
Kegelapan yang menyelimuti semesta telah lenyap.
Cahaya terang memancar dari sang surya yang terbit di ufuk timur.
Sang surya yang perkasa kembali menebarkan cahayanya.
Ia datang untuk menebarkan secercah harapan bagi insan di dunia.
Siapa lagi? dua insan yang sedang di mabuk cinta.
Lee sudah tidak sabar menyiapkan dirinya di depan kaca untuk bersiap pergi ke kantornya. Memastikan penampilannya yang selalu sempurna. Tidak ingin melewatkan sedikit kesalahan dalam dirinya. Karena sebelum itu dia akan menjemput sang pujaan hati.
"Sempurna".
Kata Lee sambil menatap diri sendiri di dalam cermin.
"Neil........ bagaimana penampilanku?
Tanya Lee memastikan pada Neil.
" Ehm, sempurna tuan. Anda terlihat lebih tampan dan gagah".
Jawab Neil dengan tersenyum tipis pada bosnya.
"Ish... ishhh.... tuan sampai kapan anda di depan cermin? Aku sudah lelah melihatmu dari sejam yang lalu. Bisa hancur kaca itu melihatmu yang kelewat tampan".
Batin Neil mencibir tingkah bosnya yang seperti anak ABG yang lagi bucin.
Lee akhirnya menyudahi aktivitasnya yang sangat membuat asistennya bosan. Setelah sarapan mereka berangkat menuju ke rumah Kia.
Lee sengaja berangkat lebih awal, tak sabar bertemu dengan Kia. Padahal baru semalam mereka berpisah sebentar saja. Lee seperti ABG labil takut kehilangan Kia.
Sepanjang jalan Lee menatap jalanan, tersenyum tipis. Sudah terlihat raut wajah penuh kebahagiaan. Membayangkan pertemuannya sebentar lagi sudah membuatnya bahagia.
Sampailah mereka di tempat tujuan, Lee masih diam di dalam mobil. Memperhatikan rumah yang ada di depannya. Tapi Kia masih belum menampakkan wajah cantiknya.
Kesabaran Lee memang tidak banyak. Dia memutuskan turun untuk menjemput Kia langsung. Presdir tampan berwajah dingin dan kejam, sepertinya sudah hilang untuk Lee yang sedang jatuh cinta. Semua kesan yang sudah ditanam olehnya sejak dulu hilang seiring waktu saat mengenal Kia.
" Ting...... tong..... ting... tong..... "
Bel berbunyi menyadarkan sang empunya rumah kedatangan tamu.
Kia yang mendengar suara bel pintu berbunyi langsung menuruni anak tangga. Sedangkan Boy masih di dalam kamarnya belum keluar.
"Ceklek......
Suara pintu terbuka dan menampakkan seorang gadis yang cantik.
Lee terpesona melihat kekasihnya, bibir sensual dengan warna merah muda. Wajahnya seperti matahari di pagi hari, memberi cahaya kehidupan untuk Lee seorang. Mata Lee tidak berkedip sampai......
" Ehmmmm, Kak Lee..... "
Kata Kia menyadarkan lamunan kekasihnya.
"Ahhhhh, sayang maaf. Kamu cantik hari ini..."
Kata Lee memuji yang terucap dari bibirnya.
"Terima kasih kak...... ".
Jawab Kia tersenyum.
"Kak.... Kak Lee juga tampan ".
Kata Kia lagi yang membuat Lee tersenyum manis mendengarnya.
" Kita berangkat sekarang?
Lee bertanya memastikan Kia sudah siap atau belum.
"Iya Kak, aku ambil tas dulu ya sebentar".
Jawab Kia.
Lee menganggukkan kepalanya dan menunggu di depan pintu.
" Kak Boy, Kia pergi dulu dengan Kak Lee. Daaa kakak...... ".
Teriak Kia memanggil kakaknya yang masih di dalam kamar.
" Iya, Hati-hati di jalan.....
Teriak Boy yang masih berada di dalam kamar mandi.
Mobil melaju membelah kota Bandung. Mereka duduk dengan tenang, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Bagaimana ini? apa yang terjadi di kantor nanti. Jika yang lain melihat kami berdua memasuki kantor bersamaan, gosip pasti cepat menyebar. Gawat, tidak aku harus berhenti sebelum tiba di kantor".
Batin Kia resah.
