Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 22 - Alasan meminta cerai denganku



Saat perjalanan pulang dari acara pesta pernikahan Frans, anak kecil cantik bernama Clarisa tak hentinya mengoceh akan wanita pujaannya pada sang papih.


"Papih, apa om Willy itu gak kasih ante balbie main sama Clalisa?" tanya Clarisa di dalam mobil menuju perjalanan pulang.


Clarisa menjadi semakin bawel pada papihnya, sampai sampai Arjuna harus menambah level fokusnya saat mengemudi. Entah kenapa Clarisa memanggil William dengan panggilan Willy, anak itu selalu saja ada ide aneh menurut Arjuna.


"Anak Papih jadi makin bawel sih kalau ketemu ante balbie?" tanya Arjuna yang jadi ikut-ikutan memanggil Jenny ante balbie, menirukan gaya cadel putri kesayangannya.


"Abis Clalisa pengen punya temen kaya ante balbie Pih. Clalisa bosen main sama omah ajah di lumah, Papih sibuk kelja telus." gerutu Clarisa.


Rupanya penjelasan Clarisa sangat menohok hati Arjuna yang akhir akhir ini semakin dihantui rasa bersalah setelah tahu Jenny mengandung. Arjuna juga harus menerima kenyataan yang ada, kalau Jenny sudah mengaku dirinya bersuami, dan William lah suaminya.


Satu hal yang masih menjadi PR Arjuna, jika suatu saat bayi Jenny lahir dia akan memastikan kembali kalau itu adalah anaknya atau anak William.


Itulah janji Arjuna pada dirinya sendiri. Walau hati kecil Arjuna terasa sedikit sesak saat mengetahui Jenny bersanding dengan William.


Harus Arjuna akui paras Jenny dan lekuk tubuh Jenny cukup menggugah ketertarikannya, namun Arjuna masih ingin menepiskan perasaan itu untuk Jenny. Arjuna masih beranggapan bahwa cintanya hanya untuk mendiang istrinya Claudia.


"Maafkan Papih ya sayang, Papih terlalu sibuk." ucap Arjuna dengan nada menyesal.


Permintaan maaf yang entah ke berapa kalinya yang harus Arjuna ungkapkan pada Clarisa, sampai sampai Clarisa bosan dengan permintaan maaf Arjuna.


"Clalisa kangen mamih Pih." rajuk Clarisa yang selalu merindukan kehadiran Claudia.


Anak kecil itu memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil di sampingnya, dengan tatapan sedih kehilangan mamih tercintanya. Begitupun dengan Arjuna yang sama sedihnya menyaksikan putrinya yang sudah piatu.


Bukan hanya Clarisa saja yang merindukan Claudia, dirinyapun sangat merindukan sang istri, namun sekali lagi takdir berkata lain.


Takdir selalu berjalan begitu deras, ia berjalan semaunya. Walau takdir itu terasa menyakitkan, kedatangannya tidak pernah mempertanyakan insannya dalam keadaan siap atau tidak? Karena semuanya atas kehendak Nya.


"Papih juga kangen mamih sayang." ucap Arjuna sambil mengelus kepala Clarisa, kemudian menghentikan laju mobil sesaat. Tujuannya hanya untuk menenangkan putrinya.


"Clarisa lihat Papih." pinta Arjuna pada putrinya. Clarisa pelan pelan menatap ke arah Arjuna.


"Iya Pih maaf." bisik Clarisa dengan menundukkan pandangannya di hadapan Arjuna.


Clarisa selalu mengerti jika membahas tentang mamihnya, pasti akan membuat hati sang papih ikut sedih. Clarisa pun merasa bersalah pada Arjuna.


"Tapi Clalisa juga pengen punya adek bayi Pih, bial Clalisa punya temen. Kaya temen temen Clalisa di sekolah." rajuk Clarisa.


Memang lucu Clarisa ini, bagaimana Arjuna bisa punya anak lagi? Sementara pasangan hiduppun tidak ada.


