Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 62 - Sudah berlalu



Langkah Arjuna nampak tergesa-gesa hingga mengabaikan keberadaan Verlita di ruang TV. Pikiran Arjuna terlalu takut akan kehadiran Wicaksana di rumah Jenny.


"Pengantin mau pergi kemana?"


Sergah Verlita setengah berteriak. Teriakan Verlita pun berhasil menghentikan langkah putranya.


"Juna harus segera pergi ke Purwakarta mah."


Raut wajah Arjuna masih dipenuhi rasa cemas.


"Untuk apa? Lusa kan kita kesana Juna."


Verlita masih tidak mengerti akan tingkah putranya.


"Juna tidak bisa membiarkan bekas mertua Jenny ada disana mah. Juna takut kalau Jenny akan dipaksa untuk kembali dengan Frans."


Kini Verlita mengerti apa yang sedang terjadi dengan Arjuna. Ternyata putranya sudah benar-benar diperbudak oleh cinta.


"Kenapa mamah senyum-senyum seperti itu?"


Arjuna tidak mengerti akan reaksi Verlita yang justru sedang menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat raut wajah Arjuna yang begitu posesif terhadap Jenny.


"Jenny sudah benar-benar membutakan logika kamu."


Ujar Verlita sambil melangkah lebih dekat ke arah Arjuna.


"Maksud mamah?"


Arjuna masih tidak mengerti akan ucapan Verlita.


"Apa kamu tidak bisa berpikir lebih waras lagi Jun? Mana mungkin Jenny akan kembali dengan mantan suaminya, sementara pernikahan kalian tinggal dua hari lagi."


Mamah Arjuna berusaha menenangkan putranya.


"Tetap saja mah, hati Arjuna masih dihantui rasa takut sebelum Jenny sah menjadi milik Arjuna."


Pria tampan itu masih belum mampu menenangkan hatinya.


"Percayalah Jun sama mamah. Jenny wanita yang berkomitmen, rasanya sangat tidak mungkin membatalkan semuanya denganmu secara tiba-tiba. Lagipula ada Cleo disana yang menjadi kunci utama hubungan kamu dengan Jenny."


Sesaat Arjuna berpikir kalau kehadiran putranya akan sangat membantu ikatannya dengan Jenny.


"Jenny itu wanita berprinsip. Kalau dia mau kembali dengan Frans pastinya sudah Jenny lakukan lebih dulu, jauh sebelum dia mengenalmu. Tapi nyatanya sampai detik ini Jenny tidak menerima kembali kehadiran Frans. Apalagi Frans yang sejak dulu masih mencari-cari Jenny kan?"


Sesaat Arjuna terperanjat akan ucapan Verlita, darimana Verlita tahu soal itu?


"Darimana mamah tahu soal itu?"


Mendengar pertanyaan Arjuna membuat Verlita merekahkan bibirnya sesaat.


"Juna, berita perceraian mereka sangat hits di kalangan pengusaha. Banyak yang diam-diam mengincar jandanya Jenny. Bahkan Frans pun sampai sekarang kabarnya masih menyesal sudah menceraikan Jenny, tapi Jenny tetap memilih bersamamu kan?"


Kalau dipikir lagi memang ada benarnya juga apa yang diucapkan Verlita. Buktinya Jenny masih tetap setia menerima cinta Arjuna.


"Bahkan sampai sekarang kalangan ibu-ibu pengusaha masih mencari berita pernikahanmu dengan Jenny, tapi mamah sih cuma diam saja, pura-pura tidak mengerti. Jangan kamu lupakan kalau mamah ini istri almarhum pengusaha sukses papahmu Prasetya, semua informasi tentang anak pengusaha mudah mamah cari."


Arjuna tidak menyangka akan cara berpikir mamahnya. Verlita benar-benar sosok wanita luar biasa di mata Arjuna. Sebelum Arjuna membawa Jenny bertemu dengan mamahnya, ternyata Verlita sudah mencari informasi tentang Jenny.


"Super mamah!"


Ujar Arjuna sambil memeluk mamahnya dengan begitu manja.


"Terimakasih ya mah."


Ucap Arjuna lagi yang masih bergelayut manja di bahu Verlita.


"Iya sayang, semuanya demi kebahagiaan putra mamah. Mamah hanya tidak ingin kamu memilih perempuan yang salah."


Rasanya sangat wajar jika seorang ibu terlalu khawatir akan pilihan anaknya, apalagi Verlita yang menjadi orang tua dari pengusaha sukses seperti Arjuna. Tidak sedikit wanita yang datang menawarkan cinta untuk Arjuna berkedok kesetiaan.


"Pilihan Arjuna sangat tepat sekali mah, selera Arjuna memang tidak pernah salah."


