Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 34 - Love you more Miss Florencia



Pria kesepian.


Itulah gambaran Arjuna di mata Jenny, walau kekayaan dan kemapanan semua dimiliki Arjuna, tetap saja tidak sebanding dengan kehidupan cintanya yang harus berjuang meluluhkan hati Jenny.


Nafas Cleo sudah berhembus teratur di pangkuan Jenny, artinya Cleo sudah terlelap tidur. Mungkin anak itu sengaja memberikan ruang untuk mamah dan papahnya, agar lebih leluasa.


Terkadang Jenny suka merasa kesal jika harus dihadapkan ke dalam situasi seperti ini. Batin Jenny selalu meluncurkan beberapa protes keras terhadap putranya yang selalu tertidur lebih awal jika Arjuna datang ke rumah Jenny.


Belum lagi keadaan yang canggung harus Jenny rasakan bersama Arjuna, saat Cleo sudah terlelap tidur, tapi tidak untuk Arjuna.


Arjuna justru menikmati momen berduanya tanpa gangguan Cleo, Arjuna lebih leluasa menatap Jenny, bahkan lebih intens melihat gerak-gerik Jenny yang nampak kaku di hadapan Arjuna, dan itu terlihat sangat menggemaskan menurut Arjuna.


"Arjuna, Cleo sudah tidur sebaiknya kamu pulang."


Pinta Jenny pada Arjuna, sementara Arjuna masih memandang Jenny intens, sangat membuat Jenny merasa risih.


"Boleh aku menginap disini Jenn?"


Rupanya Arjuna mulai memainkan siasatnya. Kali ini dia benar-benar tak ingin mengalah dari Jenny, tak ingin menjadi Arjuna yang kemarin-kemarin lagi, selalu saja dikalahkan oleh Jenny.


Kalian boleh mengatakan kalau malam ini serangan Arjuna sedikit extreme, karena untuk mendapatkan Jenny tidak berlaku dengan cara yang biasa-biasa saja.


"Apa kamu sudah gila Arjuna?"


Jenny terkejut mendengar permintaan Arjuna yang sangat konyol menurutnya. Mana mungkin Jenny akan membiarkan laki-laki yang bukan pasangan sah menginap di rumahnya.


Komplek perumahan Jenny sebenarnya hidup dalam lingkungan yang tidak terlalu care antar tetangganya, bisa jadi Arjuna dikira suami Jenny oleh tetangga di sekitar rumah Jenny. Kalaupun Arjuna menginap di rumah Jenny, tetangga tidak akan mempermasalahkan hal itu, karena mereka pun tidak tahu.


Tapi kembali lagi, Jenny tetap masih menggunakan alasan yang menurut Arjuna terlalu kolot.


"Kamu mau digerebeg sama pak RT?"


Kembali Jenny menegaskan dengan kedua bola mata yang membulat.


"Aku ingin tidur bersama Cleo. Ayolah Jenn tolong mengerti."


Semakin pintar saja Arjuna mencari alasan, hanya demi bermalam di rumah Jenny, agar bisa berlama-lama menikmati waktu bersama Jenny.


"Kalau tahu begini, mending tadi pas kamu baru datang kesini, Cleo kamu bawa saja ke rumah kamu. Besok pagi kamu antarkan lagi Cleo kesini."


Kilah Jenny mencari-cari alasan untuk menolak keinginan Arjuna.


"Tidak mungkin Jenn. Aku yakin semalam saja kamu ditinggal Cleo pasti tidak bisa tidur."


Arjuna benar, Jenny tidak akan bisa tenang jika harus jauh dari Cleo. Apalagi semalaman tidur tanpa memeluk putranya, bisa dipastikan Jenny akan sedikit gila.


Jenny tidak mempedulikan permintaan Arjuna, Jenny justru beranjak pergi meninggalkan Arjuna menuju kamar Cleo. Sengaja Jenny tidak mau meletakkan Cleo di kamarnya, karena Jenny tahu bagaimana nekadnya Arjuna.


Biarlah jika Arjuna berkilah ingin tidur dengan Cleo, setidaknya Arjuna akan tidur dengan putranya di kamar Cleo bukan di kamar Jenny. Padahal setiap malam Jenny selalu membawa Cleo tidur di kamarnya.


"Jagoan mamah kalau sudah tidur pules banget."


Ujar Jenny sambil mengusap kening Cleo, setelah putranya diletakkan di kasur bermotif spiderman.


