
Sekitar pukul delapan malam mobil milik Arjuna sudah terparkir di area basement. Jenny berusaha menyelidik tempat di sekitar mobil tersebut, sejak mobil milik Arjuna mulai memasuki kawasan apartemen mewah.
Tempat yang tidak begitu asing bagi Jenny, sepertinya dia pernah ke tempat ini, tapi kapan? Jenny berusaha semakin mengingatnya, namun masih belum juga mengembalikan daya ingat Jenny.
Biarlah kali ini Jenny menuruti permintaan Arjuna karena tidak mungkin bagi Arjuna akan menyakiti Jenny dan juga putranya.
"Mau kemana kita Arjuna? Lihat Cleo sudah kelelahan, dia mulai mengantuk."
Rengek Jenny sebelum turun dari mobil Arjuna.
Cleo nampak begitu menggemaskan dalam kondisi yang sudah payah di pangkuan Jenny. Sesekali Cleo menundukkan kepalanya, tak kuasa menahan kantuk.
"Sabarlah Jenn, sebentar lagi kita sampai."
Ucap Arjuna sambil melepaskan sabuk pengaman.
Akhirnya Jenny menuruti permintaan Arjuna, dia tetap berjalan beriringan dengan Arjuna. Mereka mencari pintu lift yang akan mengantarkan ke unit apartemen milik Arjuna.
Sekitar lima menit Jenny dan juga Cleo sudah sampai di depan unit milik Arjuna. Cleo sudah terkulai lemas di bahu Jenny, anak kecil itu sudah tak sanggup lagi menahan kantuknya. Sementara jemari Arjuna sibuk menekan kode apartemennya, tak lama kemudian pintu pun terbuka.
Jenny dan Arjuna mulai melangkah ke dalam. Jenny berusaha menelisik ruang di sekitarnya, semua furnitur masih Jenny ingat. Tata ruangannya sama sekali tidak berubah, masih persis seperti tiga tahun yang lalu.
"Aku ingin pulang Arjuna."
Akhirnya Jenny menyadari dirinya sudah berada di apartemen milik Arjuna.
Tiga tahun yang lalu Jenny melakukan aksi panas bersama Arjuna.
"Jangan salah paham dulu Jenn, please."
Arjuna langsung menghalau langkah kaki Jenny, tak ingin kehilangan Jenny lagi.
"Aku tidak ingin mengingat lagi kejadian kita tiga tahun yang lalu."
Jenny masih berusaha meronta di hadapan Arjuna dengan posisi masih menggendong Cleo yang sudah terlelap tidur.
Arjuna meraih pundak Jenny, menatap lekat kedua bola mata Jenny.
"Berikan Cleo padaku Jenn, percayalah aku tidak akan mengambilnya dari sisimu. Aku hanya ingin bicara serius denganmu, kali ini saja aku mohon."
Tatapan Arjuna berusaha semeyakinkan mungkin di hadapan Jenny.
"Kamu bohong!"
Ucap Jenny dengan ketegasannya.
"Please Jenn, sebentar saja."
Arjuna nampak memelas di hadapan Jenny.
Akhirnya Jenny menyerahkan Cleo ke dalam gendongan Arjuna. Tangan kekar Arjuna langsung membawa Cleo ke kamarnya hanya dengan satu tangan saja, sementara tangan kanan Arjuna meraih jemari Jenny untuk ikut memasuki kamar milik Arjuna.
Arjuna meletakkan Cleo di kasur dengan begitu hati-hati. Dia takut mengusik tidur Cleo, karena ini momen yang tepat untuk Arjuna agar bisa bicara serius dengan Jenny.
"Tiga tahun yang lalu aku sudah membawa seorang wanita ke apartemen ini, ke kamar ini."
Arjuna mulai membuka obrolan dengan meletakkan kedua tangannya di bahu Jenny.
"Waktu itu aku hampir gila sudah kehilangan Claudia, hingga aku tak mampu membedakan mana Claudia dan mana Jenny. Akal sehatku sudah tak ingin lagi bekerja dengan baik, hingga aku selalu menepiskan kalau Claudia sudah tiada."
Jenny hanya diam tak ingin mengatakan apapun, dia hanya ingin mendengarkan penuturan Arjuna saja.
"Maafkan aku Jenny kalau hanya dalam satu malam saja sudah membuatmu menanggung beban hidup yang sulit selama tiga tahun terkhir."
Jenny hanya mampu meneguk salivanya, berusaha menahan perasaannya saat ini.
"Waktu itu aku pikir kamu adalah sosok wanita malam yang biasa menjajakkan diri di sebuah club malam. Saat itu aku juga berpikir keras kenapa aku bisa-bisanya tergiur dengan wanita malam? Seumur hidupku tidak pernah berdesir saat memandang mereka. Tapi entah kenapa aku bisa melakukan itu denganmu Jenn? Hingga akhirnya aku tahu kalau kamu pun sedang berada di ujung depresi pasca perceraianmu dengan Frans. Ternyata kamu sosok menantu satu-satunya keluarga Wicaksana."
