I Love You, Oppa....

I Love You, Oppa....
Berdua Lagi



"Hei apa saja kerjaan kalian? Cepat keluarkan mereka dari sana! "


Emosi Neil sudah meluap-luap, memarahi kerjaan orang-orang itu.


"Baik Tuan Neil ! "


Jawab kedua orang itu bersamaan.


Sudah hampir satu jam mereka berusaha mengeluarkan Tuan Lee dan Kia. Pegawai yang bertugas sebagai tukang service lift berusaha secepat mungkin. Pekerjaan mereka memang berat sekarang. Karena yang terjebak adalah bos besar. Mereka ketakutan dengan amarah Neil.


Setelah berusaha sekuat tenaga membuka pintu lift akhirnya terbuka.


"Tuan, Tuan Lee? "


Neil berteriak memanggil bosnya.


Tapi yang di panggil tidak meresponnya. Tidak ada gerakan apapun dan di pastikan mereka sudah pingsan.


"Cepat angkat mereka berdua. Mobil ambulance sudah di depan. Cepat! "


Perintah Neil dengan perasaan khawatir.


Segera mereka berdua di bawa ke rumah sakit terdekat. Kondisi mereka berdua lemas karena terlalu lama terkurung di dalam lift dan kekurangan oksigen.


Tiba di ruangan UGD mereka segera di periksa keadaannya. Setelah keadaan membaik mereka di pindahkan ke ruangan VIP.


"Maaf Tuan Neil apa mereka di tempatkan di ruangan yang sama? "


Tanya dokter itu sekali lagi memastikannya.


"Iya dok, ikuti seperti yang saya katakan!"


Perintah Neil.


Setelah mendengarnya mereka berdua akhirnya di tempatkan di kamar yang sama seperti dulu. Kamar VIP yang mewah seperti biasa. Neil selalu tahu apa yang bosnya mau meskipun tanpa diperintah lebih dulu.


Beberapa jam kemudian akhirnya Tuan Lee sadar. Dia membuka matanya perlahan, melihat ke sekeliling ruangan. Matanya tertuju ke arah Kia tepat di sebelahnya. Jarak mereka hanya terpisah satu meter saja.


"Azkia, bangunlah sayang"


Panggil Lee melihat Kia yang masih tertidur.


Neil yang duduk di sofa tidak jauh dari mereka berdua langsung bangun dari posisinya berada.


"Tuan Lee, tenanglah Nona Kia baik-baik saja. Apa anda butuh sesuatu? "


Tanya Neil.


"Hemmm, aku ingin minum"


Jawabnya masih menatap ke arah kekasihnya.


Dengan sigap Neil mengambil air minum yang sudah tersedia di sana.


"Tuan? "


Panggil Neil.


Tuan Lee meraih gelasnya dan langsung meminum airnya. Dikembalikannya gelas kosong itu. Tatapannya hanya ke arah kekasihnya. Sudah ke tiga kalinya dia melihat Kia yang terbaring di ranjang rumah sakit. Sekali waktu di Korea, kedua dan ketiga kalinya saat mereka berdua terbaring di ranjang yang berbeda tapi di kamar yang sama.


"Neil, apa ini adalah pekerjaanmu? waktu di Jogja dulu dan sekarang?"


Tanya Tuan Lee mengejutkan Neil.


"Benar Tuan Lee"


Jawab Neil yakin.


"Kau memang pintar! "


Tuan Lee memuji kerjaannya.


"Terima kasih Tuan "


Jawab Neil.


Kia mulai sadar dan perlahan membuka kedua matanya.


"Aku ada dimana? "


Tanya Kia dalam hatinya.


"Sayang? "


Panggil Lee.


Kia langsung menoleh ke arah suara Lee.


Tanya Kia bingung.


"Sayang kita di rumah sakit. Tadi kita berdua terjebak di lift cukup lama. Neil membawa kita ke sini"


Jawab Lee.