Perasaan sayang yang sangat mendalam dari Jenny untuk Cleo dapat Arjuna rasakan. Kini Arjuna tengah berdiri di pintu kamar menikmati pemandangan penuh kasih antara seorang ibu dan anaknya, semakin terlihat cantik saja Jenny di mata Arjuna.


Jemari Jenny kemudian menyalakan lampu tidur yang berbias cahaya merah gelap, kemudian bangkit dari sisi tempat tidur hendak mematikan lampu utama.


Baru saja Jenny akan menekan saklar yang terletak di samping pintu, kini dia dikejutkan oleh sosok Arjuna yang dari tadi berdiri disana memperhatikan gerak-gerik Jenny.


"Kamu dari tadi disini?"


Tanya Jenny yang akhirnya berhasil menekan tombol saklar lampu utama di kamar Cleo.


Arjuna hanya tersenyum nakal di hadapan Jenny. Mata Arjuna seperti menyiratkan kalimat:


Bagus lampunya dimatikan.


"Kamu belum makan Jenn. Ayo makan dulu."


Arjuna menarik lengan Jenny posesif, seolah Jenny sudah menjadi miliknya.


"Pulanglah Juna, kasihan Clarisa pasti menunggu kamu."


Ucap Jenny setelah duduk di ruang makan, karena Arjuna sudah membawa Jenny disana. Arjuna tidak mau menggubris saran Jenny yang menyuruhnya pulang.


Arjuna sudah menyiapkan makanan kesukaan Jenny yang sudah dibelinya sebelum datang ke rumah Jenny. Entah kenapa pria itu menjadi sangat hangat kepada Jenny dan ingin menjadi pria yang selalu ada di saat Jenny membutuhkannya.


"Dari mana kamu tahu kalau aku suka sekali paduan nasi goreng dengan sate maranggi?"


Tanya Jenny merasa heran pada Arjuna.


Kedua bola mata Jenny pun berbinar setelah melihat makanan kesukaannya yang sudah terhidang di meja makan, sementara Arjuna tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Jenny.


Sepertinya Jenny sudah dapat menduga siasat Arjuna kali ini.


"Wajar Jenn kalau aku mencari tahu semua tentang kamu, karena aku ingin mengenalmu lebih jauh."


Arjuna menggenggam jemari Jenny erat dengan tatapan yang begitu meyakinkan. Jenny hanya diam, tak mampu melawan ucapan Arjuna karena perutnya pun sudah berteriak ingin diisi asupan makanan.


"Makanlah Jenn, aku tidak ingin kamu sampai lupa menjaga kesehatanmu, hanya karena terlalu fokus pada Cleo."


Arjuna kembali menegaskan.


Jenny mulai menghabiskan makanan yang disiapkan oleh Arjuna. Masih tak bisa Arjuna percaya kalau tubuh selangsing Jenny bisa menghabiskan makanan dalam porsi yang cukup besar.


"Gak usah terkejut seperti itu, porsi makanku memang banyak."


Ucap Jenny ketus sambil membawa piring-piring kotor sisa makan tadi.


Jenny langsung mencuci piring tersebut, sama sekali tak menghiraukan kehadiran Arjuna. Jenny sudah tidak mempedulikan Arjuna mau pulang atau tidak, karena Jenny sudah lelah menyuruh Arjuna pulang tapi tetap saja tak digubris.


Melihat respon Jenny yang tampak jutek membuat Arjuna semakin gemas akan tingkahnya, tak lama Arjuna menyusul Jenny yang sedang mencuci piring di dapur.


Arjuna mendekap perut Jenny yang masih tetap terlihat rata walau sudah melahirkan Cleo. Sungguh pandai Jenny merawat tubuhnya.


Jenny terkesiap merasakan pelukan Arjuna dari belakang yang datang tiba-tiba.


"Arjuna lepasin!"


Tangan Arjuna justru membungkam mulut Jenny dari belakang.


"Jangan teriak, Cleo sedang terlelap tidur."


Bisikan Arjuna terasa begitu sensual di telinga Jenny, tiba-tiba ada sesuatu yang membangkitkan hasrat Jenny saat mendengar bisikan Arjuna di telinganya. Jenny wanita normal, wajar saja jika ada respon lain di tubuhnya, akibat perlakuan Arjuna.


"Juna tolong kamu pergi. Kalau begini kapan aku mau selesai cuci piring?"