"Sudahlah Arjuna tidak perlu kau bahas lagi tentang itu."
Kali ini Jenny membuka suara saat Arjuna menyebutkan nama Frans. Dia tidak ingin luka lamanya dikorek kembali oleh siapapun.
"Aku belum selesai Jenn."
Arjuna meletakkan jari telunjuknya di bibir Jenny, mengisyaratkan Jenny untuk tetap mendengarkan semua yang akan diungkapkannya.
"Apa kamu tahu maksudku mangajakmu kesini?"
Tanya Arjuna. Sementara Jenny hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Bohong!"
Jenny langsung mencecar Arjuna.
"Malam ini kamu bisa bilang cintamu hanya untukku, tapi besok atau lusa tiba-tiba kamu menghilang dan menyesali ucapanmu sendiri. Maaf Arjuna aku tidak bisa."
Jenny semakin berani di hadapan Arjuna.
"Tidak Jenn, tidak akan. Aku sekarang sudah mantap memilihmu untuk kehidupan sekarang dan akan datang. Cintaku kepada almarhum Claudia biarlah tersimpan rapi di tempatnya, tidak akan pernah terusik kembali. Aku sudah mantap memilihmu. Temani aku hingga akhir usia Jenn, bersama kita lepaskan masa lalu yang membelenggu hati kita."
Kini Arjuna memeluk tubuh Jenny begitu erat, mendekapnya seperti takut kehilangan.
"Aku sudah melepaskan dan mengikhlaskan kepergian Claudia, karena yang aku inginkan saat ini hanya kamu Jenn, cintaku dengan Claudia sudah usai. Aku mohon kembalilah denganku, kita lanjutkan kembali semua rencana yang sempat tertunda Jenn."
Jenny masih diam mematung, tidak membalas pelukan Arjuna.
"Aku takut Arjuna. Aku takut untuk mencintaimu kemudian cinta kembali menjatuhkanku lagi."
Mendengar ucapan Jenny membuat Arjuna melepaskan pelukannya sesaat, kemudian menatap kedua bola mata Jenny.
"Apa karena Frans? Frans yang mulai hadir kembali di hidupmu. Atau luka yang dia torehkan terlalu dalam hingga membuatmu sulit untuk melangkah."
Jenny tertunduk seolah membenarkan dugaan Arjuna.
"Came on Jenn. Kita sama-sama lepaskan masa lalu kita, aku tidak ingin bayang-bayang Frans kembali hadir dalam pikiranmu. Lupakan semua tentang masa lalu kita, hanya ada Arjuna dan Jenny saja, tidak perlu ada nama lain yang akan mengusik kebahagiaan kita."
Pandangan mata Arjuna sulit untuk Jenny lawan. Bisa Jenny akui kesungguhan Arjuna kali ini.
"Aku cemburu Jenn setiap Frans datang mendekatimu, aku tak sanggup. Bahkan itu lebih sakit dari melihatmu bersama William."
Rupanya Arjuna menumpahkan semua perasaan yang mengganjal di hatinya.
"Kembalilah denganku Jenn, aku mohon."
Mendengar ucapan Arjuna barusan membuat Jenny langsung memeluk Arjuna dengan pelukan yang sangat erat.
"Jangan abaikan aku lagi. Aku takut untuk kehilangan yang kesekian kalinya."
Ucap Jenny lirih. Ada linang air mata yang membasahi pipinya tanpa terasa.
Arjuna langsung menyambut pelukan Jenny penuh rasa sayang, menciumi puncak kepala Jenny dengan perasaan yang sangat tulus.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir mereka. Arjuna dan Jenny hanya ingin menikmati momen ini. Aroma tubuh dan nafas Jenny yang telah lama Arjuna rindukan.
"Mulai besok kamu tidak usah pergi ke kantor William."
Bisik Arjuna di tengah-tengah pelukannya.
"Maksudmu?"
Jenny langsung melepaskan pelukan Arjuna.
"Aku sudah mengatasnamakan sertifikat kepemilikan Cla Design` menjadi atas nama Jenny Florencia. Kalaupun kamu mau mengganti nama butiknya tidak masalah."
Jenny terkejut mendengar ucapan Arjuna. Entah harus senang atau tidak enak, seolah terkesan Jenny mau kembali karena asset yang Arjuna berikan.
"Aku tidak mau."
Hanya itu jawaban Jenny.
"Kenapa? Lagipula sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Prasetya."
Arjuna masih berusaha mendesak Jenny.
"Itu seakan-akan aku mau kembali denganmu karena asset usaha yang kamu tawarkan."
Jenny merasa takut akan penilaian orang lain terhadapnya.
"Tidak Jenn. Beberapa hari lalu aku perhatikan kamu sibuk dengan beberapa desain gaun pengantin. Bakatmu sangat luar biasa, dan Cla Design` sangat membutuhkan orang seperti kamu."
Arjuna ternyata sudah memikirkan matang-matang keputusannya.
"Aku mohon kamu terima Jenn. Anggap saja itu maharku untukmu."
••••
Yang suka part ini vote yah 😉