"Suatu saat nanti Clarisa pasti punya adek bayi, yang penting sekarang Clarisa jadi anak pintar, rajin sekolah, rajin belajar, nurut sama papih yang. . ."


Arjuna sengaja menggantungkan kalimatnya, agar Clarisa menjawab dengan riang.


"Yang anteng!"


Yang Ganteng!


Itu maksud Clarisa. Arjuna memang terlalu narsis mendidik anaknya, dia terkekeh sendiri akan tingkah Clarisa.


Andai saja Claudia masih hidup, sudah dipastikan Claudia akan mendorong bahu Arjuna seketika itu juga, karena tak kuasa menahan tawa akibat tingkah narsis suaminya.


•••


Bulan demi bulan Jenny lalui bersama kandungannya. Jenny sudah tak sabar menunggu buah hatinya lahir ke dunia, walau berat Jenny selalu berusaha menikmati masa sulit ini.


Saya yakin tidak semua wanita bisa sekuat Jenny, melalui masa kehamilan tanpa pasangan hidup. Apapun itu Jenny masih tetap bersyukur karena masih memiliki sahabat terbaik, yaitu Bella.


Sering sekali Bella menyalahkan Frans ataupun Arjuna yang sudah menelantarkan Jenny, tapi sungut Bella tidak mampu melawan ucapan Jenny, kalau dia hamil juga akibat perbuatan Bella yang meminta dirinya dijemput di club malam waktu itu.


Andai saja Bella tidak meminta Jenny menjemputnya, mungkin Jenny tidak akan mengandung darah daging Arjuna.


Entah kenapa batin Jenny semakin yakin kalau benih yang dikandungnya adalah milik Arjuna, tapi Jenny masih tetap dengan pendiriannya. Belum bisa memastikan seratus persen sebelum bayinya lahir dan mirip Arjuna atau Frans.


Jenny sengaja tidak mau melakukan tes DNA akan kandungannya, tekadnya hanya ingin membesarkan sang buah hati. Walau tanpa sosok seorang ayah, akan Jenny hadapi. Jenny terlalu lelah disakiti oleh kaum pria. Rasa cinta Jenny pun sirna bagi siapapun pria yang mendekati Jenny, termasuk William.


William tak hentinya menjaga Jenny. Semua kebutuhan Jenny sebisa mungkin William penuhi, walau cintanya tak terbalaskan tapi biarlah, karena William tidak tega melihat Jenny dengan perut yang semakin membuncit tanpa ada pria yang selalu ada di sampingnya.


"Jenn sorry gue gak bisa anter lo check up ke dokter kandungan, gue ada meeting di luar kota. Pulangnya kemungkinan besok sore."


"Tidak apa apa Bell, gue bisa pergi sendiri." ucap Jenny sambil mengelus kandungannya yang sudah menginjak bulan ke delapan.


"Jangan pergi sendirian! Gue gak tega ngebiarin lo ke rumah sakit sendiri dengan perut lo yang udah gede gitu. Gue mau telpon abang William buat anterin lo."


Tanpa menunggu persetujuan Jenny, segera Bella menelpon William untuk segera datang ke rumahnya menjemput Jenny.


"Makasih ya Bella, lo udah baik banget sama gue." ucap Jenny.


Rasanya Bella sudah bosan mendengar ucapan terimakasih dari Jenny.


"Ah udahlah, gue gak mau denger ucapan terimakasih lo. Gue berangkat Jenn, bye." ucap Bella yang sudah merasa bosan akan ucapan terimakasih Jenny.


"Jangan lupa kunci pintu!" teriak Bella sambil melangkah menuju gerbang meninggalkan Jenny.


•••


"Bayinya aktif sekali nyonya Jenny." ucap dokter kandungan yang masih menempelkan alat USG ke perut Jenny. Sementara William hanya tersenyum kecil, merasa Jenny sudah seperti istrinya. Sungguh momen yang belum pernah William rasakan sebelumnya.


