Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 32 - Terlalu sulit untuk ku hapus



Dua tahun telah berlalu, dua tahun juga Jenny telah meninggalkan kehidupan Frans. Sulit bagi Jenny untuk melalui harinya tanpa sosok Frans di samping Jenny, tapi apalah arti sebuah cinta jika ujungnya hanya menyakiti, apalah arti sebuah harapan jika yang diharapkan tak pernah sejalan.


Jenny masih duduk termangu di tepi ranjang sambil menatap Cleo yang tertidur pulas setelah Arjuna pamit pulang. Otaknya berputar memikirkan desakkan Arjuna yang memintanya untuk menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya, karena bukan hanya Cleo saja tetapi juga Clarisa.


Mungkin Clarisa bersikap hangat karena membayangkan Jenny sebagai sosok boneka barbie yang hidup, bukan membayangkan Jenny sebagai ibu sambung. Tentunya tidak mudah bagi Jenny untuk meyakinkan hati Clarisa.


Bukan hanya Clarisa, bahkan Jenny pun merasa sadar diri kalau Arjuna terlahir dari kalangan kelas atas, bahkan lebih di atas keluarga Wicaksana Saputra.


Perusahaan Arjuna tersebar dimanapun. Aset di luar negeri juga tak kalah hebatnya. Bagaimana mungkin Arjuna bisa jatuh cinta pada Jenny yang hanya wanita biasa.


Rasa takut Jenny lebih berperan disini, Jenny takut disakiti untuk ke sekian kalinya. Menikahi keluarga Wicaksana saja sudah cukup berakhir memilukan, apalagi dengan keluarga Prasetya yang jauh di atas keluarga mantan suaminya.


Apa mungkin keluarga Arjuna akan dengan mudah menerima seorang Jenny Florencia?


Entahlah, hati Jenny saat ini tengah berkecamuk. Jenny membelai dahi Cleo dengan penuh rasa sayang.


"Mamah tahu kamu sangat merindukannya sayang."


Gumam Jenny menatap iba pada sang buah hati, mengingat akhir-akhir ini Cleo tampak lebih riang dan bahagia setelah hadirnya Arjuna di kehidupan sang mamah.


Ingin sekali Jenny untuk tidak egois dalam mengambil keputusan, namun di sisi lain juga Jenny terlalu takut untuk melangkah, terlalu takut untuk memulai kembali, tapi hati kecil Jenny merasa iba pada Cleo yang tentunya membutuhkan sosok ayah di sampingnya.


"Maafkan mamah sayang."


Jenny berbisik di telinga Cleo, kemudian mengecup dahi Cleo dengan ciuman lembut penuh sayang, sampai akhirnya Jenny ikut terlelap tidur bersama jagoan kecil tercintanya.


•••


"Papih!"


Jerit Clarisa.


"Papih dari mana saja? Clarisa kesel!"


Sekitar pukul sepuluh malam Clarisa sudah bertolak pinggang di ruang TV. Putri Arjuna yang satu ini sudah semakin bawel, bahkan semakin lantang bicaranya, dan sudah tak terdengar cadel lagi.


Arjuna yang awalnya berjalan mengendap-endap mengira Clarisa sudah tidur, justru terlonjak akibat teriakan Clarisa, sampai-sampai Arjuna mengelus dadanya untuk mengatur irama jantungnya yang dikejutkan oleh suara protes Clarisa.


"Papih pulang kok disambutnya begitu?"


Ujar Arjuna mencoba melerai amarah Clarisa sambil mencubit pipi putrinya yang tak segembul dulu. Clarisa sudah mulai tumbuh tinggi sehingga tubuhnya tak terlihat segempal dua tahun yang lalu.


"Papih jangan coba-coba bilang ada urusan kantor, jadi papih gak pulang-pulang."


Clarisa masih meluncurkan bentuk protes kerasnya pada Arjuna.


"Tahu gak, papih akhir-akhir ini pulang terlambat karena apa?"


Arjuna sedikit menggoda putrinya yang mulai malas mendengarkan alasannya. Wajar jika Clarisa malas mendengar alasan Arjuna yang sering memberikan alasan pulang malam akibat urusan meeting atau projek bisnis lainnya.


"Gak tahu."


Jawab Clarisa ketus, memanyunkan bibirnya sambil melipatkan kedua tangannya di dada.


"Apa Clarisa masih ingat dengan tante barbie?"


