
"Assalamualaikum"
Sapa Kia yang sudah sampai di rumah Pamannya.
"Waalaikumsalam "
Suara seorang wanita yang sudah terlihat berumur 40 an.
"Azkia? apa kabar sayang? "
Sapa wanita itu terkejut melihat kedatangan Kia. Wanita itu langsung berhambur memeluk tubuh Kia.
" Alhamdulillah, baik bibi! Bibi apa kabar?"
Kata Kia melepas pelukannya.
"Baik sayang, maaf ya bibi tidak bisa datang saat acara pernikahanmu! "
Saut bibinya.
"Tak apa bi, Kia mengerti paman sedang sakit. Makanya Kia datang langsung kemari ingin menjenguk paman"
Kata Kia sedih.
"Bi, perkenalkan ini Lee suamiku "
Kia menarik tangan Lee mendekat.
"Halo bi, saya Lee. Senang bertemu denganmu! "
Kata Lee tersenyum manis.
"Halo Lee, senang bertemu denganmu juga. Wah Lee sangat tampan, pantas Kia jatuh cinta. Kalian memang sangat serasi, tampan dan cantik. Apalagi Kia sudah berhijab makin cantik "
Bibi memuji.
"Ayo masuk sayang, cepat ajak suamimu! "
Kata bibi.
"Iya bi. Ayo sayang kita masuk! "
Jawab Kia dan menarik tangan Lee.
Lee dan Kia masuk ke dalam rumah. Suasana dalam rumah masih terlihat sama seperti dulu dan tidak ada yang berubah. Kia senang kembali ke rumah pamannya, dulu dia sering menginap di rumah pamannya jika kesepian. Paman hanya memiliki satu anak perempuan yang seumuran denganku. Karena kepergianku ke Korea mendadak, kami lama tidak berbicara karena sepupuku marah aku tidak memberi tahu kepergianku.
"Bi, paman mana? "
Tanya Kia.
"Di kamar sayang, pamanmu sudah lama terbaring karena sakit. Pergilah temui dia, pamanmu pasti senang melihatmu "
Jawab Bibi.
"Baiklah bi. Ayo sayang temui paman dulu"
Ajak Kia.
"Iya sayang "
Jawab Lee.
Mereka menuju ke dalam kamar yang tak jauh dekat ruang tamu. Kia merasa gugup setelah sekian lama tak bertemu. Apalagi sekarang dia bersama Lee suaminya.
"Assalamu'alaikum Paman "
Sapa Kia saat berdiri di depan pintu. Pamannya menoleh saat mendengar suara Kia.
"Waalaikumsalam...... Azkia? "
Jawab paman dan terkejut merasa senang melihat keponakan yang sudah lama tidak dia lihat.
Kia segera mendekat ke arah tempat tidur dan langsung mencium punggung tangan pamannya.
"Paman, maaf Kia baru datang menjenguk. Maafkan Kia paman! "
Kata Kia yang sudah menangis sedih melihat kondisi pamannya.
"Sudahlah, yang penting Kia sudah datang paman sudah senang. Bagaimana kabarmu sayang? "
Suara paman terdengar lemah.
"Baik paman, bagaimana kondisi paman? "
Tanya Kia sesenggukan. Lee sedih melihat Kia yang menangis.
"Paman sudah membaik, jangan khawatir sayang. Lihatlah paman masih sehat! "
Jawab paman memaksakan senyumnya.
Kia yang mendengar perkataan pamannya hanya bisa menghela nafas. Pamannya masih saja seperti dulu selalu menyembunyikan kesehatannya walaupun tidak baik.
"Paman ini Lee suamiku. Sayang kemarilah! "
Kata Kia segera memanggil suaminya.
"Paman saya Lee. Senang bertemu denganmu. Kia banyak bercerita tentang paman"
Kata Lee sopan.
"Ha... Ha.... Ha... Benarkah? senang bertemu denganmu juga Lee. Wah Azkia, paman tak sangka kau pintar memilih suami. Selain tampan juga pintar dan sopan. Paman senang kau bahagia! "
Kata paman tertawa.
Kia berhenti menangis saat melihat pamannya tertawa. Dia senang sekian lama tak bertemu pamannya. Tak berapa lama bibi datang.
"Sayang, lihatlah pamanmu itu sudah lama tidak melihatnya tertawa. Saat kau datang dia merasa senang. Pamanmu sudah kangen denganmu. Dia selalu bertanya kapan Kia akan pulang. Bibi senang kau bisa datang melihat pamanmu"
Bibi terlihat senang.
