I Love You, Oppa....

I Love You, Oppa....
Episode 11



"Kia..... ehm ikut aku sebentar ke suatu tempat bisa?"


Tanya Kak Lee menoleh kearahku.


" Kemana kak?"


Tanyaku penasaran sebenarnya ada apa.


"Suatu tempat yang bagus dan pasti


kamu suka, gimana kamu mau?"


Tanyanya lagi padaku.


" Ehmm.... baiklah Kak "


Tanpa bertanya lagi Kak Lee melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan aku penasaran sebenarnya Kak Lee mau mengajak aku kemana sich. Ada apa Kak Lee mengajakku secara tiba-tiba begini. Kita baru saja berkenalan beberapa hari yang lalu tapi dia mengajakku ke suatu tempat yang aku gk tau kemana. Mobil kami berhenti karena lampu rambu lalu lintas menunjukkan warna merah.


Disisi lain sebelah mobil kami ada sebuah mobil yang tidak aku kenal. Tapi wanita yang duduk di kursi kemudi, aku langsung sadar itu dia. Yah dia pacar Kak Lee, tapi dia tidak menoleh ke arahku. Aku langsung membuang wajahku ke depan jalan. Jujur aku takut banget, tapi Kak Lee tidak melihat mobil di sampingku duduk. Aku hanya berharap dia tidak melihatku bersama pacarnya.


Disisi mobil yang lain.


Yoona melihat kesamping kiri dan kanan lewat jendela kacanya, kemudian tanpa sengaja dia melihat pacarnya sekilas.


"Lee ? ? ?....... sama siapa dia? trus mau kemana sama cewek itu? aku harus ikutin mereka"


Kata Yoona dengan nada kesal.


Akhirnya Yoona mengikuti mobil Lee dari jarak agak jauh. Dia terus saja mengumpat karena kesal dengan Lee yang pergi berdua dengan wanita lain. Yoona penasaran siapa sebenarnya wanita itu yang berani menggoda pacarnya.


" Lihat nanti sampai mana hubungan kalian, aku akan mengikuti mereka! !"


Akhirnya mobil kami berhenti di sebuah taman yang indah, yah namanya Olimpic Park. Taman yang letaknya di sebelah timur kota Seoul. Sungguh taman yang indah dengan banyaknya berbagai macam bunga dan dan lapangan rumput yang hijau.



"Wah indah sekali Kak! "


Kataku tersenyum.


" Aku tau Kia pasti suka, ini adalah salah satu taman terbaik di kota Seoul. Kita bisa bersantai disini sambil melepas lelah"


Kata Kak Lee.


Kami berjalan di antara bunga-bunga yang indah, lalu kami berhenti di sebuah kursi taman.


"Ayo kita duduk dulu Kia, kamu pasti sudah lelah"


Kata Kak Lee.


" Eh iya Kak......Terima kasih"


Jawabku.


Aku langsung tersadar dan bertanya dalam hati kenapa dia mengajakku kesini ya. Ahh sudahlah aku gak mau berpikir yang aneh. Aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Kak Lee kenapa kakak mengajak aku kesini, kakak tidak berangkat kerja?"


Tanyaku penasaran ni orang punya kerjaan gk sich santai amat jam segini.


"Kerja, tapi tenang aja aku ni khan boss nya jadi bisalah santai sedikit. Buat apa ada karyawan di kantor nanti gak punya kerjaan donk. Serahin aja sama mereka"


Jawabnya dengan santai.


Hatiku berkata " Iya juga dia boss nya so gak masalah mo datang kapan aja, sultan mah menang gk ada yang lawan "


"Kia bagaimana tinggal di Seoul? apa kamu betah tinggal disini?"


Tanya Kak Lee.


Saut ku sambil melihat pemandangan karna aku gk berani menoleh kearahnya.


Disisi lain taman.


