
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, melewati hiruk pikuk kota Bandung yang agak ramai di hari Minggu. Dua orang yang duduk di belakang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sang sopir hanya melirik sekilas, memperhatikan tingkah laku mereka berdua. Sang wanita melihat ke arah kanan, melihat pemandangan sepanjang jalan. Sang bos besar sibuk dengan ponselnya, mencari seribu macam cara merayu wanita di mbah goggle.
Perjalanan kurang lebih satu jam berlalu mulai memasuki kawasan yang sejuk, udaranya bersih tanpa polusi, pemandangan jangan ditanya lagi. Sepanjang jalan melewati kebun teh yang luas dengan udara yang dingin karena lokasinya di daerah perbukitan teh. Banyak villa mewah terlihat di kejauhan, hanya orang tertentu saja yang bisa membeli termasuk Mr. Lee.
"Ehmmm, tuan..... kita mau kemana? bukankah kita sudah jauh dari kota? "
Kia membuka suaranya terlebih dahulu karena merasa penasaran. Sepanjang jalan Mr. Lee hanya diam tidak mengajaknya bicara.
"Sebentar lagi sampai dan kamu akan tahu sendiri. "
Jawab Lee masih tidak menoleh ke arah Kia.
Kia kesal mendengarnya, dan jangan ditanya dia sudah cemberut karena yang diajak bicara tidak melihatnya.
"Kenapa sich pelit banget, aku khan hanya bertanya. Aku khan penasaran tau.... "
Kia mengumpat dalam hatinya kesal
Neil diam memperhatikan tingkah Kia dari spion, dia menyunggingkan bibirnya. Tapi masih fokus menyetir tidak memperdulikan di belakangnya.
Mobil memasuki pintu gerbang yang besar, sudah ada satpam yang menyambut kedatangan mereka. Satpam itu menunduk hormat saat melihat bos nya datang. Mobil melewati kebun bunga mawar yang tumbuh di sisi kanan dan kiri memenuhi hampir sebagian halaman. Terlihat sebuah kolam renang yang tidak terlalu besar tepat di sebelah kebun mawar lengkap dengan gazebo nya. Di depan sudah terlihat juga villa yang lumayan besar, dengan warna bernuansa putih seperti perumahan di negara Eropa. Siapapun yang melihatnya pasti berdecak kagum. Salah satunya Kia, yang wajahnya melongo dari saat masuk tadi.
" Ya Allah, rumahnya besar sekali. Sebenarnya rumah siapa ini? dan untuk apa kita kesini lagi?
Batin Kia bertanya-tanya, dia pun takjub melihat rumah itu.
Di depan rumah sudah ada dua orang yang menyambut kedatangan mereka. Satunya laki-laki yang sudah berumur tapi masih terlihat sehat dan satunya lagi wanita yang juga seumuran. Mereka menunduk hormat saat Mr. Lee turun dari mobil.
"Selamat datang tuan, saya sudah menyiapkan semuanya. Silahkan tuan....
Laki-laki itu berkata sopan sambil tersenyum pada Mr. Lee.
" Ehmmm.... baiklah..
Jawab Mr. Lee singkat.
Mr. Lee akhirnya masuk disusul Kia dan Neil dibelakangnya. Kia masih penasaran dari tadi tapi tidak berani bicara.
Memasuki ruangan tengah yang super mewah, Kia bengong melihat ke sekeliling ruangan. Memperhatikan apa yang dilihatnya sekarang seperti di museum barang mewah. Dia berdecak kagum tanpa henti.
Mr. Lee yang melihatnya hanya tersenyum penuh arti.
"Lihatlah sepuasnya Kia, aku membeli ini untukmu untuk kita dan keluarga kecil kita. Aku berharap semuanya cepat terwujud. "
Mr. Lee berkata dalam hatinya menatap wajah Kia lekat yang masih sibuk dengan dirinya sendiri.
"Ehmmmmm..... ehmmmmmm... bagaimana apa kamu suka rumah ini?
Tanya Mr. Lee pada Kia yang membuatnya kaget dari lamunannya.
Ups..... maaf tuan...
Kia menutup mulutnya kaget dengan ucapannya sendiri.
"Kalau kamu suka, tinggallah disini. "
Kia kaget dengan ucapan bosnya. Kemudian memaksakan senyumnya pada bosnya karena tidak enak mendengarnya.
"Maaf tuan bukan begitu, saya tidak bermaksud ........
Jawab Kia yang langsung dipotong Mr. Lee.......
" Aku serius Kia, tinggallah jika kamu suka
Jawab Mr. Lee lagi membuat Kia salah tingkah.
"Ha.. ha.. ha... Maaf tuan, saya sudah punya rumah dengan Kak Boy. Jadi saya tidak akan tinggal disini.
Kia menjawab ragu-ragu takut salah bicara.
Mendengar itu Lee merasa kecewa dan sedih. Mungkin belum waktunya dia bicara begitu pada Kia. Tapi tenang, Lee tidak putus semangat.
Neil yang hanya memperhatikan mereka dari tadi, ikut kecewa dengan jawaban Kia. Dia tau bosnya berharap Kia mau menerima Mr. Lee kembali. Tapi masih terlalu cepat untuk memutuskan semua itu. Neil tahu Mr. Lee tidak akan memaksa Kia, dia masih menunggu Kia kembali dengan tulus padanya tanpa paksaan dari siapapun.
" Maaf nona Kia, ini adalah villa Mr. Lee... Mulai besok Mr. Lee akan menetap di villa ini... "
Neil berbicara mewakili bosnya, karena dia tahu bosnya masih diam belum bersuara.
"Apa? menetap disini?
Kia tidak percaya dengan apa yang di didengarnya. Dia mengira Mr. Lee akan segera pergi dari Bandung setelah urusannya di kantor selesai. Tapi itu tidak sesuai dengan pikirannya. Rasa takut menyelimuti pikirannya lagi. Kia merasa semuanya akan sulit nantinya. Apalagi dengan perasaannya yang sekarang masih mencintai Lee. Pasti akan susah untuk melupakan perasaannya dan tidak bisa menjaga jarak lagi.
" Iya nona Kia, saya berharap anda betah bekerja di GRUP L.
Neil tersenyum tipis pada Kia.
Setelah melihat suasana di rumah dan makan siang disana, mereka kembali ke kota dalam diam. Kia masih setia menatap jalanan, menikmati pemandangan, sibuk dengan pikirannya yang kacau. Berusaha menenangkan perasaannya kembali.
Sisi yang lain, Mr. Lee menatap Kia dalam diam. Melihat sosok wanita yang dicintainya walau hanya terlihat dari samping. Yang dilihat tentu saja tidak sadar ada yang memperhatikannya.
Sedangkan Neil hanya menggelengkan kepalanya pelan, melihat tatapan bosnya yang sedih melihat Kia di sampingnya.
"Aishhhh, cinta memang menyakitkan....
Tapi juga dapat merubah seseorang....