"Oh iya mana Dini bi? "
Tanya Kia.
"Dini masih kuliah sayang, nanti sore baru pulang. Dia selalu bertanya kabarmu, rindu katanya"
Jawab Bibi.
Kata Kia.
" Tenanglah, jika dia marah akan bibi jewer telinganya nanti "
Kata bibi mengancam.
"Ha... ha... ha... ha.... "
Mereka semua tertawa tanpa sadar ada seseorang yang sedang mendengar suara tawa mereka dari balik pintu.
"Azkia? dia datang? "
Batin Dini terkejut.
Dini perlahan mendekat dan membuka pintu. Semua orang terkejut melihat Dini sudah datang.
"Dini? kau sudah pulang? lihatlah siapa yang datang? "
Kata Bibi.
"Dini, apa kabar? "
Tanya Kia tersenyum.
"Azkia? kau? apa ini? kau berubah? "
Kata Dini yang terkejut.
Kia tersenyum saat mendengar kata-kata Dini. Sedangkan Dini masih mematung tak percaya. Dia langsung berhambur memeluk Kia.
"Kau jahat Kia, kenapa tidak memberi kabar padaku. Banyak yang ingin aku tanyakan, kenapa mendadak pergi? "
Dini memeluk Kia senang melihat sepupunya yang lama tidak bertemu.
"Maaf Din, Kak Boy mendadak menyuruhku berangkat setelah acara kelulusan. Aku tidak sempat memberi tahumu. Maaf ya?"
Kia menyesal.
"Sudahlah, kau juga jahat Kia. Bukankah kau berjanji kita akan menikah bersama-sama saat menemukan pasangan. Tapi menikah duluan! "
Rengek Dini kesal.
"Maaf Din, semua terlalu cepat juga untukku. Suamiku tak sabaran! "
Bisik Kia malu.
"He.... he... he... pantas dia tak sabar dengan wanita cantik. Takut diambil orang ! "
Jawab Dini cengengesan terdengar semua orang.
Kia memukul Dini kesal. Semua yang mendengar tersenyum melihat tingkah mereka yang masih berpelukan.
"Hei mana saudara iparku? "
Tanya Dini mencari ke kanan dan kiri.
"What? "
Dini terkejut melihat laki-laki tinggi, putih, tampan dan terlihat sempurna itu.
"Halo, perkenalkan saya Lee. Suami Kia! "
Kata Lee tersenyum.
"Ha... ha... ha... salam kenal kakak ipar. Maaf kak apa kakak ipar punya saudara kembar? kenalkan padaku ya? Please?
Dini tertawa terkejut dan blak-blakan bertanya pada Lee.
" Dini? "
Panggil bibi keras.
"Ehmmmm, ahhhhh maaf Bu aku keceplosan. Abis Kak Lee tampan, siapa tau punya saudara kembar. Kenalkan padaku boleh juga Khan bu?
Kata Dini langsung di jitak dahinya oleh sang ibu.
" Dasar kau, apa kau tak malu? "
Tanya bibi.
"Ibu, aku serius. Siapa tau naksir denganku bu. Aku juga mau sama oppa Korea. He... he... he..... "
Kata Dini.
"Sayang, bagaimana kalau kenalkan sama Mr. Kim aja? Dia masih jomblo khan? "
Kata Kia teringat sepupu Lee yang di Bandung.
"Baiklah, nanti aku berikan nomernya. Kau tenang saja! "
Kata Lee setuju dengan usul Kia.
"Wah, Kak Lee terima kasih. Kalian memang pasangan serasi dan sehati! "
Kata Dini memuji.
Kia dan Lee tersenyum melihat Dini yang sumringah. Lee melihat Dini seperti adiknya yang selalu ceria.
"Sudah, berhenti mengobrolnya ayo kita makan dulu. Bibi sudah menyiapkan makanan spesial untuk kalian"
Kata bibi.
"Iya, pergilah makan dulu. Paman istirahat dulu nanti kita ngobrol lagi ya! "
Perintah paman.
"Ayo Kia, Kak Lee kita makan dulu. Aku senang kalian datang! "
Dini langsung keluar.
Mereka akhirnya makan bersama di meja makan. Dengan menu spesial yang sudah di siapkan dengan penuh cinta. Terdengar suara tawa mengisi ruangan itu.