
"Frans." ucap Jenny dengan mulut menganga menatap wajah mantan suaminya.
Jenny masih tak percaya mengapa dirinya dipertemukan kembali dengan Frans?
"Jangan pergi Jenn. Aku mohon." pinta Frans dengan raut wajah memelas di hadapan Jenny.
"Aku janji tidak akan menyakitimu. Tapi, kali ini saja aku ingin bicara denganmu Jenn." Frans memohon pada Jenny untuk tidak langsung meninggalkannya.
Hati Jenny sudah melunak setelah dirinya disandingkan kebahagiaan bersama Arjuna. Lagipula perceraian itu sudah berlalu tiga tahun lamanya.
"Baiklah Frans." ucap Jenny yang masih berusaha bersikap tenang.
"Mamih, itu om siapa?" tanya Clarisa yang sudah menyelidik wajah Frans sejak tadi.
Putri Arjuna merasa cemburu berat akan kehadiran Frans, seolah mewakili mata papihnya.
"Om Frans." Frans langsung memotong pembicaraan antara Clarisa dengan Jenny, sambil dia menyodorkan tangan kanannya mengajak Clarisa berjabat tangan.
"Tidak mau!" seru Clarisa yang masih cemburu akan kehadiran Frans. Clarisa masih tidak rela mamihnya didekati oleh laki-laki lain, termasuk Frans.
"Om, om, om." kini giliran Cleo yang justru memanggil manggil Frans dengan sebutan Om.
"Jagoan kecil lucu sekali." ujar Frans sambil berjongkok berusaha mengimbangi tinggi Cleo.
"Apa ini putramu Jenn?" tanya Frans yang langsung menoleh ke arah Jenny.
"Iya." jawab Jenny singkat.
"Berapa usianya Jenn?" Frans semakin penasaran. Bahkan dia menyusuri setiap inchi lekuk wajah Cleo, dia berusaha mencari kemiripan antara wajah Cleo dengan wajah Jenny.
"Tiga setengah tahun." hanya itu jawaban Jenny. Namun, Frans sempat berpikir kalau tiga setengah tahun sama saja dengan masa perpisahannya dengan Jenny. Kemudian Frans langsung membawa Cleo ke dalam gendongannya.
Putra Jenny hanya tertawa lepas dalam gendongan Frans.
"Frans, bagaimana kalau kita ngobrol di meja sana?" tawar Jenny sambil menunjuk ke arah meja yang dipesannya tadi.
"Tentu Jenn." ucap Frans sambil tersenyum tulus di depan Jenny.
•••
"Aku gak pernah nyangka bisa bertemu denganmu disini Jenny." ujar Frans setelah mereka sampai di meja caffe.
"Sama, aku juga." jawab Jenny yang masih berusaha menormalkan gaya bicaranya di hadapan mantan suami.
Penampilan Frans sudah jauh lebih baik dibandingkan saat datang di acara pernikahan Jenny dengan Arjuna. Pria itu nampak lebih segar, dan lebih bersemangat lagi.
"Sepertinya kamu sudah bahagia Jenn." ucap Frans sambil menatap wajah Jenny, dan sesekali mengelus rambut Cleo yang kini berada dalam pangkuan Frans.
"Seperti yang kamu lihat Frans. Lalu bagaimana denganmu?" respon Jenny sedikit ingin mengetahui kehidupan Frans. Walau bagaimanapun Frans pernah menjadi bagian hidup Jenny.
"Hidupku hancur Jenn setelah kepergianmu." raut wajah Frans sedikit berubah, tak seceria tadi.
"Aku sudah memaafkanmu Frans. Hiduplah bahagia sepertiku, bahagiakan Alea, dan juga putrimu." ucap Jenny berusaha bijak.
"Semua sudah berakhir Jenn, aku dan Alea sudah tak bersama lagi. Tapi, aku juga sadar tidak akan mungkin aku kembali deganmu."
"Apalagi merusak kebahagiaanmu, hanya saja perasaan bersalah itu sering menghantuiku." tutur Frans mengakui semua yang telah terjadi di hidupnya setelah Jenny pergi.
"Iya Frans."
"Berdamailah dengan kehidupanmu sendiri, aku yakin suatu saat cinta akan menemukanmu kembali."
"Pasti akan ada wanita yang jauh lebih baik dariku." ucap Jenny sambil mengelus puncak kepala Clarisa. Karena, Clarisa sudah dari tadi memeluk perut Jenny.
Anak itu tidak mau jauh dengan mamihnya, matanya seolah mengatakan pada Frans kalau Jenny adalah milik papihnya.
"Terimakasih Jenn. Aku juga ingin menyampaikan permintaan maaf mamah padamu. Semuanya terjadi akibat campur tangan mamah juga, dan bodohnya aku menuruti saja semua ide mamah."
Tiba-tiba Jenny langsung terbayang akan perilaku Lina terhadap dirinya, dan Jenny hanya tersenyum dengan tatapan sendu.
"Tidak apa apa Frans."
"Berkat perlakuan mamahmu aku bisa sejauh ini dengan papahnya anak anak." ucap Jenny merasa bersyukur dengan semua yang telah dilaluinya.
"Hatimu memang yang terbaik Jenn." puji Frans untuk Jenny.
Pria itu sangat mengerti bagaimana sikap Jenny.
"Nah, sekarang jagoan kecil sama mamah lagi ya. Om masih ada urusan. Temani mamah, jaga baik baik."
Putra Jenny hanya manggut manggut mendengarkan ucapan Frans, lalu Frans menyerahkan Cleo ke dalam pangkuan Jenny kembali.
"Aku permisi Jenn, terimakasih sudah memberi waktumu untukku. Setidaknya, batinku sudah sedikit lega sekarang." ucap Frans yang sudah dalam posisi berdiri.
"Sama sama Frans." ujar Jenny.
Kemudian Frans berlalu dari pandangan Jenny. Mata Jenny masih menatap Frans yang berjalan semakin menjauh, ada rasa kasihan yang mendalam untuk mantan suaminya. Tapi, Jenny berharap suatu saat Frans akan menemukan wanita yang terbaik. Karena, Jenny tahu sikap Frans memang tak seburuk di masa lalunya.
"Mamih, itu siapanya mamih sih?" tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari bibir tipis Clarisa. Anak itu semakin kritis saja membaca situasi.
"Masa lalu Mamih." hanya itu jawaban Jenny. Dia tidak ingin membohongi putrinya.
"Masa lalu? Clarisa gak ngerti Mih." jawab Clarisa sambil menyendok eskrim ke mulutnya.
Sementara Jenny hanya terkekeh melihat ekspresi Clarisa yang kebingungan akan penjelasannya tentang Frans.
•••
Tinggalkan jejak kalian dengan klik like 😉