Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 29 - Arjuna versi mini



Sekitar pukul tujuh malam Jenny sampai di rumah. Jalanan macet kota Jakarta membuat Jenny sedikit terlambat pulang, padahal Cleo sudah merengek kepada pengasuhnya sejak sore hari tadi. Cleo sudah tak sabar menunggu kepulangan Jenny.


Entah kenapa Cleo seperti sudah hapal jam kepulangan Jenny. Sedikit saja Jenny terlambat pulang, sudah dipastikan Cleo akan gelisah merengek meminta sambungan video pada pengasuhnya untuk video call sang mamah.


"ma.. ma.. ma.. ma.."


Cleo berlari kecil dengan kaki mungilnya yang telanjang, setelah terdengar mesin mobil milik Jenny terparkir di halaman rumah. Tidak sekali dua kali kelakuan Cleo tiap mendengar suara mobil terparkir seperti paham betul kalau mamahnya sudah pulang.


Jenny pun segera turun dari mobil dengan cepat berjalan menghampiri Cleo yang sudah menunggunya di teras rumah.


"Anak mamah sayang, pasti kangen sama mamah yah?"


Ucap Jenny sambil menciumi pipi gembul Cleo. Bocah itu hanya tertawa lepas menahan rasa geli akibat ciuman Jenny yang bertubi-tubi menghujam pipinya.


"Angen ma.. ma.. angen.."


Cleo selalu memberi jeda di tiap panggilan mamah untuk Jenny. Kepalanya manggut-manggut menggemaskan, kemudian Jenny membawa Cleo masuk ke dalam, tidak ingin putra kesayangannya berlama-lama merasakan angin malam yang menerpa teras rumah.


Mba Sinta yang merupakan pengasuh Cleo mengambil beberapa pernak-pernik bawaan Jenny di dalam mobil. Wanita yang usianya mungkin lima tahun lebih tua di atas Jenny itu segera menyalakan lilin di kue ulang tahun Cleo.


Saat memasuki rumah, Jenny seperti tak percaya kalau ibunya datang berkunjung hanya demi menemui cucu kesayangannya di hari ulang tahun kedua Cleo.


"Ibu kok gak bilang-bilang mau kesini?"


Jenny langsung meraih jemari ibunya lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.


"Iya Jenn, ibu sengaja gak bilang biar kejutan buat kamu dan juga Leo."


Jenny hanya tersenyum, kemudian dengan riang mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Cleo di ruang tengah. Hanya ada Jenny, Sinta dan juga ibunya saja.


"Selamat ulang tahun anak mamah, sehat selalu sayang. Tumbuh jadi anak yang soleh, pintar dan kuat."


Jenny mengucapkan semua harapannya untuk Cleo, tapi anak itu hanya sibuk dengan kue ulang tahun yang didesain spiderman, yang menjadi karakter favorit Cleo.


Semua menciumi Cleo dengan gemas. Anak kecil itu terlihat menggemaskan dengan pipi gembul, kulit putih mata hitam pekat, alis tebal. Persis menyerupai wajah ayahnya yaitu Arjuna.


"Jenny, usia anakmu sudah bertambah lagi. Apa kamu tidak ingin untuk membangun rumah tangga lagi?"


Ungkap ibunda Jenny setelah suasana di ruang tengah selesai. Sementara Sinta sedang sibuk di belakang membereskan piring-piring kotor sisa acara tiup lilin tadi.


Jenny terdiam sesaat mendengar pertanyaan ibunya. Pertanyaan itu tidak sekali dua kali keluar dari mulut Linda, sang ibunda Jenny.


"Aku belum siap bu. Aku sudah nyaman dengan keadaan seperti ini."


Jawab Jenny sambil menatap Cleo yang sibuk membuka kado berisi mainan miniatur satwa dinosaurus yang dibelikan Jenny.


"Jangan begitu Jenn. Mungkin bagi kamu sudah nyaman seperti ini, tapi tidak untuk Leo yang membutuhkan kasih sayang seorang ayah, membutuhkan peran ayah."


Jenny hanya diam termangu mendengarkan nasehat ibunya yang sangat Jenny benarkan, namun ada batas yang sulit Jenny tembus untuk menerima nasehat ibunya. Mungkin sisa-sisa luka yang Frans torehkan masih ada di dasar hati Jenny.