Putra Verlita itu mulai membangga-banggakan dirinya sendiri sambil melepaskan pelukannya.


"Narsis!"


Umpat Verlita pada putranya, sementara Arjuna hanya terkekeh di hadapan Verlita.


"Oh iya mamah lupa ngasih tahu. Mulai besok handphone pribadi kamu mamah sita, mamah tidak ingin kamu intens komunikasi dengan Jenny. Mamah juga sudah berpesan pada Linda untuk melakukan tindakan yang sama pada Jenny."


Ternyata ide masa pingitan itu sudah terencana oleh Verlita dan juga Linda.


"Tidak mungkin mah! Mana mungkin Juna kuat gak ada komunikasi dengan Jenny sama sekali."


Sergah Arjuna membantah perintah mamahnya.


"Tidak bisa ditawar lagi Juna. Mamah begini biar nanti pada saat kamu bertemu dengan Jenny saat akad nikah, momennya terasa lebih spesial. Dulu waktu pernikahanmu dengan Claudia mamah ingin melakukan ini, tapi almarhum papah kamu yang melarangnya."


Sungguh terlalu kolot cara berpikir mamah Arjuna, bahkan Arjuna sendiri pun tak pernah menyangka kalau mamahnya masih menggunakan adat-adat pingitan.


"Terserah mamah saja, kalau mamah tega membiarkan putra mamah mati karena penyakit rindu."


Ucapan Arjuna barusan seketika membuat gelak tawa Verlita, begitupun dengan bi Minah yang sedang sibuk beres-beres di ruang tengah, memaksa bi Minah tidak sengaja mendengarnya.


•••


Jenny melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Langkah Jenny menuju ruang tamu untuk menemui mantan mertuanya.


Hati Jenny sebenarnya sangat keberatan untuk bertemu dengan orangtua Frans, tapi Jenny juga masih ingat betul semua kebaikan Wicaksana terhadapnya.


Pria paruh baya itu selalu berusaha bijaksana akan semua persoalan yang datang di rumah tangga Jenny, apalagi soal materi, Wicaksana tidak pernah memperhitungkan itu semua.


Sesampainya di ruang tamu, Jenny hanya berdiri mematung melihat Wicaksana dan Lina yang sudah duduk menunggu kedatangan Jenny.


Wicaksana langsung bangkit dari duduknya mendekat ke arah Jenny, bahkan berusaha berlutut di kaki Jenny.


"Jangan ayah, jangan berlutut padaku. Ayah tidak salah."


Ujar Jenny sambil menegakkan kembali tubuh Wicaksana yang hendak berlutut di kaki Jenny.


"Andai saja ayah tahu soal rumah tanggamu bersama Frans, rasanya tidak mungkin perpisahan ini terjadi Jenn."


Linang air mata Wicaksana mulai membasahi pipinya, bahkan pria paruh baya itu tak kuasa menatap wajah Jenny. Wicaksana merasa malu di hadapan Jenny akibat ulah putranya sendiri.


"Ayah tenang saja, kita bicarakan baik-baik. Semuanya sudah berlalu."


Jenny masih tidak sungkan memanggil Wicaksana dengan panggilan ayah, dia masih merasa kalau Wicaksana adalah sosok mertuanya.


Kebaikan Wicaksana pada Jenny masih dapat Jenny ingat. Bagi Jenny ayah mertuanya sama sekali tidak ada sangkut pautnya akan perceraiannya dengan Frans.


"Bagaimana kabarmu nak? Sepertinya kamu sedikit kurus dibandingkan dulu."


Wicaksana baru berani memperhatikan Jenny, setelah Jenny berhasil membawa Wicaksana duduk kembali di sofa ruang tamu bersama Lina.


"Jenny baik-baik saja ayah. Mungkin Jenny kurus karena kelelahan mengurus putra Jenny."


Seketika batin Wicaksana terlonjak, setelah mendengar pengakuan Jenny yang memiliki seorang putra.


"Apa kamu serius dengan ucapanmu Jenn? Kalau kamu sudah memiliki anak."


Mendengar pertanyaan Wicaksana yang nampak terkejut membuat Jenny tersenyum sesaat.


"Iya ayah, Jenny sudah punya anak. Cleo namanya."


Wicaksana semakin penasaran, padahal Jenny masih belum menikah lagi pasca bercerai dengan Frans.


"Anak dengan siapa Jenn?"


Tiba-tiba Lina angkat bicara, masih dengan raut wajah yang sedikit tidak suka pada Jenny. Padahal suaminya sudah murka tak terkira pada Lina yang sudah menyembunyikan semua yang terjadi pada rumah tangga Jenny.


