
Hari bahagia yang Jenny dan Arjuna rasakan ternyata sangat melukai hati seorang pria tampan bernama Frans Wicaksana. Setelah pulang dari acara resepsi pernikahan Jenny ada sebongkah rasa sesal mendalam yang menggunung di batin Frans.
Mengapa dia harus berpisah?
Mengapa dengan bodohnya Frans melepas Jenny begitu saja?
Mengapa pria yang bersanding dengan Jenny harus Arjuna?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul di benak Frans, tak hentinya menghantui Frans. Rasanya dunia seperti sedang mentertawakan dirinya.
"Jenny. . ."
Gumam Frans menyebut nama mantan istrinya dengan nada yang sedikit kelu akibat pengaruh alkohol yang sudah meracuni pikirannya.
Beberapa botol wine sudah Frans habiskan hanya untuk mengingkari kenyataan kalau kehidupannya sudah hancur, sehancur-hancurnya.
"Jenny. . . Kembalilah padaku Jenn, aku masih mencintaimu."
Racau Frans dengan raut wajah mengenaskan. Setitik air matapun menetes di pipinya.
"Jenny. . . Kita mulai lagi kehidupan rumah tangga kita Jenn. Persetan soal anak!"
Kini gurat emosi muncul dari raut wajah Frans. Bahkan nada bicara Frans mulai tinggi.
"Tuan, anda sudah terlalu banyak minum."
Ujar bartender yang masih berdiri di hadapan Frans. Kebetulan Frans lebih memilih duduk di meja bartender.
"Bodo amat! Biar gue mati sekalian!"
Emosi Frans semakin menjadi dan bartender itupun hanya bisa pasrah, tidak ingin menahan Frans lagi.
"Memang sudah sepantasnya pria pengecut seperti lo itu mati."
Tiba-tiba kalimat itu terdengar dari belakang tubuh Frans. Derap langkah kaki pria itu semakin mendekat ke arah Frans, hingga akhirnya pria itu berhasil menyentuh pundak Frans.
"Sorry bro gue gak tertarik buat ribut."
Titah Frans sambil menepiskan tangan pria tersebut. Dia ingin pria itu segera pergi darinya.
"Lihat Frans hidupmu sudah mengenaskan."
"Bang**t!"
Hardik Frans setelah ingatannya sedikit pulih akan wajah Bagas. Bahkan Frans berusaha melayangkan satu pukulan untuk Bagas, namun segera Bagas tepiskan. Mudah saja bagi bagas membuat Frans tersungkur di meja bartender karena tubuh pria itu sudah sangat lunglai.
"Aku datang padamu untuk mengambil anakku kembali. Rasanya sangat mengenaskan sekali hidupmu Frans, setelah istri tercintamu menikah dengan pria yang jauh lebih tajir. Kamu tidak lebih dari seorang pria mandul."
Cacian Bagas terasa sangat tajam di telinga Frans. Namun itulah kenyataannya. Mau tidak mau harus Frans terima kekalahannya hari ini.
"Silahkan bawa saja putrimu. Anak penghianat memang pantas bersanding dengan penghianat!"
Ujar Frans yang tak ingin kalah dengan mulut pedas Bagas.
"Baiklah setidaknya aku sudah mendapatkan izin darimu untuk membawa Poppy. Jangan menyesal Frans!"
Ucap Bagas diiringi senyuman smirk untuk Frans. Kemudian pria itu berlalu dari hadapan Frans.
"Bawa pergi semuanya! Pergi!"
Kembali Frans berteriak histeris sambil memecahkan gelas dan botol minuman di hadapannya.
"Aggggghhhhrrrrr."
Jerit Frans diiringi racau tangisan.
Entah bagaimana kehidupan Frans selanjutnya?
Sendiri, sepi, dan sesal tentu mulai menghampiri kehidupan Frans. Obsesinya untuk memiliki keturunan sudah memporak porandakan kehidupannya.
Andai waktu dapat diputar kembali, Frans ingin sekali tetap menjaga cinta Jenny. Namun semua sudah terlambat, kesempatan itu tidak akan pernah datang kembali.
Mungkin sudah saatnya Frans menuai segala perbuatannya di masa lalu terhadap Jenny. Sudah saatnya Frans menyadari betapa berharganya Jenny. Wanita cantik dengan hati yang tulus kini telah jauh pergi meninggalkan kehidupannya.
"Aku akan membawamu kembali bersamaku lagi Jenny Florencia."
Gumam Frans dengan nada lirih. Tatapannya nyalang, hanyut dalam lamunan. Masih tergambar jelas masa-masa indah bersama Jenny, mulai dari pertemuan pertamanya sampai perpisahan itu terjadi.
••••