
Terdengar suara pintu rumah Lina yang digedor begitu kencang oleh Frans. Setelah pulang dari rumah sakit Frans bertekad ingin meminta penjelasan pada ibunya. Kenapa dulu Lina memberikan hasil cek dokter yang menyatakan Jenny mandul? Sementara Jenny terbukti telah melahirkan seorang bayi laki-laki.
"Eh tuan muda ternyata, bibi kira siapa?" ucap bi Siti.
Pembantu di rumah Lina membuka pintu untuk Frans, bi Siti sangat ketakutan akan amarah Frans yang sudah siap meledak. Belum pernah Frans semarah ini selama bi Siti bekerja di kediaman Wicaksana, bahkan bi Siti juga yang ikut mengasuh Frans sampai tumbuh dewasa. Bi Siti sangat mengerti sifat Frans, tidak mungkin Frans akan semarah ini jika tidak ada masalah yang sangat fatal.
"Mamah mana bi?" tanya Frans yang sudah tak sabar ingin bertemu Lina.
Mata Frans mencari sosok wanita paruh baya yang masih cantik walau di usianya yang sudah kepala lima.
Kaki jenjang Frans melangkah menyusuri ruang tamu hingga ruang tengah, tak mempedulikan kehadiran bi Siti yang masih mematung di pintu utama menyaksikan amarah Frans.
Bi Siti menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada putra majikannya? Sampai semarah ini.
"Mah, Mamah dimana?" seru Frans mengecek semua ruangan, namun tetap tidak ada jawaban dari Lina.
Frans memutar balik langkahnya setelah menengok ruang tengah. Kini langkahnya menyusur ke belakang, mungkin saja Lina ada di taman belakang sedang menikmati secangkir kopi seperti biasanya.
"Kenapa sih Frans datang marah marah? Tidak sopan sekali anak mamah ini." ujar Lina bangkit dari duduknya. Lina menatap Frans yang siap mencecarnya dengan segudang pertanyaan di benak Frans.
"Mamah jawab jujur pertanyaanku, ini soal rekayasa tes kemandulan Jenny." seru Frans lagi.
Deggg. . .
Seketika itu juga Lina terdiam, dari mana putranya tahu akan rahasia Lina selama bertahun-tahun?
Otak Lina berputar keras mencari jawaban yang pas untuk Frans.
"Kenapa Mamah diam?" cecar Frans lagi dan sukses membuat Lina menghela nafasnya dalam.
"Frans kenapa kamu tanya seperti itu ke Mamah?"
Lina membalikkan pertanyaan, ingin mengetahui dari mana Frans tahu soal rahasia busuknya.
"Siang tadi aku bertemu Jenny, dia hamil besar bahkan kandungangannya prematur akibat rasa trauma melihat Frans." tutur Frans menjelaskan kejadian di rumah sakit.
Lina juga tak percaya kenapa Jenny bisa mengandung? Bahkan sampai melahirkan, jangan jangan itu benih Frans. Kalau sampai itu benih Frans, ini tidak bisa dibiarkan. Pastinya Frans akan meminta kembali bersama Jenny.
"Apa kamu yakin itu darah dagingmu Frans?" tanya Lina.
Batin Frans sendiri tidak begitu yakin, tapi jika dihitung dari masa perpisahan Frans dengan Jenny masih ada potensi kalau anak Jenny adalah benih dari Frans.
Di sini bukan soal yakin atau tidaknya bayi itu benih Frans, yang Frans sesalkan mengapa begitu teganya seorang ibu kandungnya sendiri membuat pernyataan palsu tentang kesuburan Jenny. Hanya karena Jenny tak kunjung hamil, atau jangan jangan Frans sendiri yang mandul? Batin Frans pun semakin bergejolak.
"Mamah meragukan kesetiaan Jenny?" tanya Frans geram.
Pertanyaaan yang sangat menusuk hati Frans, karena Frans tahu Jenny adalah wanita baik baik, tidak pernah sekalipun membohongi suaminya. Apalagi berselingkuh di belakang Frans.
"Hati orang tidak ada yang tahu Frans. Bisa saja Jenny terlihat polos di matamu, tapi di belakangmu menusuk." pekik Lina.
Dari awal Lina sudah menentang pernikahan Frans dengan Jenny. Hanya karena ibunda Jenny yang ternyata sahabat baik tuan Wicaksana semasa kuliah dulu, sedangkan Lina diam diam menyimpan cemburu akan hubungan baik diantara mereka.
Wicaksana sudah tahu asal-usul Jenny yang terlahir dari keluarga baik baik, papah Frans tak segan membuat keputusan untuk menyatukan Frans dengan Jenny. Sikap Frans yang langsung tertarik pada Jenny membuat sang papah Frans segera mengikat keduanya dalam ikatan suci pernikahan, tak peduli Jenny yang masih muda. Saat itu Jenny masih berusia dua puluh tiga tahun.
