
"I love you Jenny. Love you more Miss Florencia, be my wife until the end of my life."
Bisikan cinta yang diucapkan Arjuna cukup menyentuh hati Jenny.
Apa mungkin pria di hadapannya seserius ini? Ataukah mungkin itu hanya siasat Arjuna agar Jenny jatuh ke dalam pesonanya?
"Lihat mataku Jenn."
Kembali Arjuna meyakinkan Jenny, mendongakkan wajah Jenny yang masih tertunduk. Sepertinya Jenny tidak sanggup menatap Arjuna, tidak sanggup melawan pesona Arjuna. Hati Jenny terlalu takut kalau sampai dirinya jatuh cinta pada pria di hadapannya, karena menurut Jenny jatuh cinta itu menyakitkan.
"Aku takut Arjuna."
Walau Arjuna sudah berusaha mencecar tatapan Jenny, tetap saja Jenny memalingkan pandangannya, berusaha mengingkari gejolak hatinya.
Kalau tidak ada setitik perasaan untuk Arjuna, mana mungkin Jenny akan terbuai oleh ciuman Arjuna.
Arjuna sedikit merasa percaya diri, kalau wanita pujaan hatinya sudah membuka celah untuknya.
"Apa yang kamu takutkan Jenn?"
Pria tampan itu semakin gencar dengan usahanya untuk merebut hati Jenny.
"Entahlah Arjuna. Aku pernah mencintai pria terlalu dalam, terlalu percaya, sampai aku lupa bagaimana rasanya terbuang."
Batin Jenny seperti tertusuk saat mengutarakan isi hatinya pada Arjuna. Luka di masa lalu masih terasa sesak jika harus diungkit kembali.
"Lalu kamu akan membiarkan hidupmu tetap sendiri Jenn?"
Arjuna semakin berusaha meyakinkan Jenny untuk bangkit dari masa lalu.
"Entahlah."
Arjuna meraih pundak Jenny, menatap Jenny lekat, berusaha menyalurkan energi positif pada wanita yang rapuh akan cinta.
"Jangan pukul rata semua pria itu sama seperti pria di masa lalumu. Hidupmu masih panjang Jenn. Masih banyak mimpi yang harus kamu raih. Memperjuangkan impianmu sendirian akan lebih sulit. Biarkan aku menemanimu, menjagamu, mendukung mimpimu. Bersama kita hidup sampai maut menjemput."
Hati Jenny sedikit tersentuh akan ucapan yang dituturkan Arjuna tadi. Batinnya membenarkan pernyataan Arjuna bahwa hidupnya memang masih panjang, tak selamanya dia akan terus sendiri.
"Kamu benar Juna, tapi aku masih takut untuk melangkah. Aku takut untuk mencoba kembali, sementara aku belum tahu persis pria seperti apa dirimu."
Ayolah Jenny akui saja isi hatimu, bukankah kamu sudah membalas ciuman Arjuna tadi?
"Percaya padaku Jenn, genggam tanganku kali ini dan seterusnya."
Arjuna menengadahkan telapak tangannya di hadapan Jenny, berharap Jenny akan mengaitkan jemarinya di telapak tangan Arjuna.
"Bagaimana dengan keluargamu? Aku hanya wanita biasa, tak sebanding dengan almarhum istrimu dulu."
Diam-diam Jenny mencari tahu semua tentang Arjuna, tepatnya mulut Bella yang sudah memberikan rentetan informasi tentang Arjuna, tanpa Jenny minta.
Mendengar semua tentang Arjuna dari mulut Bella membuat Jenny krisis percaya diri, jika mengingat mendiang sang istri Arjuna dulu.
Sosok Claudia adalah wanita cantik dan hebat, terlahir dari keluarga kaya dan terhormat. Bukan hanya itu saja, Claudia memiliki hati dan kepribadian yang menarik, walau dirinya terlahir dari keluarga kaya tapi tidak menjadikannya wanita yang angkuh tak berbelas kasih.
Bagaimana dengan Jenny yang hanya terlahir dari kalangan biasa, serta masa lalunya yang rumit. Jenny hanya takut niatan baik Arjuna akan ditentang oleh keluarganya.
"Apa cinta harus serumit itu Jenn?"
Bagi Arjuna persoalan mengenai hubungan dua insan pria dan wanita hanyalah tentang komitmen yang dibuat oleh keduanya. Bukan tentang keluarga, silsilah keturunan, dan apapun itu. Arjuna sama sekali tidak peduli.
"Aku hanya takut menghadapi keluargamu yang tak sebanding denganku."
Arjuna hanya tersenyum mendengar pengakuan Jenny. Rasanya terlalu kolot cara berpikir Jenny menurut Arjuna.
