
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lelah, menguras tenaga dan pikiran. Buat seseorang yang masih termenung, Azkia siapa lagi coba?
Mobil sudah memasuki kawasan perumahan Kia tinggal. Dari jauh terlihat ada seseorang yang berdiri di depan rumah Kia, menunggu yang punya rumah datang. Seorang laki-laki yang cukup tampan menurut Neil.
Sampai depan rumah mobil pun berhenti, lalu laki-laki itu menoleh. Kia baru tersadar setelah mobil berhenti, melihat ke sekitar membuyarkan lamunannya dari tadi. Matanya melihat seseorang yang dia kenal sedang menatap ke arahnya.
" Nona Kia, sudah sampai rumah anda. "
Neil berkata dengan melihat ke arah seseorang yang seperti sedang menunggu Kia datang.
"Oh iya tuan..... Maaf tuan Lee saya turun dulu, terima kasih sudah mengantar saya."
Kia langsung turun setelah menunduk hormat pada bosnya.
Tetapi Mr. Lee tidak menanggapinya, diam dan juga terkejut melihat Kia menghampiri seorang lelaki tampan di depan rumahnya.
Wajah Lee sudah merah padam, tangannya mengepal menahan amarah. Bertanya dalam hati siapa orang itu yang terlihat akrab dengan Kia.
Neil melihat ekspresi Mr. Lee yang sudah ingin membunuh orang. Ada percikan api yang bisa membakar seseorang dalam hatinya. Neil merasakan aura yang dingin di dalam mobil.
"Neil..... "
"Iya tuan.... "
"Aku ingin tau siapa laki-laki itu segera....!
" Baik tuan*...... "
Perintah Mr. Lee sudah diumumkan, sang asisten segera melaksanakannya. Mereka akhirnya meninggalkan rumah Kia.
Kia melihat mobil bosnya sudah pergi, dia menghela nafas dalam. Kemudian beralih bertanya pada seseorang yang sudah menunggunya dari tadi.
"Kak Malik, ada apa kesini? tumben kak? "
Tanya Kia penasaran tidak biasanya Malik datang, biasanya hanya mamanya yang datang.
"Ah iya, maaf Kia. Mama tidak bisa kesini sedang sibuk mengurus acara pengajian di rumah. Mama menyuruhku mengundangmu nanti malam bagda magrib ke rumah mengikuti pengajian. Aku harap kamu bisa datang. "
Malik berkata berharap Kia akan datang. Tentu saja dia sangat berharap lebih dekat dengan Kia. Yah Malik memang menyukai Kia sejak lama, sejak Kia tinggal di perumahan ini menjadi tetangganya hanya terpisah beberapa rumah saja.
"Baiklah kak, InsyaAllah nanti aku akan datang. Terima kasih kak.... "
Jawab Kia dengan senyum manisnya.
" Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu Kia."
Malik akhirnya pergi meninggalkan Kia. Jantungnya berdetak tak karuan melihat senyuman Kia. Makanya dia buru-buru pergi.
"Aish, Lama-lama disini aku bisa kena serangan jantung. Ya Allah senyumnya itu, aku gak kuat....
Malik bergumam sendiri seperti mendapat angin segar yang menyejukkan hatinya.
Malampun datang, Kia sudah bersiap untuk menghadiri undangan tadi. Tempat acara hanya beberapa rumah saja jaraknya tidak terlalu jauh. Jadi dia hanya berjalan kaki. Beberapa ibu-ibu juga terlihat berjalan ke tempat yang sama.
Keluarga Malik termasuk orang terpandang di kota ini. Keluarga kaya yang mempunyai berhektar-hektar kebun teh. Mereka memproduksi teh mereka sendiri dan pemasarannya sudah ke seluruh Indonesia. Walaupun mereka kaya tapi tetap rendah hati. Mereka keluarga yang ramah dan dihormati banyak orang.
Acara pun selesai dengan lancar, selanjutnya ramah tamah dan acara makan yang sudah disediakan yang punya rumah.
Dari sudut ruangan seorang Malik menatap jauh memperhatikan seorang wanita cantik. Kia duduk bersama anggota pengajian yang lain sambil menikmati makanannya. Tiba-tiba.....
"Hei sayang, siapa yang kamu perhatikan dari tadi? "
Mama Malik menepuk pundaknya membuatnya terkejut.
" Mama, apa sich bikin kaget aja"
Jawab Malik sambil mengelus dadanya yang sudah hampir copot.
" Ohhh, jadi dia ya? pantas saja dari tadi mama perhatikan matamu hanya melihat dia. Cantik.....
Mama Malik tersenyum melihat anaknya yang sudah malu.
" He... he... he... iya ma cantik.... "
Jawab Malik tanpa sadar.
"Apa kamu menyukainya? "
" Iya ma..... "
" Dia sudah tau? "
" Belum ma, Malik masih ragu....
" Kenapa? nanti diambil orang lho !
Malik terdiam setelah mendengar kata-kata mamanya. Malik masih belum menyatakan perasaannya pada Kia. Masih belum siap, karena Malik takut di tolak.
Melihat Malik bengong, mamanya pergi sambil menggelengkan kepalanya.
*
Di dalam hotel ada seseorang yang sudah terbakar cemburu. Sejak meninggalkan Kia tadi, Lee hanya mondar mandir di kamarnya memikirkan siapa laki-laki itu. Emosinya belum juga reda.
Neil sendiri jengah melihat bosnya yang sudah kebakaran jenggot.
Ting... pesan masuk di ponsel Neil. Mereka berdua sedang menunggu kabar siapa orang itu. Setelah membacanya, Neil memberikan ponselnya pada bosnya.
"Tuan.... "
Neil menyerahkan ponselnya pada Mr. Lee.
Bosnya langsung menyambar ponsel itu dan membacanya dengan cepat.
Raut wajahnya sudah masam, alisnya sudah di tekuk. Tangannya sudah mengepal.
"Sialan..... ternyata mereka sangat dekat. Aku tidak akan melepaskan Kia.
Kia tunggu, secepatnya kamu harus menerimaku kembali....