Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 33 - Pria kesepian



Wanita cantik berbalut kemeja warna navy dengan setelan rok sepan abu selutut terlihat sangat sibuk di depan monitor, mengontrol semua perkembangan aktivitas William Wedding yang kebetulan akhir-akhir ini dibanjiri klien.


"Franda, apa kamu sudah mengecek semua kebutuhan dekor dan wadrobe untuk klien kita di weekend ini?"


Jenny selalu memastikan semua kebutuhan klien, agar waktu resepsi tiba team Jenny tidak terlalu keteteran.


"Sudah mba Jenny. Hanya saja untuk klien kita yang atas nama Mela ada sedikit trouble mba."


Mendengar kabar dari Franda membuat Jenny sedikit cemas. Jenny tidak mau semua order yang sudah masuk ke William Wedding terancam batal hanya karena kekosongan beberapa item.


"Kendala di bagian apa itu Franda?"


Jenny mengernyitkan dahinya, penasaran akan penjelasan Franda.


"Mba Mela bersikukuh meminta gaun wedding yang sama persis dengan klien kita yang atas nama Imelda. Gaun itu tidak mungkin bisa dipakai dalam waktu bersamaan mba, soalnya resepsi weekend ini bebarengan antara mba Mela dan mba Imelda."


Jenny menghela nafasnya dalam. Terkadang mahluk yang namanya wanita itu sangat aneh juga menurut Jenny, hanya karena gaun pengantin yang ingin sama persis menjadi permasalahan serius. Padahal idealnya menikah bagi Jenny bukan tentang pesta dan gaun pengantin saja. Walau Jenny bergelut dengan resepsi pernikahan, tapi tidak untuk soal pribadi Jenny yang tidak mau ribet seperti wanita pada umumnya.


"Aku harus usaha dulu Franda, masih ada waktu empat hari. Semoga aku bisa menemukan gaun yang sama persis."


Sikap yang selalu optimis dalam bekerja selalu menjadi nilai lebih untuk Jenny di mata bawahannya, termasuk di mata Franda. Jenny tak pernah mengeluh sedikitpun jika ada masalah teknis yang menghambat laju projeknya.


"Apa mba Jenny yakin?"


Franda sepertinya tidak yakin. Gaun yang diminta oleh klien bernama Mela sudah tidak ada stok lagi di butik manapun.


"Optimis saja dulu Franda, insyaallah aku akan usaha sebisa mungkin. Jangan sampai Mela mencabut uang dp yang sudah masuk ke kita."


Jiwa bisnis Jenny memang tak diragukan lagi, selalu optimis sampai waktu yang akan menghentikannya.


"Baik mba, semoga mba nemu gaun yang sama persis yah."


Ujar Franda. Kemudian Franda pamit melanjutkan pekerjaannya kembali.


Setelah Franda pamit dari meja Jenny, tiba-tiba pesan whatsapp masuk ke dalam ponsel Jenny. Pesan yang cukup misterius dari nomor yang tak dikenal.


:: XXX ::


Aku merindukanmu Jenny Florencia.


10:15 am


Siapa yang mengirim pesan tersebut? Arjuna? Tidak mungkin.


Batin Jenny penasaran. Nomor Arjuna sudah Jenny simpan. Kalaupun itu Arjuna sudah pasti nama Arjuna tertera disana, lalu siapa?


Jenny tidak tahu, bahkan dari ketikannya saja tidak mampu terbaca itu pesan siapa? Tapi Jenny sedikit ketakutan membaca isi pesan yang menyebutkan nama lengkap Jenny. Tentunya bukan orang asing di kehidupan Jenny, tapi siapa?


Akhirnya Jenny lebih memilih mengabaikan pesan tersebut, kemudian ponselnya kembali berdering. Kali ini nama Arjuna yang tertera disana.


"Hallo Jenn."


Arjuna menyapa di balik panggilan telpon.


"Aku belum pulang Arjuna, kamu belum bisa video call dengan Cleo."


Jenny mengira kalau Arjuna menelpon untuk melepas rasa rindu Arjuna pada Cleo.


"Apa harus selalu tentang Cleo?"


Ujar Arjuna, yang sebenarnya merindukan Jenny di tengah-tengah aktivitas kantor.


"Bukan begitu Arjuna. Biasanya kamu telpon saat aku sudah di rumah. Nanti ujung-ujungnya kamu minta video call dengan Cleo."


Arjuna tersenyum di seberang sana. Rupanya sesulit ini mengejar cinta Jenny.


"Kali ini aku merindukanmu Jenn."


Tanpa basa-basi lagi Arjuna mengungkapkan kerinduannya pada Jenny, dan itu membuat Jenny tersipu malu mendengar pengakuan Arjuna.


"Aku sibuk Arjuna, jangan menelponku hanya untuk membahas hal konyol seperti ini."


Memang kenyataannya setumpuk pekerjaan di meja Jenny sudah menanti, belum lagi PR Jenny yang harus mencari model gaun pengantin yang sama persis.


"Aku berniat membawamu menemui Clarisa, tapi sepertinya kamu sangat sibuk."


Akhirnya Arjuna mengungkapkan niatnya. Arjuna sudah tidak sabar ingin membawa Jenny bertemu dengan putrinya.


"Maaf Juna, sepertinya hari ini aku gak bisa. Masih banyak deadline yang harus aku kerjakan."