"Tak usah kau risaukan tentang itu Jenn, yang perlu kamu pikirkan adalah kita, Cleo dan juga Clarisa. Aku ingin kita menjadi pasangan yang seutuhnya Jenn."
Jenny sempat tertunduk diam. Selang beberapa detik jemarinya terangkat meraih telapak tangan Arjuna. Seketika itu juga Arjuna menggenggam tangan Jenny erat, tak ingin menyiakan momen yang telah lama Arjuna nantikan. Jenny hampir terjungkal di dada bidang milik Arjuna, akibat tarikan tangan Arjuna yang terlalu bersemangat menarik jemari Jenny.
Jenny hanyut dalam buaian kata-kata yang keluar dari bibir Arjuna, tak ingin membalas kalimat Arjuna lagi. Jenny hanya membutuhkan pelukan hangat seorang pria yang telah lama tak mampu Jenny rasakan lagi.
Tangan kekar Arjuna memeluk erat tubuh Jenny penuh kasih, seperti tak ingin kehilangan wanita pujaan hatinya. Kini hati Arjuna semakin mantap untuk bisa memiliki Jenny.
"I love you honey."
Bisik Arjuna di tengah pelukannya, namun Jenny tak membalas bisikan Arjuna. Jenny semakin mengeratkan pelukannya di bahu Arjuna, walau posisi tubuhnya terlihat kesulitan dalam posisi kaki yang sedikit jinjit, berusaha mengimbangi tinggi Arjuna.
"Mandi! Bau!"
Jenny melepaskan pelukan posesif Arjuna karena Arjuna belum mandi sejak datang ke rumah Jenny.
Arjuna pun tersenyum merasakan perhatian Jenny yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Giliran sudah kenyang meluknya bilang bau."
Jenny tersipu mendengar pembelaan diri Arjuna.
"Sudah sana mandi."
Didorongnya tubuh Arjuna oleh Jenny ke arah kamar mandi, memaksa pria tampan yang nampak lusuh untuk segera membersihkan diri.
"Iya iya, bawel."
Timpal Arjuna, kemudian menuruti perintah Jenny untuk segera mandi.
•••
Jenny bergegas menuju kamar Cleo, ingin melihat putranya yang sudah terbawa alam mimpi.
"Semoga kamu bahagia sayang, dengan keputusan mamah."
Ucap Jenny sambil mengelus kepala Cleo penuh kasih, setelah tubuhnya terbaring di samping Cleo.
"Semoga dia bisa menjaga kita nak. Semoga dia pria yang tepat untuk mamah."
Kini pikiran Jenny menerawang jauh, mengingat masa-masa dulu saat pertama bertemu Arjuna. Mengingat banyak momen yang selalu berusaha Jenny tolak, selalu berusaha Jenny tepiskan, tapi mengapa semua yang dilakukan Jenny seperti sia-sia, jika ujungnya harus bersama Arjuna.
Lelah dengan pikirannya, akhirnya Jenny terpejam sambil memeluk tubuh Cleo. Biarlah semua yang terjadi malam ini berlalu dengan indah, biarlah setitik kebahagiaan yang telah lama Jenny lupakan kini kembali.
•••
Arjuna selesai mandi, pakaiannya sudah berganti mengenakan trening dan kaos oblong yang sudah dia siapkan di mobil. Benar-benar sudah terencana dengan baik siasat Arjuna kali ini.
Mata Arjuna menatap sepasang ibu dan anak yang sudah terlelap tidur, menatap Cleo yang tidur penuh kedamaian dalam dekapan sang mamah, kemudian mata Arjuna beralih menatap Jenny.
Gurat lelah terbias dari wajah Jenny, itu sangat menyayat hati Arjuna. Tak bisa dia bayangkan bagaimana lelahnya Jenny selama mengandung darah dagingnya, sampai membesarkan Cleo seorang diri.
Ada rasa bersalah yang begitu dalam dari hati Arjuna, setelah menatap wajah Jenny yang terlelap dalam tidurnya. Kemudian Arjuna ikut berbaring di samping Cleo. Kini posisi tidur mereka dalam satu ranjang dipisahkan oleh Cleo yang berada diantara Arjuna dan Jenny.
Arjuna masih menatap Jenny lekat, mengelus rambutnya pelan, tak ingin mengganggu tidur Jenny.
"Aku akan mengembalikan momen yang harusnya aku berikan untukmu Jenn, untukku juga, dan untuk anak kita."
Setelah mengucapkan janjinya, tak lama Arjuna memejamkan matanya.
Malam ini adalah malam yang sangat terasa indah bagi Arjuna, masa depannya terbuka lebar kembali. Harapan hidupnya seperti terbangkitkan lagi, setelah cintanya bersambut oleh Jenny.
••••
Aku pernah mencintai terlalu dalam, hingga aku lupa rasanya terbuang.
Miss Viona~
Like and comment yah 😉