"Kapan kamu akan mempertemukan Leo dengan ayah kandungnya Jenn?"


Linda semakin mencecar Jenny dengan beberapa pertanyaannya.


Linda sudah mengetahui kalau cucunya bukanlah darah daging Frans, karena dari bentuk wajahpun Cleo tidak ada mirip-miripnya dengan Frans.


"Jenny takut bu. Takut kalau dia akan membawa Cleo pergi dari pelukan Jenny dan Jenny tidak mau itu terjadi bu. Rasanya terlalu menakutkan bagi Jenny, karena Cleo segalanya untuk Jenny."


Jawab Jenny dengan tatapan nyalang, fokus memandang ke arah Cleo.


"Apa dia pria single Jen?"


Tanya ibunda Jenny lagi.


"Tidak tahu bu, kami melakukan i**tu sekitar dua tahun yang lalu. Setahu Jenny istrinya meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat."


Ibu Jenny turut prihatin mendengar jawaban Jenny yang menjelaskan nasib Arjuna yang kehilangan istrinya.


"Kalau dia bersungguh-sungguh denganmu lebih baik kamu terima saja Jenn, demi Leo."


Jenny hanya merespon dengan senyuman kecil, tak ingin membahas lebih lanjut lagi.


Tiba-tiba terdengar suara pintu utama diketuk oleh seseorang, Jenny dan Cleo yakin kalau itu kedatangan Bella dengan William yang sudah mengabarkan kalau mereka akan berkunjung ke rumah di hari ulang tahun Cleo.


"Biar Jenny buka pintunya dulu bu."


Jenny beranjak dari kursi, langkahnya melenggang menuju pintu utama. Cleo yang melihat Jenny pergi ke depan langsung melepaskan mainan yang ada di genggamannya. Kaki kecil Cleo mengikuti langkah Jenny yang sudah hampir sampai di ruang tamu.


Ceklek. . .


Pintu pun terbuka, menampilkan sosok wajah yang sangat membuat Jenny terkejut. Dari mana pria itu tahu rumah Jenny sekarang? Padahal baru saja sore tadi mereka bertemu saat insiden Jenny menabraknya di hotel.


Arjuna berdiri dengan gagahnya di depan pintu, memberikan senyuman terbaiknya untuk Jenny yang nampak gelagapan melihat wajah Arjuna. Apalagi Cleo yang tadi mengikuti langkah Jenny.


Untuk berjaga-jaga sengaja Jenny tidak mau membuka lebar pintu masuk, agar kedatangan Cleo tidak terlihat oleh Arjuna. Sayangnya Cleo sudah sampai di kaki Jenny, memanggil Jenny.


"Ma.. ma.."


Sungguh sangat menggemaskan Cleo memanggil mamahnya dengan tangan mengangkat ke atas, meminta digendong oleh Jenny.


Arjuna yang datang bersama Ivan terkejut melihat Cleo. Wajah Cleo nampak mirip sekali dengan wajah Arjuna, begitupun Ivan sama terkejutnya melihat Leo yang tampak seperti miniatur big bossnya.


"Arjuna versi mini."


Ungkap Ivan setelah melihat Cleo berada dalam gendongan Jenny.


Entahlah perasaan Jenny seperti apa? Tak bisa dibayangkan bagaimana raut wajah Jenny menahan rasa cemas yang berlebihan.


Baru saja ibu Jenny menasehati putrinya untuk mempertemukan Cleo dengan Arjuna, kini pria itu justru datang ke rumah Jenny, menemui Jenny dan juga Cleo.


Ingin sekali Jenny pergi dari rumah dan menyembunyikan Cleo, tapi itu semua tak bisa Jenny lakukan. Arjuna sudah terlanjur mengetahui keberadaan Cleo, mengetahui raut wajah Cleo.


"Pa pa pa."


Semakin hancur saja hati Jenny saat Cleo memanggil Arjuna dengan sebutan papah.


Entah dari mana anak itu muncul ide memanggil pria dewasa itu dengan sebutan papah. Mungkin akibat serial kartun yang sering ditontonnya bersama Sinta, membuat Cleo tahu sosok seorang ayah yang mungkin tanpa sadar Cleo rindukan kehadirannya.


••••