Batin Jenny sebenarnya ingin sekali bertemu dengan Clarisa, karena tak pernah terbayangkan oleh Jenny sebelumnya kalau putri kecil Arjuna kini memiliki ikatan darah dengan Cleo.


"Ya sudah Jenn tidak apa-apa, kamu jaga kesehatan dan pola makan. Aku tidak mau kalau ibu dari anakku sampai sakit, kasihan Cleo kalau sampai kamu jatuh sakit akibat terlalu lelah bekerja."


Arjuna mencoba memberikan perhatian untuk Jenny. Entah kenapa kini Arjuna sangat memprioritaskan Jenny dalam hidupnya. Apa mungkin cinta Arjuna terlalu dalam untuk Jenny? Atau rasa takut kehilangan yang kembali muncul dalam batin Arjuna.


•••


Sekitar pukul delapan malam Jenny baru pulang dari aktivitasnya. Mata Jenny terkejut melihat mobil Arjuna yang sudah ada di halaman rumahnya. Ternyata pria itu tidak mau absen sehari pun dari rumah Jenny.


Langkah kaki Jenny menyusuri ruang tamu. Jenny menenteng tas tangan berwarna navy senada dengan warna atasan yang Jenny pakai.


Terdengar tawa riang Cleo yang sedang bercanda dengan sang papah, begitupun tawa Arjuna yang ikut larut dalam cengkrama Cleo.


"Cleo mamah pulang."


Dengan riang Jenny meraih tubuh gembul putranya dari pangkuan Arjuna, kemudian mencium Cleo dengan penuh rasa rindu. Aktivitas kerja yang padat membuat Jenny sangat merindukan Cleo.


"Kamu baru pulang Jenn?"


Tanya Arjuna yang tidak tega melihat wajah lelah Jenny, walau Jenny menutupi dengan keceriaannya saat bertemu Cleo, tapi Arjuna tetap mampu merasakan gurat penat di wajah Jenny.


"Iyah, di kantor lagi banjir klien. Oya mba Sinta mana?"


Jenny langsung mengingat pengasuhnya. Biasanya mba Sinta masih ada sebelum Jenny pulang.


"Sudah aku suruh pulang, kasihan sudah malam."


Jawab Arjuna. Ternyata Arjuna yang menyuruh mba Sinta pulang.


"Oh gitu. Oh iya anak mamah sudah makan belum yah?"


Fokus Jenny kembali pada Cleo


"Sudah Jenn, tadi mba Sinta sebelum pulang sudah suapin Cleo."


Cleo tidak menjawab pertanyaan mamahnya, dia masih asyik dengan miniatur dinosaurus di genggamannya, sehingga Arjuna yang lebih detail menjawab pertanyaan Jenny.


"Mandilah dulu Jenn, biar Cleo aku yang jaga. Kamu sudah terlihat lelah."


Jenny pun menuruti saran Arjuna, kemudian Cleo diserahkan kembali ke dalam pangkuan sang papah tampan yang masih mengenakan kemeja formal dengan lengan yang sudah tergulung sesiku.


•••


Jenny kembali menemui Arjuna dan tampak segar mengenakan dress kaos berwarna pink tua. Gairah Arjuna seketika muncul kembali seperti dulu saat membuahkan hasil Cleo, tapi kali ini sebisa mungkin Arjuna harus mampu menahan hasratnya.


"Ma ma ma."


Panggil Cleo, meminta dirinya dibawa dalam gendongan Jenny.


"Sini, Cleo sama mamah."


Jenny meraih kembali tubuh Cleo dari pangkuan Arjuna, karena rasa rindu Jenny masih belum terpuaskan bersama Cleo.


"Jenn, apa boleh Clarisa aku bawa kesini menemuimu?"


Arjuna memberanikan diri, meminta izin pada Jenny.


"Tentu boleh, tapi..."


Jenny menggantungkan kalimatnya, kemudian Arjuna langsung memotongnya dengan pertanyaan.


"Tapi kenapa Jenn?"


Tanya Arjuna penasaran.


"Aku mohon, kalau Clarisa kesini bertemu dengan Cleo. Jangan beri tahu dia kalau Cleo adalah adiknya. Aku takut kalau Clarisa belum mampu menerima kenyataan. Biarkan mereka mengenal biasa dulu, bukan mengenal secara ikatan darah diantara mereka."


Jenny tidak menginginkan adanya unsur paksaan terhadap Clarisa, bahkan Jenny pun tidak ingin Arjuna memberitahu niatnya untuk menjadikan Jenny sebagai ibu sambung Clarisa.


Biarlah semua ini berjalan mengalir adanya, biarlah semuanya saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu.


"Baik Jenn kalau itu maumu, lagipula masih butuh waktu untuk Clarisa. Walau sebenarnya dia sering bilang ingin punya adik karena kesepian di rumah."


Jenny hanya tersenyum mendengar kalimat Arjuna. Walau sebenarnya ada perasaan kasihan dari netra Jenny untuk Arjuna.


Jenny kasihan melihat Arjuna yang hidup tanpa arah. Walaupun aset yang dimiliki Arjuna cukup banyak, sepertinya di mata Jenny sosok Arjuna tidak lebih dari seorang pria kesepian.


••••


Happy reading 😉