Baiklah kali ini Arjuna melepaskan Jenny dulu, membiarkan Jenny menyelesaikan pekerjaannya, tapi bukan berarti luput dari pandangan Arjuna yang kini sudah memilih mundur sekitar lima langkah di belakang Jenny.


Otak mesum Arjuna mulai bergerilya, memandang lekuk tubuh Jenny dari belakang. Arjuna semakin menikmati keindahan tubuh Jenny.


Mulai dari ujung rambut Jenny yang digulung ke atas hanya dalam satu tusuk konde. Memperlihatkan leher indah Jenny yang sangat membangkitkan gairah Arjuna. Belum lagi balutan dress pink tua yang memperlihatkan kontras kulit Jenny yang putih, semakin tak kuasa Arjuna menahan gejolak hasrat kelelakiannya.


Akhirnya Jenny selesai meletakkan piring-piring bersih di rak. Baru saja tubuhnya berbalik arah hendak melangkah menuju ruang tengah, tiba-tiba bibir Jenny sudah dibungkam oleh bibir Arjuna.


Arjuna mencecap bibir tipis Jenny dengan penuh kelembutan, dia sudah tak kuasa menahan gairahnya, ciuman yang sudah lama ingin Arjuna lakukan bersama Jenny. Aroma tubuh Jenny yang telah lama Arjuna rindukan.


Jenny tidak membalas ciuman Arjuna. Gengsinya masih berperan besar, walau sebenarnya Jenny justru menikmati ciuman Arjuna.


"Balas ciumanku Jenn."


Arjuna menghentikan aktivitasnya. Menatap netra Jenny lekat, sementara Jenny masih tak percaya akan tindakan Arjuna yang senekad ini. Jenny masih tetap diam menganga memperhatikan raut wajah Arjuna.


Telah lama Jenny tak tersentuh oleh pria manapun. Kali ini Arjuna seperti mengingatkan kembali momen panas di apartemennya dulu yang mengakibatkan lahirnya Cleo.


"I can't do this Juna."


Jenny memalingkan wajahnya dari pandangan Arjuna. Sayangnya Arjuna langsung meraih dagu Jenny perlahan, mengembalikan posisi wajah Jenny untuk tetap saling tatap.


Tidak ada kata yang ingin Arjuna ungkapkan lagi, dia hanya butuh bibir sexy milik Jenny yang terasa begitu manis, membuat Arjuna ingin lagi dan lagi.


Arjuna kembali mencium bibir Jenny dengan penuh perasaan dan kelembutan, tanpa sadar kini Jenny membalas ciuman Arjuna. Mereka saling memagut satu sama lain, hingga ritme ciuman itu berubah panas, tubuh Jenny sudah Arjuna tekan di pantry, menahan pinggang Jenny dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri Arjuna menahan leher Jenny agar mudah melesakkan ciuman yang lebih dalam lagi.


Sekitar setengah jam ciuman berlangsung, tangan Arjuna mulai bergerilya di bagian dada Jenny. Meremas kedua gunung kembar milik Jenny dibalik dress pink yang Jenny kenakan.


Jenny yang telah lama tak tersentuh pria seperti teringat kembali masa rumah tangganya saat masih utuh bersama Frans, dan itu sedikit menghilangkan kesadaran Jenny, begitupun dengan Arjuna yang sudah menggilai tubuh Jenny.


Arjuna sadar akan tindakannya, dia tidak ingin berbuat lebih jauh lagi kepada Jenny. Pria tampan itu tidak ingin lepas kontrol. Arjuna baru akan melakukan itu lagi bersama Jenny nanti, saat mereka sudah terikat ikatan suci pernikahan.


"I love you, I love you Jenny Florencia."


Bisikan cinta yang terdengar begitu manis di telinga Jenny, apalagi Arjuna mengatakannya di momen akhir ciuman. Arjuna sengaja mengakhirinya dengan begitu dalam dan lembut. Jenny seperti dibawa terbang oleh kata-kata cinta yang diucapkan Arjuna. Kedua bola mata mereka saling menatap penuh kemesraan.


Ditangkupnya wajah Jenny oleh kedua tangan kekar Arjuna, menatap mata Jenny dengan perasaan yang begitu mendalam.


"I love you Jenny. Love you more Miss Florencia, be my wife until the end of my life."


••••


Leleh gak sih kalian sama babang Juna?


😅😉