"Sialan tuh cewek deket banget sama Lee, siapa dia aku penasaran berani sekali dia menggoda pacarku. Eh bukannya gadis waktu itu, ya waktu di bandara. Aku ingat gadis yang menabrak Lee. Ngapain mereka bisa akrab seperti itu. Ada hubungan apa mereka, kurang ajar harus aku beri pelajaran cewek itu biar gk bisa menggoda kekasihku. Lihat saja nanti, aku bakal selidiki siapa cewek itu "


Kata Yoona lalu pergi meninggalkan mereka disana.


Aku seketika bertanya pada kak Lee


"Maaf kak aku lancang, apa pacar kakak tidak marah seandainya nanti melihat kita disini? pacar Kak Lee waktu kita ketemu di bandara. Aku takut kak nanti dia salah paham melihat kita jalan berdua"


Kak Lee terdiam lalu menoleh ke arahku.


"Iya dia memang pacarku, tapi kita


di jodohkan oleh orang tua kakak. Kakak tidak mencintainya. Aku terpaksa karena perjanjian mereka sewaktu masih kuliah ingin menjodohkan anak-anak mereka saat dewasa. Awalnya kakak menolak tapi papa mengancam"


Jawab kak Lee dengan wajah tidak senang.


Aku hanya berusaha mencerna setiap kata yang dia ucapkan. Aku melihat kesedihan di matanya, tidak mudah menjadi orang kaya. Perjodohan, kekayaan, kasta, itu sudah biasa aku dengar. Mungkin memang seperti itu dunia mereka. Aku tidak bisa bertanya lagi dan gak tau lagi harus berkata apa.


" Sudahlah tidak usah dipikirkan, maaf ya aku jadi curhat".


Kata Kak Lee.


"Tidak pa kak aku mengerti "


Saut ku padanya.


" Maaf Kia apa boleh aku jujur padamu, sebenarnya aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di bandara waktu itu. Aku senang mengenalmu dan sungguh kebetulan kamu adiknya Boy. Sejak saat itu aku ingin lebih jauh mengenalmu"


Kata kak Lee yang sontak aja buat aku kaget.


"What? ini gk mungkin, aku mimpi kah? ah iya aku mungkin kebanyakan nonton drakor ampe kebawa mimpi, oiii sadar-sadar Kia!!!"


Kataku dalam hati.


Kemudian aku mencubit pipiku dengan keras.


"Aw sakit"


" Kia kenapa? kenapa mencubit pipimu sendiri?"


Kata kak Lee memegang pipiku.


"Deg.. deg... deg... deg.... deg.... deg...."


Jantungku mau copot. Aku langsung berdiri karena kaget dia menyentuh pipiku. Ya Tuhan bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Pipi pasti sudah merah sekali, ahhhhhhhhhhhhhh.


Lalu Kak Lee menarik tanganku untuk duduk kembali. Kemudian aku melepaskan tangannya dan agak menjauh darinya. Aku gk mau hubungan ini terlalu jauh karena dia sudah punya kekasih.


" Maaf Kia, aku tau kamu pasti kaget mendengar ini tapi aku sungguh-sungguh. Aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Tolong jangan membenciku. Aku tau ini terlalu terburu-buru tapi aku ingin jujur padamu. Aku bukan pria yang suka bermain-main dengan wanita. Tolong percaya padaku"


Kak Lee berkata dengan mata yang berkaca-kaca.


Aku melihat kesungguhan di matanya bukan kebohongan. Tapi aku gk tau harus bagaimana dengan kondisi ini. Aku hanya diam tanpa menjawab apapun. Aku masih gak percaya semua ini.


"Sudah Kia tidak apa apa. Aku tau kamu terkejut mendengar ini. Untuk sementara kamu gkmak usah banyak berpikir. Lebih baik kita pulang dulu sudah menjelang sore. Aku gk mau Boy berpikir yang tidak-tidak nanti.


Ayo kita pulang"


Kata Kak lee.


Di perjalanan pulang kami diam membisu, aku tidak berani menoleh ke arahnya. Aku merasa bingung, ragu, takut dan aku lelah sekali. Aku hanya mendengar suara Kak Lee yang menghela nafas.


"Maafin aku Kak "