan situasi yang terjadi malam ini, binar matanya meminta pada Arjuna untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"Clarisa, main yuk sama tante Meymey."
Meyriska yang merasa menjadi orang ketiga diantara mereka lebih memilih mundur, mengajak Clarisa untuk bermain dengannya. Memberikan ruang pada Arjuna untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi diantara Alya dan Verlita.
"Iyah Ante. Ayo ke kamar Clarisa saja ante."
Putri Arjuna selalu pandai membaca situasi. Kemudian Clarisa pergi meninggalkan papihnya bersama Jenny.
•••
"Siapa wanita itu Ver?"
Alya terlihat geram menyaksikan Arjuna yang begitu mesra terhadap Jenny, namun Verlita berusaha untuk tetap tenang menghadapi Alya. Menurut Verlita wajar jika Alya tidak suka dengan Jenny, bisa jadi rasa cemburu berlebihan yang tak mampu menerima kalau anaknya sudah tiada. Atau bisa saja cemburu karena Alya ingin menjodohkan Meyriska dengan Arjuna.
"Calon istri Arjuna."
Jawab Verlita enteng. Seketika itu juga Alya terlonjak mendengar pernyataan Verlita.
"Kenapa kamu tidak bilang Verlita?"
Besan Verlita merasa kecewa terhadap dirinya.
"Maaf Al, aku juga baru tahu kemarin. Arjuna baru cerita kemarin malam. Setelah kamu datang meminta menjodohkan Arjuna dengan Meyriska."
Alya menghela nafasnya dalam, ada perasaan kecewa yang tersirat dari sorot matanya.
"Sepertinya putramu sangat mencintai wanita itu."
"Jenny namanya. Cukup panggil dia Jenny Al."
Verlita tidak suka mendengar Alya yang mengasingkan Jenny. Memanggil Jenny dengan panggilan 'wanita itu'.
"Siapapun namanya itu tidak penting bagiku Verlita."
Sudah diduga oleh Verlita, kalau Alya akan bersikap demikian.
"Kita bersahabat sudah lama Alya. Apa pola pikirmu sesempit ini? Untuk mengikat jalinan keluarga diantara kita."
Pernikahan Arjuna dengan Claudia memang berawal dari perjodohan. Awalnya keluarga Alya juga yang meminta pada keluarga Verlita, hanya saja dulu Arjuna menaruh hati pada Claudia. Pria mana yang tidak tahan pada wanita cantik berbakat seperti Claudia.
"Aku masih tidak rela melihat Arjuna bersanding dengan wanita lain."
"Alya, aku mohon padamu untuk kali ini saja. Maaf kalau niatanmu untuk menjodohkan Arjuna dengan Meyriska tidak bisa kami terima. Bukankah cinta itu tidak bisa dipaksakan?"
Tutur Verlita. Berharap besannya bisa mengerti keadaan Arjuna sekarang, tapi wanita itu masih tetap diam.
"Arjuna sudah menemukan tambatan hatinya sekarang, untuk bisa melanjutkan masa depannya. Begitupun dengan Clarisa yang sangat menerima kehadiran Jenny. Sebagai orangtua, bukankah kita ikut bahagia jika melihat anak kita bahagia Al?"
Verlita masih berusaha sabar di hadapan Alya, tak ingin ikut tersulut emosi.
"Lalu bagaimana dengan janjiku pada Meyriska?"
Alya sudah menjanjikan pada keponakannya yang sudah dia anggap seperti anak sendiri sepeninggal Claudia, kalau dirinya benar-benar ingin menyatukan Meyriska dengan Arjuna.
"Aku rasa tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, situasi yang kamu lihat bersama Meyriska tadi, sudah menjawab semuanya."
Maksud Verlita adalah situasi saat Arjuna bermesraan di bahu Jenny.
"Sejak kapan putramu mengenal dia Ver?"
Alya mencoba mengorek informasi lebih dalam tentang hubungan Arjuna dengan Jenny.
"Aku harap kamu tidak akan memiliki prasangka buruk pada Arjuna ataupun Jenny, setelah aku menjawabnya."
Alya terlonjak mendengar kalimat Verlita.
"Maksudmu Arjuna sudah lama menjalin hubungan dengan Jenny? Jangan-jangan jauh sebelum Claudia meninggal."
Alya seperti mengerti apa yang dimaksud oleh Verlita.
"Juna bertemu dengan Jenny sekitar satu minggu setelah kematian putrimu. Akibat pertemuan itu kini Arjuna sudah memiliki seorang putra dari rahim Jenny. Itulah alasanku untuk tetap mendukung mereka untuk bersatu. Aku tidak ingin cucuku hidup bersama ayah tiri, aku harap kamu bisa mengerti Al."
Keputusan Verlita begitu bijak, mampu membayangkan masa depan Cleo jika tidak bersanding dengan ayah kandungnya.
"Sama sekali tidak aku sangka, kalau putramu sekejam itu. Baru saja satu minggu kehilangan istri sudah mencari wanita murahan seperti Jenny."
Mendengar Alya mengatakan Jenny wanita murahan, tiba-tiba laju darah Verlita seperti mendidih. Verlita tidak terima kalau Jenny dikatakan murahan, karena Alya tidak tahu persis kejadian sebenarnya.
"Cukup Alya! Kenyataannya tidak seburuk itu. Semua terjadi di luar kendali mereka masing-masing."
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi Verlita?"
Alya tidak mau kalah emosi.
"Percuma kalau aku jelaskan padamu Al. Lebih baik sekarang kamu dan Meyriska pulang."
Akibat terlalu emosi mendengar kalimat Alya yang melecehkan Jenny, membuat Verlita tanpa sadar mengusir Alya.
"Baiklah Verlita, aku pulang. Aku sangat kecewa padamu."
Ungkap Alya, lalu bangkit dari duduknya. Kedua bola mata Alya mencari Meyriska.
"Mey! Ayo kita pulang!"
Teriakan Alya barusan membuat Jenny dan Arjuna terkejut. Mereka berdua segera menuju ke ruang tamu, tempat dimana Alya dan Verlita berada.
"Mamah Alya kenapa teriak-teriak mah?"
Tanya Arjuna sesampainya di ruang tamu.
"Mamah kecewa sama kamu Juna."
Alya menegaskan kekecewaannya, sementara Jenny hanya mampu berdiri di samping Arjuna dengan menyimpan banyak perasaan takut terhadap Alya.
"Mamah boleh kecewa padaku, tapi jangan pernah salahkan Jenny. Karena Arjuna lah yang memilih Jenny untuk menjadi pendamping hidup Arjuna."
Entah harus bahagia atau sedih hati Jenny saat ini, dibela sepenuhnya oleh Arjuna. Sementara Alya semakin geram mendengar pengakuan Arjuna. Belum sempat Alya menjawab, tiba-tiba Meyriska muncul. Alya segera beranjak dari rumah Verlita dengan menarik lengan Meyriska begitu kasar, seperti melampiaskan emosinya pada Meyriska.
••••
Apa komentar kalian di part ini? 😁