
Yujin sudah mengungkapkan isi hatinya dengan perasaan yang lega. Sudah sekian lama dia simpan, hari ini dia memberanikan diri jujur pada Boy. Biarlah semua menjadi jelas, apapun hasilnya nanti Yujin akan menerimanya.
Boy yang terkejut mendengar kata-kata Yujin hanya berdiri menatap gadis cantik itu. Rasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar memasuki hati dan pikirannya. Menurutnya Yujin hanya menggodanya saja, menjailinya atau hanya candaan belaka. Boy tidak menganggapnya serius kali ini, baginya Yujin seperti adiknya sendiri. Tapi ada setitik rasa ketertarikan pada Yujin yang sengaja Boy sembunyikan.
"Maaf Yujin, jangan bercanda denganku dan ini tidak lucu! "
Kata Boy langsung berbalik akan pergi.
"Boy.......... Aku sungguh mencintaimu. Sejak dulu dan sampai hari ini, aku masih mencintaimu !"
Teriak Yujin.
Boy mematung mendengar ucapan Yujin. Dadanya berdebar kencang.
"Maaf Yujin, tapi aku tidak punya perasaan seperti itu. Kau seperti adikku sendiri! "
Kata-kata Boy seakan menusuk ke dalam hati Yujin, terasa sangat perih saat mendengar penolakan langsung dari Boy. Sia-sia penantiannya selama ini untuk menunggu seorang Boy. Mungkin dirinya terlalu memaksakan perasaan seseorang. Yujin sudah mengalah dan pasrah dengan apa yang terjadi. Dia tidak akan memaksa Boy untuk menerimanya.
"Baiklah kak, aku tidak akan memaksamu. Setidaknya kita masih berteman, ayo kak kita sudah lama di sini ! "
Kata Yujin tersenyum tipis dan berlalu meninggalkan Boy.
Yujin berjalan lebih dulu dan Boy mengikuti di belakangnya. Setetes air berlinang di ujung matanya. Yujin menangis tapi segera diusapnya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Boy.
Yujin mempercepat langkahnya dan tanpa sengaja tersandung batu yang tidak dia perhatikan.
"Aduh! "
Teriak Yujin dan mau jatuh.
"Hati-hati ! "
Teriak Boy dan langsung menarik tubuh Yujin yang hampir terjatuh ke depan.
Yujin jatuh ke dalam pelukan Boy, dan saat ini Boy memeluk erat pinggang Yujin.
"Deg... deg... deg....deg"
Dada Yujin dan Boy berdebar kencang.
Mereka berdua membisu, hanya terdengar suara nafas Boy di telinga Yujin.
Perasaan Yujin tak karuan, sebaliknya Boy juga seperti itu.
Teringat kata Boy tadi, Yujin langsung melepaskan dirinya dari pelukan Boy.
"Maaf Kak dan terima kasih sudah menolongku "
Kata Yujin berjalan lagi.
Boy mengulurkan tangannya ingin menahan Yujin tapi segera dia tahan.
"Hais, biarlah seperti ini. Aku tidak ingin memberinya harapan"
Kata hati Boy.
Mobil melaju perlahan, tidak ada suara dari mereka berdua di dalam mobil. Hanya suara-suara mobil melaju melewati mobil mereka. Rasa canggung tercipta karena kejadian tadi.
Boy melirik ke arah spion, melihat ke arah Yujin. Terlihat kesedihan dari matanya, wajahnya yang cantik terlihat lebih muram dari sejak tadi.
"Apa kau tidak lapar? "
Tanya Boy memecah keheningan.
"Ah...... tidak Kak, kita pulang saja! "
Jawab Yujin segera.
"Baiklah"
Jawab Boy.
Akhirnya mereka sampai di kediaman Lee. Yujin segera keluar dari mobil dan menghentikan langkah kakinya.
"Terima kasih kak hari ini, untuk yang tadi lupakan saja! "
Kata Yujin tersenyum tipis.
Boy terkejut dengan kata-kata Yujin. Dia merasa tak enak hati. Apa dia salah secara langsung menolak Yujin. Hatinya merasa sedih saat Yujin mulai hilang dari pandangannya.
Setelah masuk ke dalam rumah, Yujin berlari menaiki tangga. Baru sampai anak tangga ke sepuluh kakinya keseleo dan akhirnya terjatuh ke bawah.
"Gluduk.... gluduk...... gluduk... brak!
"Ahhhhhhhhh, sakit! "
Suara Yujin yang terjatuh dan kesakitan.
