
Di dalam restoran.....
Boy menatap Kia dengan rasa marah, apa yang tidak dia ketahui sampai sekarang. Kia masih belum bicara, yang di tanya masih diam membisu.
"Kia, jelaskan padaku apa yang terjadi ? "
Kapan dan dimana Kia?
Apa yang kamu lakukan dengan Mr. Lee? Kenapa kamu bisa diantar olehnya?
Bagaimana kamu bisa bertemu dia Kia?
Jawab Kia ! ........ "
Boy sudah marah besar tidak tau bagaimana lagi bicara dengan Kia. Yang di tanya ketakutan belum menjawab apapun. Boy mulai geram tidak bisa menahan emosi lagi. Kemudian Boy mendekat pada Kia dan mengguncang badan Kia agar segera bicara.
"Askia, apa kamu dengar kata-kata kakak? cepat katakan Kia? "
Boy masih menekan bahu Kia sangat erat sehingga Kia meringis kesakitan. Boy yang sadar segera melepaskan tangannya. Lalu Kia menjawab semua pertanyaan kakaknya dengan ragu.
"Maaf Kak, aku minta maaf tidak memberitahu kakak.....
Sebenarnya.... tempat Kia magang adalah perusahaan Mr. Lee. Dan Kia baru tahu itu miliknya ketika Kia baru memulai magang. Dan itu juga kak...... ehmmm...... Kia adalah sekretarisnya Mr. Lee..... "
"Apa ! "
Boy kaget mendengar kata-kata Kia, masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Kia, aku harus katakan ini dan jangan membantah kakak. Segera berhenti dari sana, jangan temui dia lagi mulai sekarang. Apa kamu dengar Kia? "
Boy memaksa Kia harus berhenti dari pekerjaannya. Karena boy tidak ingin kejadian seperti dulu terulang lagi pada adiknya. Bagi Boy masuk ke dalam keluarga Lee adalah mustahil. Dunia mereka berbeda dan Boy tetap tidak bisa menerima Mr. Lee.
Sedangkan Kia masih ragu, bagaimana dia harus menjelaskan pada kakaknya bahwa dia tidak bisa memutuskan kerja begitu saja karena terikat kontrak kerja.
"Maaf Kak Boy, Kia belum bisa karena Kia sudah tanda tangan kontrak dan hanya bisa diputuskan oleh Mr. Lee.
Kia merajuk pada kakaknya dan sudah mau menangis tapi dia tahan. Boy meremas tangannya kesal dan melampiaskannya dengan memukul tembok.
"Bugggg..... sial.... "
Terdengar suara tangan boy yang menghantam tembok. Tangannya memerah kesakitan. Boy mengumpat dalam hati.
"Sialan kau Lee, aku susah payah membawa Kia menjauh. Tapi kau berhasil menemukan kami.....
Brengsek....... "
Kia kaget melihat reaksi Boy yang seperti itu. Selama ini Kia tidak pernah melihat Boy marah besar. Kia merasa bersalah karena tidak memberi tahun Boy sejak awal.
"Maaf.... maafin Kia kak..... "
Sesal Kia merasa sedih.
Boy melihat Kia dalam, dia merasa bersalah karena sikapnya yang kasar pada adiknya. Boy menghela nafas, menyesali perbuatannya.
"Sudahlah, ini bukan salahmu. Maafin kakak ya? kakak terlalu bodoh karena marah padamu. Aku tidak seharusnya menyalahkanmu....."
Kata Boy merasa menyesal dengan sikapnya. Boy mengelus kepala Kia dengan sayang. Semenjak orang tuanya meninggal, mereka hanya berdua saja. Jadi boy menjadi kepala keluarga dan ingin selalu menjaga adiknya. Siapapun yang menyakitinya, Boy tidak akan membiarkan orang itu. Boy tidak ingin adiknya terluka karena laki-laki, siapapun itu.
"Baiklah, semua sudah terjadi Kia. Tapi kakak mohon tolong jauhi Mr. Lee. Jangan sampai sesuatu terjadi lagi, terutama keselamatanmu....."
Boy mengingatkan Kia agar menjaga jarak dengan bosnya.
"Iya Kak Boy, Kia akan selalu ingat kata-kata kakak. Maafin Kia ya kak.... "
Jawab Kia patuh pada kakaknya.
"Kia sudah lelah kan, istirahatlah di ruangan kakak. Kamu pasti lapar khan, biar kakak ambilkan makanan untukmu.
Boy berlalu meninggalkan Kia sendiri di ruangannya. Boy mendesah memikirkan apa yang akan terjadi nantinya. Boy hanya berharap Kia bahagia dan tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.