Apa mungkin begini perasaan menjadi seorang ayah?


Batin William berkata demikian.


"Kira-kira HPL Jenny kapan yah Dok?" tanya William penasaran akan kelahiran anak Jenny, sehingga memberanikan diri memotong pembicaraan dokter. Sementara untuk jenis kelamin bayi tersebut William dan Jenny sudah tahu kalau bayinya diprediksi lahir seorang bayi laki-laki.


"Kalau dilihat dari posisi bayi sekarang, sekitar bulan depan tanggal 25, diprediksi akan lahir normal." jawab dokter.


Tidak menyangka sebentar lagi Jenny akan melahirkan, harapan William setelah anak Jenny lahir dia bisa menikahi Jenny, walau sebenarnya hati William masih pesimis kalau Jenny tidak mencintainya.


"Alhamdulillah, sebentar lagi jagoan kamu lahir Jenn." ujar William sambil mengelus bahu Jenny.


Jenny tersenyum bahagia mendengar pernyataan dokter yang memprediksi kelahirannya normal.


Sekitar setengah jam Jenny keluar dari ruang praktek, sementara William meminta Jenny duduk di depan ruangan dokter untuk menunggunya membeli air mineral untuk Jenny.


Baru saja William pergi, tiba-tiba sosok pria yang selama delapan bulan ini tidak pernah Jenny temui, kini muncul di hadapannya.


Awalnya langkah pria itu masih berjalan seperti biasa, namun setelah tahu kalau itu Jenny, dia kembali mundur dan mendekat ke arah Jenny.


"Jenny." panggil pria itu, ia tidak percaya melihat tubuh Jenny yang mulai bengkak dengan perut yang membesar.


"Kamu hamil Jenn?"


Ternyata pria itu adalah Frans, ia sangat terkejut melihat kehamilan Jenny, ternyata selama ini dugaannya terhadap Jenny itu salah. Jenny tidak mandul, buktinya sekarang dia sedang mengandung.


"Kamu hamil dengan siapa Jenn?" tanya Frans langsung meraih kedua bahu Jenny, menggerakkan bahu Jenny sedikit kasar, namun Jenny hanya diam.


"Jangan bilang kamu berselingkuh dariku Jenn, selama masa pernikahan kita. Apa ini alasanmu meminta cerai denganku?"


Ucapan Frans sangat menusuk hati Jenny. Bisa-bisanya dia menuduh Jenny serendah itu.


"Jawab Jenny!" hentak Frans yang tidak sabar menunggu jawaban Jenny.


Frans mulai geram akan sikap Jenny yang hanya diam memalingkan wajahnya, menahan nafasnya yang sesak, hingga lidah Jenny kelu untuk berucap. Jenny tidak sanggup melihat wajah Frans lagi, tergambar jelas semua luka yang telah Frans torehkan untuk Jenny.


"Kenapa Frans? Apa kamu masih mengira mantan istrimu mandul?"


Kalimat itu datang dari mulut William yang baru saja kembali membawa dua botol air mineral dalam jinjingan plastik. Frans pun tersentak menatap William.


"Oh, dugaanku selama ini benar. Ternyata kamu ada hubungan dengan pria ini Jenn?" ujar Frans sambil menunjuk ke arah William.


"Iya aku selingkuh dengannya! Hanya demi mempunyai keturunan. Sama seperti kamu yang diam diam selingkuh dengan Alea, hanya demi seorang anak. Puas kamu Frans!" cerca Jenny untuk Frans.


Nafas Jenny mulai tersengal, aliran darah Jenny melaju kencang, rasa pening di kepala Jenny mulai terasa. Akhirnya Jenny terjungkal di kursi, beruntung William segera menopang tubuh Jenny, merebut bahu Jenny dari genggaman Frans.


William panik akan kondisi Jenny dan juga kandungannya, lalu Jenny dibawa ke dalam gendongan William untuk diperiksa kembali di ruang rawat.


••••


Yang suka vote yah kakak😉