
Sore ini semua pekerjaan Jenny sudah selesai, kini Jenny bersiap untuk pulang. Dia mulai mengemasi barang-barangnya ke dalam tas, termasuk beberapa desain gaun pengantin yang belum selesai akan Jenny bawa untuk dia kerjakan di rumah.
Akhir-akhir ini Jenny begitu bersemangat mendesain gaun-gaun pengantin untuk klien, walau sebenarnya hati Jenny merasakan sesak melihat beberapa desain gaun pengantin yang sudah jadi. Harusnya Jenny sudah melalui hari dimana dia akan mengenakan kebaya putih di tanggal pernikahannya bersama Arjuna, namun semuanya tidak sesuai rencana, Jenny lebih memilih membatalkan pernikahannya dengan Arjuna.
Jenny mencari-cari kunci mobil miliknya, namun tidak juga dia temukan di meja kerjanya maupun di laci kerjanya. Jenny berusaha mengingat-ingat kemana saja dia membawa kunci mobilnya, takutnya Jenny meletakkan di sembarang tempat kemudian dia lupa.
Sejak pagi saat datang ke kantor Jenny sudah memasuki beberapa ruangan, khawatir kunci mobil milik Jenny tertinggal di sembarang ruangan.
Langkah kaki Jenny menyusur ke ruangan Franda, namun masih tidak ada. Tiba-tiba Jenny ingat pada saat baru datang ke kantor, dia langsung pergi menuju dapur untuk membuat segelas kopi hangat, sepertinya kunci mobil Jenny tertinggal disana.
Sesampainya di dapur langkah Jenny berhenti, pandangannya tersentak menuju sosok pria yang tengah menikmati sebatang rokok. Sepertinya pria itu nampak begitu kalut, ada beban yang sulit dia ungkapkan pada siapapun.
"Willy. . ."
Sapa Jenny dengan nada penuh ragu. Jenny takut kedatangannya akan mengusik ketenangan William.
William masih tetap diam, tidak menanggapi sapaan Jenny.
"Kamu kenapa?"
Tanya Jenny setelah dia berdiri di hadapan William. Jenny menatap William penuh rasa iba.
William langsung mematikan rokoknya di asbak, kemudian dia bangkit dari duduknya dan memeluk Jenny begitu erat, membuat hati Jenny terkesiap.
"Apa yang sedang terjadi padamu William?"
William tidak menjawab dia justru semakin mengeratkan pelukannya di bahu Jenny, sementara Jenny tidak ingin membalas pelukan William. Jenny tidak ingin memperkeruh keadaan, jika Renata tahu semuanya akan menjadi salah paham.
"Peluk aku Jenn, peluk aku."
William meminta Jenny untuk membalas pelukannya, namun Jenny justru berusaha melepaskan tubuh William.
"Kalau kamu tidak keberatan, kamu boleh berbagi denganku Will."
Jenny menatap kedua bola mata William lekat.
"Dia sudah cerita apa saja padamu Jenn?"
Kini Jenny mengerti kalau William sedang kalut memikirkan kehadiran Renata.
"Dia wanita yang baik Willy. Coba tanyakan pada hati kecilmu, cintamu masih ada untuk dia."
"Tidak Jenn!"
William langsung memotong kalimat Jenny. Gurat amarah pun terbit dari wajah William.
"Dulu waktu aku menggebu-gebu ingin menikahinya, dia terlalu banyak alasan. Sekarang seenaknya datang meminta kembali."
Jenny hanya mampu menghela nafasnya, mencoba mengumpulkan kesabaran untuk menghadapi William.
"Setiap orang pasti punya cita-cita dan mimpinya masing-masing Willy. Wajar saja kalau Renata saat itu lebih memprioritaskan impiannya, hubungan kalian terpisah bukan karena ada orang ketiga, hanya masalah waktu saja. Tuhan yang menyimpan kalian untuk tumbuh lebih dewasa dulu, agar jalan yang akan kalian lalui terasa lebih mudah."
Mendengar penjelasan Jenny membuat William tertunduk lemah di hadapan Jenny.
"Aku yakin Willy cintamu pada Renata masih tersimpan di dasar hatimu, hanya saja setitik ego yang merusak hatimu saat ini."
Jenny masih berusaha meyakinkan William.
"Tidak Jenn, aku tidak mencintainya."
William masih berusaha mengelak.
"Kalau tidak mencintainya kenapa pelukanmu tadi pagi seerat itu? Setulus itu? Seperti takut kehilangan. Ayolah Willy, setahu aku William yang aku kenal tidak seperti ini."
Penjelasan Jenny sangat menohok hati William. Memang benar apa yang dikatakan Jenny kalau sebenarnya William takut kehilangan lagi akan sosok Renata.
"Apa kamu sama sekali tidak cemburu pada Renata Jenn?"
Pertanyaan William barusan sangat menggelitik hati Jenny, membuat Jenny tersenyum sesaat di hadapan William.
"Cemburu?"
William hanya menganggukkan kepalanya mendengar Jenny yang memastikan pertanyaan William.