" Ya Tuhan, dia terlihat cantik sekali hari ini...... Aku tidak ingin ada pria lain melihatnya, hanya aku. Bagaimana aku menyembunyikannya ya? "
Batin Lee bergejolak, menyusun rencana licik agar tidak ada yang mendekat ke arah Kia.
"Tuan Neil, bisakah berhenti sebelum memasuki gedung kantor?"
Tanya Kia yang membuat Lee terkejut.
"Apa? Kenapa? Tidak. Neil terus jalan sampai depan.
Perintah Lee pada Neil tidak mendengarkan kata-kata Kia.
Lee tahu maksud Kia tapi Lee ingin semua orang tahu bahwa Kia adalah miliknya. Tidak boleh seorangpun mendekati Kia. Lee sudah membuat rencana, mengumumkan hubungannya dengan Kia di depan semua karyawannya.
Kia pasrah mendengarnya, tidak berani menentang Lee. Dia hanya tersenyum pahit memikirkan apa yang terjadi nanti.
Akhirnya mobil tiba tepat berhenti di depan pintu masuk lobi kantor. Banyak pegawai yang sudah mulai berdatangan. Ada beberapa yang memandang ke arah mobil, penasaran dengan mobil mewah yang baru terparkir.
Neil turun segera membuka pintu mobil untuk Lee dan Kia bergiliran. Mereka memasuki lobi kantor, berjalan bersama dengan Neil mengekor dibelakang mereka. Beberapa pegawai yang melihat mereka merasa heran dengan kedekatan mereka. Mereka tahu Kia adalah sekretaris Tuan Lee.
Karena sesuatu alasan kejadian terdahulu, semua pegawai tidak berani bicara sepatah katapun meski itu dibelakang. Mereka takut dipecat secara tidak hormat karena bergosip di lingkungan kantor.
"Hai Tuan Lee? Bagaimana kabarmu?
Sapa Tuan Kim yang melihat kedatangan bosnya. Lalu Kim melirik ke arah Kia, tidak bertanya pada bosnya lagi.
" Ehm, nona Kia apa kabar? Kau hari ini terlihat lebih cantik. Ada cahaya yang memancar dari wajahmu. Aku terpesona dengan penampilanmu hari ini".
Kata Tuan Kim keceplosan memuji Kia di depan Bosnya. Tuan Kim masih menunggu reaksi Kia setelah memujinya.
Tatapan tajam menusuk ke arah Tuan Kim, cuacanya menjadi dingin. Neil dan Kim merinding merasakan perubahan cuaca. Neil sedang melihat bosnya sudah menatap Tuan Kim dengan tatapan membunuh.
"Gleg, mati kau Kim hari ini. Kau membangunkan raja singa".
Neil menelan ludahnya, sudah takut melihat reaksi bosnya.
" Ehm, Tuan Kim.... "
Panggil Neil membuat Tuan Kim sadar dengan apa yang dia lakukan. Kim yang sedari tadi tersenyum kepada Kia langsung terdiam dan membalikkan wajahnya ke arah Lee.
"Gleg, mampus aku. Kenapa aku memuji Kia di depannya lagi. Tapi kenapa Kia cantik sekali hari ini? Uhhhh, gawat aku harus kabur sekarang juga".
Batin Tuan Kim berkata dan menelan ludah pahit rasanya. Dia ketakutan melihat tatapan bosnya yang sudah ingin mencekik orang sampai mati. Salah dia menambah bara api di pagi hari yang cerah ini.
"Ahhhh, maaf bos..... A... a.... aku hanya bercanda. He.. he... he maaf bos, aku pergi dulu banyak kerjaan sudah menunggu".
Tuan Kim segera kabur dari bosnya, langkah kakinya dia pacu secepat mungkin. Tidak ingin menoleh ke belakang lagi.
Sedangkan Kia yang terpaku memperhatikan drama yang baru saja terjadi. Dia kaget melihat reaksi Lee yang seperti itu.
Lee sudah mengepalkan tangannya dengan erat. Cemburu membuat seseorang bisa kehilangan akalnya.
Wajah Lee masih terlihat dingin belum kembali normal.
" Kak Lee..... ".
Panggil Kia menyadarkan Lee. Dia sadar dengan kemarahannya yang terlihat oleh Kia.
Lee dan Kia berlalu menaiki lift khusus petinggi perusahaan menuju gedung teratas perusahaan GRUP L.