"Jadi kita berdua di rumah sakit lagi Kak? Kita satu kamar lagi? "


Tanya Kia lagi.


"Hemmmm, iya kita berdua lagi "


Jawab Lee tersenyum.


"Bertemu denganmu adalah takdir Tuhan. Menjadi kekasihmu adalah pilihan ku. Jatuh cinta padamu bukan sesuatu yang pernah aku rencanakan. Setiap pagi disaat aku terbangun hanya wajahmu yang ingin aku lihat sayang"


Kata Lee sambil meraih tangan Kia dan menggenggamnya erat.


Kata-kata yang Lee ucapkan seperti angin yang menyejukkan hati Kia. Buliran bening menetes di kedua ujung matanya yang indah.


"Mencintaimu anugerah yang sangat indah untukku Kak Lee. Selalu bersamamu adalah keinginanku"


Kata-kata Kia yang membuat seorang Lee bahagia. Keinginan mereka berdua selalu bersama walau dalam kondisi seperti apa yang akan mereka hadapi nantinya.


Seseorang yang duduk di sofa pojok dari tadi memperhatikan dan mendengar percakapan mereka. Seorang Neil yang jomblo merasa iri dengan mereka.


"Hei Tuan dan Nona, kenapa begitu mesra di depan jomblo ngenes seperti aku. Kapan aku bertemu dengan seorang gadis seperti Nona Kia? "


Suara hati Neil yang tidak ada yang bisa mendengarnya.


"Kia! "


Teriak seseorang yang langsung membuka pintu.


"Kak Boy? "


Panggil Kia terkejut melihat kedatangan kakaknya.


"Kia apa yang terjadi? tadi Tuan Neil menghubungi kakak. Apa ada yang terluka?


Tanya Boy mencemaskan keadaan adiknya.


"Tidak kak aku baik-baik saja. Maaf membuatmu cemas! "


Jawab Kia tersenyum.


"Syukurlah sayang, kakak cemas dari tadi"


Kata Boy menghela nafasnya.


"Tenanglah Boy, tidak ada yang terluka. Kami terjebak di lift tadi"


Kata Lee.


"Maaf Tuan Lee, aku terkejut saat mendengar kalian berdua masuk rumah sakit. Tidak bertanya pada Tuan Neil langsung kemari"


Jelas Boy.


"Iya aku tahu Boy"


Jawab Lee.


Setelah keadaan membaik, mereka berdua keluar dari rumah sakit bersama. Kia pergi bersama Boy pulang kerumahnya. Sedangkan Tuan Lee bersama Neil kembali ke hotel.


Kenapa ke hotel? Sebenarnya Tuan Lee masih belum ingin ke rumah barunya. Alasannya tidak ada Kia disana. Tuan Lee akan pergi ke rumah barunya saat Kia menyandang status sebagai istri sahnya.


Lee sudah memutuskan akan segera melamar Kia secara resmi di depan Boy. Meskipun tidak ada keluarganya yang di Korea, dia tidak terlalu perduli dengan itu. Mungkin dia akan mengabari keluarga ibunya yang ada di Bandung. Mungkin juga tidak jika keluarganya masih tidak setuju dengan hubungannya dan Kia.


Lee sudah menghubungi adiknya Yujin tentang pertemuannya dengan Kia. Mendengar hal itu Yujin merasa senang. Rencananya Yujin akan menyusul Kakaknya segera ke Bandung.


"Neil kapan Yujin akan datang? "


Tanya Tuan Lee.


"Sepertinya saat liburan nanti Tuan"


Jawab Neil.


"Baiklah, siapkan segala kebutuhannya selama disini. Siapkan kamar untuknya di rumah baru itu. Aku akan segera melamar Kia dan menikah dengannya"


Kata Lee merasa bahagia.


"Baik Tuan"


Jawab Neil menundukkan kepalanya.