
Kia sampai di depan kamar bosnya, ragu tangannya ingin mengetuk pintu. Pada akhirnya dia ketuk juga pintu itu perlahan. Tapi tidak ada sautan dari dalam. Setelah lama dia mengetuk tidak ada suara, dia memberanikan diri untuk membuka pintu. Kakinya melangkah masuk dengan sangat pelan, kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri seperti pencuri saja.
Pemandangan di depannya membuatnya terdiam sebentar. Laki-laki itu sedang terbaring di atas tempat tidur besarnya. Ada senyum kecil terukir di bibirnya melihat Mr. Lee tertidur.
"Mengapa wajahnya begitu tampan dan menggemaskan walaupun sedang tidur, aku jadi ingin......
aish, apa yang sedang aku pikirkan. Sudah gila aku berpikir begitu, aku harus menjaga jarak dengannya. "
Kia berperang dengan perasaannya sendiri, malu dan takut sudah dia rasakan. Ntah mana yang lebih besar, sehingga dia pun memberanikan diri mendekat pada singa yang tidur. Pelan dia mulai mendekati sebelah tepi kasur, agar sang bos tidak terbangun. Dia masih memandang Mr. Lee dalam, wajahnya terlihat pucat. Kia merasa khawatir dan ingin menyentuh dahinya, memeriksa apakah sang bos masih demam.
Akhirnya telapak tangannya dia letakkan di atas dahi bosnya. Tapi sang bos masih diam tidak bergerak. Dahinya terasa panas di tangan Kia. Tapi Kia tidak tau, Sebenarnya Mr. Lee sadar akan kedatangan Kia setelah Kia menyentuhnya. Tapi dia sengaja diam menikmati sentuhan itu.
Saat Kia ingin melepaskan tangannya, tapi terlambat. Mr. Lee sudah menangkap tangannya yang membuatnya tidak kalah terkejut.
"Maaf.... maaf tuan, saya hanya ingin memeriksa tuan saja. "
Tangan Kia masih ditahan Mr. Lee dengan erat tidak mau dia lepaskan.
Akhirnya Lee membuka matanya, dia senang melihat wajah yang dia mimpikan dalam tidurnya tadi. Lee menatap Kia dalam masih tidak melepas tangannya. Sedangkan Kia juga menatap Lee dengan wajah memerah. Dadanya berdegup sangat kencang.
"Deg... deg... deg.....
Jantungku sudah mau copot.
Kenapa dia melihatku seperti itu, ya Tuhan tanganku juga tidak di lepas. Bagaimana ini? "
Kia bergumam dalam hatinya, berusaha melepas tangannya.
"Tenanglah, aku hanya ingin melihatmu sebentar saja..... duduklah.... "
Pada akhirnya Kia menuruti saja permintaan bosnya. Kia duduk di tepi tempat tidur tepat di sebelah Mr. Lee. Tangannya juga belum dilepas, masih setia dii tangan Mr. Lee.
Mereka saling menatap, mereka bergejolak dengan pikiran masing-masing. Belum ada yang bicara masih terdiam.
"Mmmmm, tuan istirahatlah saya akan menyiapkan sarapan anda. Tuan pasti belum makan, jadi tolong lepaskanlah sebentar. "
Kata Kia terpaksa agar bosnya melepas tangannya.
Setelah Lee berpikir sebentar, akhirnya dia menurutinya. Kia merasa senang bosnya mendengar apa yang dia ucapkan. Segera Kia menelvon pihak hotel untuk menyiapkan bubur hangat.
Setelah beberapa saat menunggu, bubur sudah diantar ke dalam kamar. Kia dengan sigap mengambil bubur itu dan ingin menyuapi bosnya. Kia memapah bosnya agar duduk bersandar dengan bantal di punggungnya. Kia sudah siap akan menyuapi Mr. Lee. Bubur masih panas, jadi Kia meniupnya dulu sebelum dia berikan pada bosnya.
Lee yang melihat itu tersenyum dalam hatinya, tapi tidak dia tunjukkan. Wajahnya masih terlihat sayu tetapi dia merasa bahagia melihat wanita yang dia cintai ada disini menjaganya.
"Makanlah, sudah terasa hangat....
Kia memberikan sendok yang berisi bubur, masih terhenti di depan bibir Mr. Lee. Sang bos masih terdiam menikmati apa yang dilihatnya.
Mr. Lee membuka mulutnya dan Kia pun mulai menyuapinya. Perlahan Kia menyuapi bosnya, dia sangat perhatian. Mata mereka bertemu, Kia pun langsung tersenyum. Lee kaget melihat senyuman itu, senyuman yang sudah lama tidak dilihatnya. Dia merasa sangat senang, tidak sia-sia dia sakit. Mungkin dia akan sering sakit supaya Kia perhatian padanya.
Lee memikirkan ide gilanya, dia seperti mendapatkan durian runtuh. Dia mulai memberi semangat pada dirinya sendiri.
" Azkia, kamu masih mencintaiku. Aku yakin itu dan kamu tenang saja sayang. Karena aku tidak akan menyerah....
Bergumam dalam hatinya merasakan perhatian dari Kia.