Mendengar panggilan tante barbie membuat Clarisa sedikit terlonjak, berusaha mengingat siapa tante barbie? karena selama dua tahun ini Clarisa sudah lupa akan wanita yang selalu ingin diajaknya bermain.


"Tante barbie? yang mana sih pih?"


Benar saja Clarisa sudah lupa pada Jenny.


"Kok bisa sih Clarisa lupa sama boneka barbie sungguhan?"


Mendengar kalimat boneka barbie sungguhan dari mulut Arjuna, semakin membuat Clarisa antusias berusaha mengingatnya lebih dalam lagi.


"Oh ante balbie, ya ante balbie. Dulu Clarisa panggil ante balbie pih."


Arjuna terkekeh mendengar celotehan Clarisa yang cadel dibuat-buat, tapi di dasar hati Arjuna justru merasa senang tak terkira kalau putrinya masih mengingat sosok Jenny.


"Iyah sayang papih sudah menemukan kembali ante balbienya Clarisa."


Clarisa menggantungkan kalimatnya dan semburat kekecewaan muncul di raut wajah Clarisa.


"Tapi kenapa sayang?"


Arjuna penasaran akan perubahan sikap Clarisa yang setengah kecewa.


"Bukannya ante balbie ada yang punya yah pih."


Clarisa masih ingat dua tahun lalu Arjuna pernah mengatakan kalau Jenny milik William, sehingga sulit bagi Clarisa membawa tante pujaannya untuk datang main ke rumah mewah milik sang papih.


"Tidak sayang, kali ini ante balbie bebas bermain dengan Clarisa."


Arjuna menangkup kedua pipi Clarisa yang mulus dan senyuman Clarisa pun tercetak dari bibir mungilnya.


"Hore... Clarisa ketemu lagi sama ante balbie pih... Clarisa senang sekali pih."


Clarisa memeluk Arjuna dengan perasaan riang, hingga membuat sang omah tersenyum sendirian berdiri di samping sofa ruang TV.


"Tante barbie siapa Jun?"


Tanya ibu Arjuna setelah posisi berdirinya dekat dengan putranya. Arjuna masih memeluk erat Clarisa yang dengan manjanya bergelayut di pundak Arjuna.


"Bukan siapa-siapa Mah."


Arjuna tidak ingin bercerita lebih pada mamahnya, karena Arjuna takut keputusan Jenny di akhir akan menolaknya. Arjuna tidak ingin bercerita lebih pada siapapun, tapi bagaimanapun juga firasat orang tua selalu tak pernah salah.


Mamah Arjuna yang kerap disapa dengan panggilan nyonya Verlita seperti tahu kalau putranya sedang merasakan benih-benih cinta baru di hatinya.


"Bawa dia kesini Arjuna."


Mendengar permintaan Verlita membuat mata Arjuna membulat tak percaya.


"Untuk apa mah?"


Arjuna masih bertingkah pura-pura di hadapan sang mamah.


"Kamu menyukainya kan?"


Arjuna tersipu malu mendengar pertanyaan Verlita.


"Tapi Arjuna tidak yakin mah."


"Kenapa?"


Verlita langsung memotong ucapan Arjuna.


"Masa lalu dia terlalu sulit untuk Juna hapus. Mungkin sama seperti Arjuna yang masih menyimpan cinta untuk Claudia."


Verlita mengelus pundak Arjuna pelan.


"Sudah saatnya kamu memulai lagi Juna, kasihan Clarisa yang masih ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, karena tak selamanya mamah bisa menemani kalian. Belum tentu juga kamu bisa menemui wanita dengan paket lengkap. Selain kamu mencintainya, Clarisa pun sepertinya sangat menyukai si tante barbie."


Mendengar nasehat mamahnya hati Arjuna terasa damai, niatannya terhadap Jenny didukung sepenuhnya oleh sang mamah.


"Sudah masuk kamar sana. Lihat Clarisa sudah lelap di bahu kamu."


Verlita yang melihat Clarisa terkulai lemas di pundak Arjuna menyarankan putranya untuk segera membawa Clarisa ke kamar. Mungkin Clarisa terlalu lelah menunggu kepulangan Arjuna hingga tak tahan lagi menahan kantuknya.


Arjuna pun bergegas menuju kamar Clarisa, meletakkan anak perempuannya di kasur bermotif barbie, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Clarisa.


"Selamat malam putri kecilku, mimpi yang indah sayang."


Arjuna mengecup kening Clarisa dengan perasaan sayang yang mendalam, teriring janji hatinya yang akan mempertemukan kembali Clarisa dengan Jenny.


••••


Like and comment yah 😉