"Mamah tega menuduh Jenny sembarangan."
Frans kecewa akan pertanyaan mamahnya yang sudah menyudutkan Jenny.
"Sudahlah Frans pernikahanmu dengan Jenny sudah selesai. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi, yang terpenting saat ini kamu sudah memiliki kebahagiaan sendiri bersama Poppy dan Alea."
Lina mengelus pundak putranya lembut, mencoba menenangkan amarah Frans.
"Jangan berpikir terlalu jauh Frans. Bisa saja Tuhan tidak memberimu keturunan saat bersama Jenny, namun saat bersama Alea Tuhan berikan."
Frans hanya diam termangu, tak ingin menanggapi lagi ucapan ibunya. Komitmen Frans setelah ini adalah menyelidiki siapa ayah kandung putra yang dilahirkan Jenny?
Kalau sampai bayi yang dilahirkan Jenny hasil dari pria lain, siapa pria itu? Berani beraninya mengusik Jenny saat masih sah menjadi istrinya.
•••
Tiga bulan masa cuti melahirkan sudah dilalui oleh Jenny, kini Jenny kembali beraktivitas seperti biasa di William wedding. Banyak yang harus Jenny kerjakan di hari pertamanya kembali bekerja, walau kadang rasa rindu akan Leo sering terlintas dalam hati Jenny.
Berat sekali rasanya meninggalkan Leo di rumah bersama pengasuh, apalagi rasa sakit di payudara Jenny yang menyiksa, Jenny harus melakukan aktivitas pamping asi yang harusnya diberikan untuk Leo justru harus dibuang percuma.
"Sepertinya sibuk sekali Jenn." ujar William yang kebetulan melewati meja kerja Jenny menghentikan langkahnya, hanya untuk menyapa dan memandang wanita yang selama ini mengusik hatinya.
"Iya Pak, maklum ditinggal tiga bulan cuti." sahut Jenny dengan senyuman yang merekah dari bibirnya.
"Tapi sepertinya kamu kembali gadis lagi Jenn, langsing lagi." puji William sambil terkekeh.
Tubuh Jenny sudah seperti dulu lagi, hanya di bagian dadanya yang masih sedikit lebih besar dari biasanya dibandingkan sebelum hamil. Mungkin karena faktor masa asi yang membuat dada Jenny terlihat lebih besar dari sebelumnya.
"Ah, bisa ajah Pak William mujinya." timpal Jenny tersipu malu di hadapan William.
"Oh iya Jenn, kalau pekerjaan kamu sudah sedikit senggang minta tolong datang ke ruanganku ya, ada yang mau aku obrolin sama kamu." pinta William pada Jenny.
Entah apa yang akan dibahas? Jenny pun tidak tahu, mungkin tidak jauh dari projek pekerjaan.
"Baik Pak William." ucap Jenny dengan sopan, kemudian William berlalu meninggalkan meja Jenny.
•••
"Jenn apa kamu masih ingat permohonanku sebelum kamu melahirkan Leo?" tanya William setelah pekerjaan Jenny selesai.
"Permohonan yang mana Pak?" Jenny justru balik tanya.
Jenny tak mampu mengingat tentang permohonan yang William maksud, padahal William pernah mengungkapkan niatannya untuk menjadikan Jenny seorang istri.
Bagi William tak mengapa walau Jenny sudah memiliki Leo yang bukan darah daging William, karena cinta William tulus menerima Jenny beserta putranya.
"Kamu sudah berjanji padaku Jenn akan menjawabnya pasca melahirkan." tutur William berusaha mengingatkan permohonan yang dimaksud.
Akhirnya Jenny ingat maksud permohonan William, jujur selama ini William sudah sangat baik pada Jenny, dan Jenny tidak ingin menyakiti hati William.
"Maafkan aku Jenn yang terlalu mendesakmu." tutur William lagi, karena Jenny masih tertunduk diam memikirkan jawaban apa yang harus keluar dari mulutnya.
"Tidak apa apa William, kamu berhak menagih janjiku."
Barulah Jenny menyebut nama saja untuk William. Ternyata William membahas perihal pribadi antara pria dan wanita dewasa soal masa depan mereka, soal perasaan mereka.
Entahlah Jenny masih di ambang bingung, harus memberikan jawaban apa untuk William?
Hatinya masih kosong untuk pria manapun, namun di sisi lain Jenny tidak ingin membuat William sakit hati. William terlalu baik untuk Jenny sakiti.
Tuhan. . .
Aku harus bagaimana?
Bisik Jenny dalam hati sambil menghela nafas begitu dalam, dia memikirkan jawaban apa yang harus diberikan untuk William.
••••