"Maafkan Jenny mah, kalau Cleo bukan darah daging Frans. Jenny yang terlalu gelap mata divonis mandul, membuat Jenny kehilangan kewarasan. Satu bulan pasca perceraian itu, Jenny mencoba dengan pria lain hingga akhirnya Cleo hadir di hidup Jenny."


Gurat amarah terbit dari wajah Lina. Wanita paruh baya itu sama sekali tidak menyangka kalau mantan menantunya akan berani mengatakan semua itu di hadapannya.


"Apa kamu semurahan itu Jenny?"


Begitu entengnya ucapan Lina, sampai Wicaksana memekik pandangannya ke arah Lina.


"Mamah! Jangan bicara seenaknya."


Pekik Wicaksana yang sudah tidak tahan menahan amarah terhadap istrinya.


"Tidak apa-apa ayah. Terkadang kita butuh hal gila untuk menemukan penyelesaian masalah."


Memang benar apa yang dikatakan Jenny barusan, kalau dirinya tidak mencoba dengan Arjuna, mungkin sampai detik ini Jenny yang akan divonis mandul.


"Lalu bagaimana dengan ayah dari anakmu Jenn? Apa dia tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya padamu."


Wicaksana langsung memikirkan nasib Jenny dengan putranya, tidak seharusnya Jenny masih sendiri.


"Saat itu Arjuna berusaha keras ingin tanggung jawab pada Jenny, tapi Jenny menolaknya. Karena kita melakukan itu semua di luar kesadaran kita, di bawah kendali alkohol."


Kini Wicaksana mengerti mengapa Jenny mau melakukan perbuatan suami istri dengan pria lain. Apalagi Wicaksana tahu betul kalau Arjuna pun saat itu baru saja ditinggalkan istrinya.


"Mama! Mama!"


Tiba-tiba Cleo menangis kencang memanggil Jenny, lalu Jenny segera bangkit mencari Cleo di ruang tengah.


"Iya sayang ini mamah."


Jenny langsung mengambil Cleo dari gendongan Linda, lalu membawa Cleo ke ruang tamu untuk kembali menemui Wicaksana.


"Mirip sekali dengan papahnya Jenn."


Ujar Wicaksana yang masih tersenyum gemas saat melihat Cleo.


"Sepertinya ayah kenal dengan Arjuna."


Jenny merasa aneh pada ayah mertuanya dulu. Kalau Wicaksana tidak mengenal Arjuna mana mungkin dia tahu kalau Cleo mirip sekali dengan papahnya.


"Arjuna sosok pengusaha hebat Jenn, kemampuan dan pencapaian bisnisnya luar biasa. Kamu memang pantas bersanding dengannya nak. Tidak seperti Frans yang bodoh sudah menyiakan kamu hanya dengan alasan keturunan."


Jenny hanya tersenyum kecil mendengar kalimat yang dituturkan oleh ayah Frans, sementara Lina hanya tertunduk malu mendengar ucapan suaminya.


"Entahlah ayah, semua tentang pencapaian Arjuna di dunia bisnis Jenny tidak tahu. Yang Jenny tahu dia hanya sosok pria yang tidak pernah menyerah menunggu cinta Jenny."


Ucapan Jenny barusan membuat sepasang suami istri itu semakin malu di hadapan Jenny. Menantunya dulu yang sudah disia-siakan oleh putranya, ternyata semakin bersinar bersama pria yang jauh di atas Frans.


"Maafkan mamah Jenn, maafkan semua kelakuan mamah dulu padamu."


Kini Lina baru mampu menyadari semua perbuatannya terhadap Jenny, setelah mengetahui siapa pria yang sudah memberikan Jenny keturunan.


"Sudahlah mah lupakan saja, mungkin takdir Tuhan harus seperti ini. Justru Jenny sangat berterimakasih kepada Frans dan juga mamah. Mungkin kalau bukan karena kalian, Jenny tidak akan pernah menemukan pria yang begitu tulus seperti Arjuna.


Jawaban Jenny sangat menohok hati Wicaksana dan juga Lina.


Memang benar apa yang sudah dituturkan oleh Jenny, kalau dirinya tidak terbuang dari keluarga Wicaksana mana mungkin dia akan bertemu dengan Arjuna, mana mungkin hati Jenny akan terbuka untuk pria lain.


Jenny sudah tidak ingin lagi menyalahkan keadaan yang sudah terjadi pada dirinya, bahkan Jenny bersyukur sudah mampu melalui masa sulitnya. Kini Jenny mengerti mengapa Tuhan menjatuhkan dirinya begitu dalam, ternyata Tuhan hanya sedang memaksa Jenny mendapatkan yang jauh lebih baik, yang mampu membawa Jenny untuk kembali bangkit bersama mimpi dan semua harapan hidupnya yang baru.


••••


Like and comment ya


vote juga boleh pisan 😆