
Pagi ini Lee dan Kia sudah bersiap untuk. bulan madu mereka. Barang-barang yang akan di bawa sudah masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke bandara.
"Boy, tolong jaga Yujin. Hubungi aku jika dia sudah sadar. Jagalah Yujin sampai kami kembali ! "
Kata Lee berharap.
"Baiklah, kalian tenang saja aku akan menjaganya. Semoga bulan madu kalian menyenangkan. Tolong jaga Kia untukku! "
Jawab Boy.
"Pasti, dia adalah istriku sekarang. Aku akan melindunginya. Kami pergi dulu! "
Kata Lee menepuk pundak Boy.
"Kak, Kia pergi dulu. Jangan lupa hubungi kami jika ada masalah! "
Kata Kia.
"Ehmmm, baiklah. Hati-hati di sana! "
Jawab Boy berpesan.
Akhirnya mobil melaju meninggalkan kediaman Lee. Boy hanya memandang mobil mereka yang mulai menjauh.
"Hahhhhh "
Boy menghela nafasnya berat. Khawatir dengan adiknya dan juga Yujin.
Boy masuk ke dalam rumah menuju dapur. Dia akan menyiapkan bubur untuk sarapan Yujin saat terbangun nanti.
"Tuan Boy ada apa? "
Tanya salah satu pelayan.
"Aku ingin membuat bubur untuk Yujin, dimana berasnya? "
Tanya Boy mencari-cari.
"Tuan, biar saya saja yang menyiapkannya. Tuan lebih baik menjaga nona Yujin! "
Kata pelayan itu.
"Tak usah, biar aku saja yang buat. Tolong siapkan bahannya! "
Jawab Boy yakin.
"Baiklah tuan, silahkan! "
Pada akhirnya Boy yang memasak bubur spesial untuk Yujin. Hal memasak adalah sesuatu yang mudah bagi Boy. Secara dia membuka resto sendiri karna masakannya bisa di terima siapa pun.
Sejam berlalu dan bubur ayam spesial sudah di sajikan di atas mangkuk dengan penuh cinta.
Boy tersenyum sendiri, entah apa yang dia pikirkan sekarang. Beberapa pelayan heran melihatnya. Boy beranjak pergi ke atas ke kamar Yujin.
"Uhhh, sakit. Kepalaku pusing "
Terdengar suara Yujin yang baru saja sadar dan terlihat kesakitan. Yujin berusaha bangun dan duduk bersandar di tempat tidur.
"Yujin? "
Panggil Boy saat melihat Yujin yang sudah sadar. Boy langsung meletakkan bubur itu di atas meja. Segera Boy mendekat ke arah Yujin dan memeluknya.
"Uhhh, Kak Boy? ada apa? "
Tanya Yujin yang heran dengan tingkah Boy.
"Syukurlah, aku senang kau sudah sadar. Aku takut saat melihatmu terluka. Maaf, maafkan aku Yujin! "
Kata Boy menyesal.
"Ahhh ...... ini bukan salah Kakak. Aku yang kurang hati-hati "
Saut Yujin.
"Ehmmmm, maaf Yujin. Tidak seharusnya aku bersikap kasar. Maafkan aku ya? "
Kata Boy lagi.
"Kak, aku yang salah. Aku tidak menyalahkanmu karena menolakku. Aku tidak akan memaksamu. Maafkan aku juga! "
Yujin meminta maaf karena pengakuannya.
Boy menyesali apa yang sudah dia katakan pada Yujin.
"Maksud Kakak apa? "
Tanya Yujin yang masih bingung. Kepalanya terasa pusing dan dia sandarkan di dada Boy.
"Aku sayang padamu Yujin. Aku akan belajar mencintaimu. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi! "
Jelas Boy.
Yujin memejamkan matanya mencoba berpikir apakah ini nyata atau hanya mimpinya sendiri.
"Apa aku bermimpi? "
Tanya hati Yujin.
Kemudian Yujin membuka matanya, berusaha menyadarkan dirinya sendiri bahwa yang dia dengar adalah kenyataan.
"Kak Boy? Apa aku bermimpi? "
Yujin butuh kepastian.
"Hemm, tidak ini bukan mimpi. Ini nyata dan aku juga ingin menjadi kekasihmu yang sesungguhnya! "
Jawab Boy memastikan.
Yujin mengeratkan pelukannya, rasa hangat tubuh Boy membuatnya merasa tenang. Perasaannya akhirnya terbalas walau dirinya kini terluka. Yujin tidak menyesal bahwa lukanya ternyata membawa nikmat.
"Makanlah, aku sudah memasak bubur untukmu! "
Kata Boy dan melepas pelukannya.
Bibir Yujin tersenyum, kebahagian yang hakiki bahwa Boy menerimanya dan memasak khusus untuknya.
Dengan lembut Boy menyuapi Yujin sampai tak tersisa.
"Enak Kak! "
Kata Yujin.
"Kau suka? nanti aku buatkan lagi"
Kata Boy tersenyum.
"Iya suka, terima kasih ! "
Jawab Yujin.
Boy mengelus lembut rambut Yujin. Perasaan sayangnya dia tunjukkan tanpa keraguan.
"Apa terasa sakit? "
Tanya Boy saat menyentuh dahinya yang terluka.
"Iya kak, lumayan sakit. He... he... he "
Jawab Yujin tertawa.
"Tidurlah, aku akan menghubungi Kia dulu. Mereka sedang berbulan madu ke Bali tadi pagi. Mereka ingin tau saat kau sadar. Mereka mencemaskanmu, aku akan mengabari mereka dulu! "
Kata Boy.
"Baiklah Kak, salam buat mereka. Jangan lupa oleh-oleh buatku! "
Kata Yujin.
"Baiklah, tidurlah dulu! "
Jawab Boy.
Boy meninggalkan Yujin di kamar untuk istirahat. Dia menuju kamarnya yang ada di sebelah kamar Yujin. Karena kondisi Yujin, Boy sengaja tidur di ruang tamu sebelah kamar Yujin.
Boy merebahkan dirinya di kasur yang empuk. Matanya menerawang ke langit- langit kamar. Terlihat bayang wajah Yujin yang tersenyum padanya.
"Aku jatuh cinta padamu, tapi aku terlambat mengakuinya. Maafkan aku! "
Kata hati Boy menyesalinya.
Boy sungguh menyesal karena gengsinya dia menutup hatinya sendiri. Tapi sekarang dia sadar dan akan memperbaikinya dengan belajar lebih mencintai Yujin.