Boy yang mendengar teriakan Yujin langsung berlari ke dalam rumah.
"Yujin !"
Teriak Boy saat melihat Yujin yang sudah tergeletak di bawah. Terlihat darah menetes di dahinya. Kepalanya terbentur tangga cukup keras.
Boy segera menolong Yujin, memeluknya erat. Terlihat kecemasan di mata Boy, dia terlihat menyesal.
Kata Boy yang terdengar lirih memanggil Yujin.
Yujin membuka matanya, darah segar mengalir di dahinya. Kepalanya terasa pusing, samar-samar dia melihat Boy.
"Kak Boy? "
Tanya Yujin dan akhirnya pingsan.
"Yujin, bangun. Cepat bangun! "
Teriakan Boy yang akhirnya terdengar sampai kamar Lee dan Kia.
Beberapa pelayan yang dari tadi sibuk bekerja mulai berdatangan dan terkejut melihat adik Bosnya terluka.
Lee dan Kia langsung turun melihat apa yang sudah terjadi.
"Yujin, Boy ada apa dengan Yujin? "
Tanya Lee cemas.
"Yujin terjatuh dari tangga, aku melihatnya sudah tergeletak di bawah "
Jawab Boy yang cemas juga.
Kia menangis melihat keadaan Yujin. Dan terlihat Neil yang baru saja datang juga begitu. Segera Neil menghubungi dokter untuk datang.
Tak berapa lama dokter datang dan memeriksa keadaan Yujin. Kepalanya sudah di perban. Dan untuk kaki Yujin terlihat memar dan sedikit retak di bagian tulangnya. Jadi kakinya harus di gips sementara waktu.
"Bagaimana dokter? apa adikku sudah sadar? "
Tanya Lee.
"Blum Tuan, Nona Yujin harus istirahat yang cukup. Kakinya harus di gips dulu karena ada keretakan tapi tidak terlalu parah. Untuk kepalanya, tolong jangan sampai terkena air agar lukanya cepat kering. Dua hari lagi bawa Nona Yujin ke rumah sakit untuk roncent"
Jelas dokter mengingatkan.
"Baiklah dokter, terima kasih"
Jawab Lee.
Neil mengantar dokter keluar. Sementara di dalam kamar Lee, Boy, dan Kia masih menemani Yujin.
Boy terdiam memperhatikan Yujin dari jauh. Terlihat penyesalan dan kesedihan di matanya. Kia melihat Boy yang termenung dan menghampirinya.
"Ada apa Kak Boy? Apa yang terjadi? "
Tanya Kia penasaran
"Tidak ada, tidak apa-apa! "
Jawab Boy blum bisa mengatakan yang sebenarnya.
Kia heran melihat kakaknya, dia hanya menatap ke arah Yujin.
Lee juga cemas melihat adiknya, dia berpikir akan menunda bulan madunya.
"Sayang, apa lebih baik kita menunda bulan madu kita dulu? "
Tanya Lee pada Kia.
"Iya sayang, sebaiknya begitu. Biar aku yang menjaganya "
Jawab Kia.
Boy yang merasa bersalah dengan keadaan Yujin berpikir untuk menggantikan Kia menjaganya.
"Tidak, kalian pergilah. Aku yang akan menjaganya. Di sini banyak pelayan, dan aku akan merawat Yujin. Kalian tenang saja! "
Ucap Boy yang membuat Lee dan Kia bingung saling menatap.
"Apa tidak merepotkanmu Boy? "
Tanya Lee ragu.
"Tidak apa, aku akan menjaganya! "
Jawab Boy.
"Baiklah, besok aku akan berangkat ke Bali. Tolong jaga Yujin dengan baik. Orang tuaku masih di luar kota dan mungkin lama akan kembali. Jika ada sesuatu mintalah pada Neil. Dia akan tinggal untuk mengurus perusahaan"
Kata Lee.
"Ehmmmm, baiklah! "
Saut Boy.
Lee dan Kia meninggalkan kamar Yujin dan Boy yang menjaganya. Mereka tersenyum melihat perhatian Boy pada Yujin. Mungkin dengan kejadian ini mereka akan semakin dekat.
Boy mendekat ke arah Yujin, memperhatikan Yujin dengan lekat. Boy duduk di sebelahnya dan memegang tangan Yujin.
"Maafkan aku, maaf. Aku tidak seharusnya menolakmu seperti itu. Cepatlah sadar Yujin, aku tidak ingin kau terluka! "