
Jenny masih menghela nafasnya sekuat tenaga, mencoba memberanikan diri untuk memberikan jawaban pada William.
"Ungkapkan saja Jenn. Apapun keputusanmu aku siap terima."
William berusaha memposisikan dirinya sebagai Jenny. Cinta itu tentang dua hati, bukan rasa yang dibangun dari satu pihak saja, karena cinta tak bisa dipaksakan.
"Maafkan aku Willy. Aku belum bisa menerima pria manapun, fokusku saat ini hanya untuk Cleo." tutur Jenny.
Jawaban yang sudah diduga oleh William sebelumnya. Cinta William hanya bertepuk sebelah tangan untuk Jenny, tapi tak mengapa biarkan keadaan tetap seperti ini. William sudah lebih dari bahagia bisa melihat Jenny semangat dengan karirnya, itu sudah cukup bagi William.
"Tidak apa apa Jenn, mungkin kita dikenalkan Tuhan bukan untuk berjodoh. Hanya untuk teman saja, tapi itu sudah membuatku bahagia bisa mengenal wanita sekuat kamu Jenny." tutur William dengan segala sikap bijaknya, dan Jenny tersenyum mendengar ketulusan William.
"Kamu pria baik William. Aku yakin suatu saat jodohmu tidak akan tertukar, lagipula masih banyak wanita single di luar sana. Aku yakin suatu saat hatimu akan tergetar oleh jodohmu."
Jenny berusaha menenangkan William, walau pria itu masih terlihat tenang tapi tidak dengan hatinya yang sebenarnya didera rasa kecewa. Bukankah ini lebih baik dari pada tidak mencoba mempertanyakan cintanya sama sekali?
"Semoga Jenn." jawab William singkat.
"Baiklah aku pamit kerja lagi ya Pak William."
Jenny menundukkan setengah badannya, memohon pamit pada William.
"Jenny, apa boleh aku minta satu hal dari kamu?"
William akan meminta apa? Jenny pun tidak tahu, lalu alis Jenny mengernyit mengisyaratkan pertanyaan balik kepada William.
"Panggil aku Willy saja. Apapun kondisinya entah itu urusan pribadi ataupun pekerjaan anggaplah itu obat rasa kecewaku hari ini Jenn." tutur William, lalu Jenny tersenyum hangat di hadapan William.
"Baiklah Willy aku permisi kerja lagi." ungkap Jenny penuh kelembutan, dan berhasil membuat hati William berdesir. Pria itu masih merasakan getaran cinta terhadap Jenny.
•••
Bulan bulan berganti menjadi tahun, waktu berjalan begitu cepat meninggalkan kita yang masih nyaman dengan kehidupan masing-masing, sampai tak terasa putra kecil Jenny kini akan berulang tahun yang kedua.
Malam ini Jenny akan memberikan pesta kecil-kecilan di rumahnya bersama pengasuh Leo dan juga Bella, tak lupa dengan Willy yang pasti akan datang meramaikan acara.
Jenny sudah tidak tinggal lagi bersama Bella, dia sudah membeli rumah di Jakarta, hasil dari keringatnya bekerja di William wedding. Rasanya sangat tidak enak jika harus terus-terusan menumpang di rumah Bella, walau Bella tidak mengizinkan Jenny pergi namun tetap saja Jenny ingin punya kehidupan sendiri bersama Leo.
Beuty class digelar di sebuah hotel, menampilkan beberapa referensi gaun pengantin, make up pengantin dan bagaimana cara mengembangkan bisnis wedding organizer, agar masih tetap bisa mengikuti selera pasar yang terus berubah dan berkembang.
Serangkaian acara telah Jenny ikuti dengan baik. Walau hati Jenny meronta ingin cepat pulang memikirkan Leo, tapi fokusnya masih tetap penuh selama di kelas beuty dan fashion show.
Jenny keluar dari aula hotel dengan langkah cepat, nyaris berlari. Hanya saja wedges yang Jenny kenakan sedikit menyulitkan langkahnya untuk berlari, hingga akhirnya Jenny terjatuh.
Bruuuugggghhhh!
Jinjingan Jenny yang berisikan beberapa katalog, souvenir beserta catatan kecil dari hasil training, jatuh berserakan.
Jenny menabrak pria dengan postur tubuh tinggi tegap, mata hitam pekat, serta hidung mancung. Wajahnya seperti pernah Jenny lihat sebelumnya, tapi entah dimana? Jenny lupa.
Pria itu berjongkok ikut merapikan barang-barang milik Jenny yang berserakan di lobi hotel.
"Maaf Pak, maaf saya buru-buru. Anak saya ulang tahun hari ini." ungkap Jenny tanpa sadar menuturkan alasan ia terburu-buru.
"Jenny?" sapa pria itu penuh selidik ke arah wajah Jenny yang tertutup sebagian rambut panjangnya yang coklat curly.
Jenny terbelalak setelah pria itu memanggil namanya. Siapa dia sebenarnya? Bisa-bisanya mengetahui nama Jenny.
"Arjuna." ucap Jenny setelah memperhatikan wajah Arjuna secara seksama.
Wajah Arjuna sedikit berubah selama dua tahun lebih tidak bertemu, tapi bukan perubahan yang semakin jelek termakan usia, justru Arjuna terlihat lebih segar dan semakin tampan. Mungkin selama dua tahun ini Arjuna sudah move on dari kematian sang istri, walau sebenarnya cinta masih tersimpan rapi dalam lubuk hati Arjuna untuk Claudia.
Jenny bersiap berlari setelah memastikan itu Arjuna, apalagi dia sudah melepaskan kalimat yang tak seharusnya Arjuna dengar kalau anaknya hari ini berulang tahun.
Jenny takut Arjuna akan curiga jika membahas soal anak. Bagaimanapun ikatan batin antara bapak dengan anaknya pastilah kuat.
Baru saja Jenny berdiri hendak melangkahkan kakinya, tangan kekar Arjuna sudah menahan lengan Jenny kuat kuat, tidak ingin melepaskan Jenny begitu saja.
"Aku merindukanmu tante barbie." bisik Arjuna tepat di telinga Jenny. Bisikkan Arjuna terasa begitu sensual, seperti membangkitkan gairah Jenny kembali.
••••
Duhhh deg-degan gak sih? 😁