Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 72 - Bukankah kita sudah berjanji



"Jenny, alasan apa yang membuatmu memilih Arjuna?"


Pertanyaan Mark berusaha memecah keheningan yang tengah dirasakan mereka berdua.


Sementara Jenny sama sekali tak ingin beradu tatap dengan Mark, dia lebih memilih menatap pemandangan hijau yang jauh lebih menenangkan.


"Aku yakin pasti banyak pengorbanan yang sudah dilalui Arjuna untuk mendapatkanmu, tentunya bersaing dengan banyak pria."


Mark yang melihat Jenny hanya tersenyum sesaat kembali berusaha memecah obrolan.


"Cintaku untuk Arjuna murni tanpa alasan."


Kali ini Jenny memberanikan diri untuk menatap wajah Mark.


Jawaban Jenny pun sangat simple dan berbobot untuk telinga Mark.


Pilihan Arjuna memang tidak pernah salah.


Batin Mark berkata kata, mengakui kalau Jenny bukan hanya cantik secara fisik saja. Wanita itu semakin terlihat mempesona di mata Mark dengan caranya berbicara.


"Apa kamu merasa takut dengan kehadiranku Jenn?"


Sebenarnya Mark sudah merasakan sikap ketakutan Jenny dari pertama melihatnya tadi. Hanya saja Mark berusaha tidak ingin tahu, tepatnya tidak ingin menyerah untuk berusaha dekat dengan Jenny.


"Aku selalu takut dengan pria bule."


Ujar Jenny berusaha polos menjawab pertanyaan Mark. Seketika itu pula Mark langsung tertawa lepas saat mendengar pengakuan Jenny.


•••


Keesokan harinya Arjuna dan Jenny sudah berada di pesawat menuju perjalanan pulang ke Jakarta. Jenny nampak murung, dia lebih banyak diam, sampai sampai Arjuna pun merasa aneh akan perubahan sikap Jenny.


"Kamu kenapa sayang?"


"Apa ada yang dipikirkan?"


Sepertinya Arjuna sudah sangat peka terhadap perasaan istrinya.


"Aku hanya memikirkan Cleo dan Clarisa sayang."


Kerinduan Jenny pada anak anaknya sudah tak terbendung lagi, tapi sebenarnya bukan hanya itu yang dipikirkan oleh Jenny.


Jenny masih teringat kejadian kemarin pagi saat bertemu dengan Mark.


Jenny POV


Sepeninggal Arjuna pamit ke toilet, membiarkan Jenny dan Mark berada dalam situasi yang canggung. Mark tak hentinya memandang paras cantik Jenny, pria itu bahkan menggeser posisi duduknya.


Mark duduk di sebelah Jenny, menempati kursi bekas Arjuna. Jenny pun semakin merasa ketakutan saat melihat reaksi Mark yang semakin gencar mendekatinya.


"Please Mark, jangan bertindak yang tidak tidak."


Usulan Jenny tetap tidak digubris oleh pria berdarah bule itu.


"Ternyata kamu semakin menarik kalau dilihat dari jarak yang lebih dekat."


Pria bule itu mulai menjalankan aksi rayuannya kepada Jenny.


"Tolong Mark minggir! Enyah dari kursi Arjuna."


Bibir Jenny sedikit menekan kalimatnya, dia merasa geram akan tingkah Mark.


"Kenapa?"


"Apa kamu takut Arjuna tahu?"


"Jangan menggangguku Mark! Aku ini istri Arjuna, istri dari sahabatmu sendiri. Apa kamu sudah gila?"


Kalimat pedas dari mulut Jenny justru semakin terdengar manis di telinga Arjuna.


"Karena milik orang lain jauh lebih menarik Jenn."


Mark benar benar gila, dia semakin nampak seperti muka tembok di hadapan Jenny.


"Lihat Arjunamu sudah datang Jenn, tapi aku hanya ingin tahu seberapa lama kalian akan tetap bersama."


Tatapan Mark terarah pada jarak sepuluh meter dari hadapannya, di sana nampak Arjuna yang sedang berjalan ke arah meja Mark dan Jenny.


Beruntung Arjuna sedang sibuk menerima telpon di sela sela langkahnya, sehingga tidak fokus ke arah Jenny dan juga Mark. Mungkin itu telpon dari A&J yang masih sering menghubungi Arjuna saat ditinggal cuti honeymoon.


"I love you Jenn."


Bisik Mark tepat di telinga Jenny, kemudian pria itu langsung beranjak dari kursi Arjuna sebelum Arjuna menyadari kedekatannya dengan Jenny.


POV end


"Sayang, semalam aku mimpi buruk."


Ujar Arjuna yang ingin memecah lamunan Jenny, kemudian menggenggam tangan Jenny erat.


"Mimpi buruk apa?"


Apa mungkin feeling Arjuna begitu kuat akan Jenny?


"Aku mimpi kamu pergi tanpa sepatah kata pun untukku Jenn."


Benar saja, kegelisahan Jenny mampu dirasakan oleh alam bawah sadar Arjuna.


"Di dalam mimpi itu terasa seperti nyata sekali, sampai sampai aku terbangun dan menangis."


Ungkap Arjuna lagi.


"Kenapa kamu gak bangunin aku sayang?"


Jenny merasa bersalah pada Arjuna, karena dia tidak tahu apa yang dirasakan Arjuna semalam.


"Aku tidak tega membangunkan kamu sayang. Bisa melihatmu tidur terlelap di sampingku sudah cukup membuatku tenang kembali."


Memang benar semalam Arjuna sudah membelai puncak kepala Jenny dengan penuh sayang, bahkan memeluk Jenny sangat erat seperti takut kehilangan.


"Apapun keadaannya aku tidak akan meninggalkanmu Arjuna."


"Bukankah kita sudah sama sama berjanji dan berdoa di danau Kintamani."


Jenny kembali mengingatkan momen romantis bersama Arjuna, mengingatkan janji masing masing.


"Iya sayang."


Ucap Arjuna sambil memeluk lengan Jenny, lalu meletakkan kepalanya di pundak Jenny.


Rupanya Arjuna merasa sedikit lelah akibat mimpi buruk yang mengurangi jam tidurnya, tak lama kemudian mata Arjuna mulai terpejam di bahu Jenny.


••••


Klik like ya ♡♡


komen juga boleh banget 😄