"Aku hanya terkejut saja Willy, sama sekali bukan perasaan cemburu. Aku justru merasa senang kalau Renata sudah hadir kembali di hidupmu, setidaknya kamu sudah menemukan orang yang tepat. Kamu pantas untuk bahagia, berhentilah memikirkan aku dengan Cleo. Pikirkan juga masa depanmu."
William tersenyum mendengar nasehat yang dituturkan oleh Jenny.
"Lalu bagaimana denganmu Jenn?"
Pandangan Jenny terlihat melemah setelah William menanyakan kelanjutan hidup Jenny.
Jawab Jenny dengan memalingkan wajahnya dari pandangan William. Pria berkacamata itu meraih bahu Jenny, seolah menyalurkan kekuatan untuk Jenny.
"Jenny, beberapa hari lalu aku sudah berjanji pada hatiku sendiri kalau aku tidak akan pernah melepaskanmu, setelah aku tahu kalau Arjuna mulai berubah. Tapi sepertinya aku akan sulit untuk menjadi rival Arjuna, karena aku tahu sebenarnya cintamu untuk Arjuna masih ada, hanya saja kamu terlalu takut untuk mengakuinya. Bayang-bayang cerita pahit bersama Frans yang telah membuatmu tersesat untuk menentukan pilihan hidup. Logika mengatakan hidup harus tetap berlanjut, tapi hati seolah berbisik tidak ingin tersakiti lagi."
Apa yang dikatakan oleh William seperti tahu isi hati Jenny, sehingga sulit bagi Jenny untuk mengelak penuturan William.
"Tanyakan lagi pada hatimu Jenn."
William mengelus puncak kepala Jenny penuh sayang, seperti menganggap Jenny adalah adiknya.
"iya akan aku pikirkan lagi."
Hanya itu jawaban Jenny.
"Boleh aku memelukmu Jenn? Sebagai tanda berakhirnya hatiku untukmu."
Jenny tersipu malu mendengar ucapan William, kemudian Jenny melebarkan tangannya, bersiap menerima pelukan William.
Selama ini William tidak pernah berani memeluk Jenny ataupun menyentuh Jenny. Kalaupun pelukan itu terjadi karena Jenny yang terkadang memulainya, itupun dulu saat Jenny divonis akan melahirkan Cleo secara prematur.
"Terimakasih Jenn."
Ucap William setelah mengakhiri pelukannya.
"Aku yang harusnya berterimakasih padamu Willy. Kamu sudah berusaha selalu ada untukku dan juga Cleo."
William hanya mananggapi ucapan Jenny dengan senyuman terbaiknya. Tidak ada kata ataupun kalimat yang ingin dia ungkapkan lagi. Hari ini terasa sudah cukup menjawab keraguannya untuk menerima kembali kehadiran Renata.
•••
"Mamah pulang!"
Seru Jenny saat langkahnya sudah memasuki ruang TV. Tempat dimana Cleo selalu asyik bermain dengan mba Sinta, namun kali ini Cleo tidak bermain dengan mba Sinta, Cleo justru sedang asyik berada di pangkuan Arjuna.
Seperti biasanya Jenny tidak menganggap kehadiran Arjuna disana, tapi entah kenapa pria tampan itu seperti sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Jenny.
"Tumben kamu pulang terlambat Jenn."
Arjuna sangat hapal jam kepulangan Jenny, padahal Jenny hanya terlambat setengah jam saja. Mungkin karena terlalu lama mengobrol dengan William yang membuat Jenny pulang sedikit terlambat.
"Biasa macet."
Hanya itu jawaban Jenny untuk Arjuna. Kemudian kedua tangan Jenny mencoba meraih tubuh Cleo dari pangkuan Arjuna, sayangnya putra Jenny tidak mau dibawa oleh Jenny. Cleo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya di hadapan Jenny.
"Awas ya anak mamah sombong sekali."
Jenny merasa kesal akan sikap Cleo.
"Sikap Cleo sama persis denganmu Jenn."
Arjuna mencoba menggoda Jenny, dia sudah lelah didiamkan terus menerus oleh Jenny.
"Bersiaplah Jenn, aku akan mengajakmu ke suatu tempat, bersama Cleo juga."
Jenny tidak menghiraukan ucapan Arjuna, dia justru berbalik arah menuju kamarnya. Namun tangan kekar Arjuna langsung menarik tangan Jenny.
"Please Jenny, kali ini saja. Kalau tidak aku tidak akan segan membawa Cleo pergi."
Bisik Arjuna penuh ancaman di telinga Jenny.
Arjuna tahu kalau titik lemah Jenny hanya ada pada Cleo.
"Apa kamu mengancamku Arjuna?"
Hati Jenny terkesiap mendengar ucapan Arjuna.
"Aku tidak sedang mengancam. Aku hanya memaksamu. Kali ini saja Jenn, aku mohon. Aku pastikan setelah ini kamu bebas untuk bersama pria manapun, aku tidak akan pernah mengganggumu lagi."
Mendengar ucapan yang dituturkan oleh Arjuna membuat hati Jenny sedikit tidak tega.
"Baiklah, tapi aku mau mandi dulu."
••••
Logika mengatakan, hidup harus tetap berlanjut, tapi hati seolah berbisik takut untuk tersakiti.
Miss Viona~