Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 64 - Sampai maut menjemput



Pria tampan berbalut setelan jas hitam sudah duduk di hadapan penghulu, bersiap mengucap janji suci pernikahan. Tak pernah terbayangkan oleh Arjuna sebelumnya kalau penantiannya mengejar cinta Jenny tidak sia-sia.


Manik mata Arjuna berbinar terperangah oleh kecantikan Jenny yang kini sudah berdiri sekitar lima meter dari tempat ijab qobul. Wanita itu nampak begitu cantik nan anggun di mata Arjuna.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh putrinya semalam kalau mamih barbienya akan berubah menjadi seorang putri.


Kedua bola mata Arjuna tak mampu berkedip menyaksikan paras cantik Jenny, sementara Jenny yang ditatap tanpa kedip oleh Arjuna membuat dirinya tersipu malu dengan menundukkan kepalanya.


"Pengantin wanita ayo duduk."


Ajak salah satu saksi dari pihak Arjuna. Kemudian Jenny pun menuruti perintah tersebut, langkah kakinya semakin mendekat ke arah Arjuna.


"Cantik."


Bisik Arjuna saat baru saja Jenny duduk di sampingnya, tanpa menolehkan kepala ke arah Jenny.


Bisikkan Arjuna tidak mampu terdengar oleh penghulu dan juga wali nikah dari keluarga Jenny, namun Jenny yang duduk di samping Arjuna dapat mendengarnya dengan jelas. Dia hanya tersipu malu menahan rasa gugup saat bersanding dengan Arjuna.


Tangan Arjuna mulai dijabat oleh penghulu, bersiap mengucap janji suci pernikahan yang akan menghalalkan dirinya bersama Jenny. Begitu tenangnya Arjuna mengucap janji setia di hadapan penghulu dan juga saksi. Sampai akhirnya Arjuna menghadapkan tubuhnya ke hadapan Jenny bersiap menerima jabatan tangan Jenny dan diciumnya tangan Arjuna oleh Jenny sebagai tanda kalau mereka adalah pasangan yang sudah sah suami istri.


Arjuna mengecup kening Jenny cukup lama, bahkan dengan perasaan yang mendalam. Kerinduannya kini terjawab sudah setelah aksi pingitan dari pihak mamahnya dan juga mertuanya.


"Cintai aku sampai maut menjemput."


Bisik Arjuna setelah melepaskan kecupannya di kening Jenny. Senyum pun merekah dari bibir Jenny, namun Jenny tidak menjawab kata-kata yang diucapkan oleh Arjuna. Jenny terlalu malu untuk menimpali ucapan Arjuna, mengingat keberadaan mereka yang menjadi pusat perhatian tamu undangan.


Tamu undangan tidak begitu banyak disana, hanya beberapa keluarga inti Jenny dan juga Arjuna saja. Rekan bisnis pun hanya ada Ivan saja dan petinggi-petinggi A&J Group lainnya yang memang dirasa cukup dekat dengan Arjuna.


Pernikahan Jenny juga dihadiri oleh mantan mertuanya Wicaksana. Pria paruh baya itu seperti ingin menebus rasa bersalahnya terhadap menantu kesayangan yang sudah disiakan oleh putranya sendiri.


Wicaksana sangat bahagia menyaksikan momen ini. Sudah sepantasnya Jenny mendapatkan kebahagiaan yang benar-benar tulus dari seorang pria yang tepat.


Wicaksana hanya berdiri di sudut tenda, binar matanya masih tertuju pada pasangan Jenny dan Arjuna.


Betapa bodohnya kamu Frans.


Batin Wicaksana masih tak hentinya menyalahkan putranya sendiri.


Dua krucil di pelaminan sudah menghampiri Arjuna dan juga Jenny. Siapa lagi kalau bukan Clarisa dan Cleo yang sudah tidak sabar ingin menemui mamah papahnya.


"Pa pa pa."


Celoteh Cleo yang sudah sangat merindukan Arjuna.


"Hmm papah kangen sekali dengan jagoan papah."


Arjuna membawa Cleo ke dalam pangkuannya, sedangkan Clarisa sibuk duduk di pangkuan Jenny. Rasanya sungguh terasa mendamaikan melihat interaksi keluarga baru yang tengah melepaskan kerinduan.


"Lihatlah Frans mantan istrimu sudah bahagia, setelah luka yang begitu dalam telah kamu tancapkan."


Ujar Wicaksana yang menyadari kalau di sampingnya ada Frans.


Diam-diam Frans ingin mengetahui pesta pernikahan Jenny dengan Arjuna. Dia sudah meminta izin pada ayahnya untuk ikut menyaksikan acara pernikahan Jenny. Wicaksana pun menyetujui kehadiran Frans disana dengan catatan tidak akan mengganggu pesta pernikahan Jenny.


Frans hanya diam tidak menjawab ucapan ayahnya. Harus dia akui kalau tindakannya dulu memang kebodohan yang sulit dia maafkan.


Langkah kaki Frans berusaha maju satu langkah menuju pelaminan, dan seketika itu juga Wicaksana menarik bahu Frans kuat-kuat.


"Ayah sudah bilang padamu Frans, jangan ganggu acara kebahagiaan Jenny."


Wicaksana mulai geram dan khawatir kalau putranya akan berbuat nekad.


"Tidak ayah, Frans hanya ingin mengucapkan selamat untuk Jenny."


"Tidak perlu!"


Ayah Frans seolah mengerti akan maksud putranya.


"Ayo kita pulang, biarkan Jenny bahagia dengan Arjuna."


Wicaksana langsung menarik lengan Frans, mengajak pergi dari area pesta.


Frans masih tak mampu berkedip menatap wajah cantik Jenny, bahkan saat ayahnya menarik lengan Frans, wajah Frans masih tertuju pada Jenny.


Di mata Frans hari ini Jenny seribu kali lebih cantik dibandingkan dulu saat mengenakan gaun pengantin bersamanya. Mungkin bumbu-bumbu penyesalan yang membuat Frans merasa tingkat kecantikan Jenny makin bertambah.


••••