
Ada seseorang datang setiap hari ke rumah Kia, memastikan apakah wanita itu sudah datang atau belum dari perjalanannya. Maksud hati ingin menghubunginya lewat ponselnya tapi apalah daya tidak tau nomernya. Bodoh? iya memang bodoh untuk laki-laki seperti Malik.
Walaupun sudah dua tahun kenal dengan Kia, tapi sekalipun tidak pernah bertanya nomer ponselnya. Takut? Iyalah pastinya. Tapi lebih besar rasa malu untuk sekedar bertanya.
Setelah pertemuan terakhir dengan Kia di acara pengajian, Malik memutuskan ingin mengejar Kia. Berhubung Kia pergi keluar kota jadi rencananya tertunda. Seminggu menunggu tapi justru lebih dari yang dia kira. Sabar? jangan ditanya dech. Mana ada orang sabar tiap hari bolak-balik pergi ke rumah Kia, tapi tidak berani bertanya pada kakaknya. Hanya melihat rumah itu setiap hari dari jarak yang agak jauh karena takut dikira peguntit.
Hari ini dia memutuskan pergi lagi mengunjungi rumah Kia. Siapa tau sang pujaan hati sudah datang. Langkah kakinya sudah keluar dari rumahnya. Berjalan dengan penuh keyakinan karena ibunya sudah mendukungnya.
"Apa yang harus aku katakan nanti ya? apa aku jujur saja dengan kedatanganku? apa dia akan menerimaku? aihhhh, kenapa aku masih gugup sich. Padahal aku sudah berlatih setiap hari di depan kaca..... "
Ucap Malik sendiri sambil berjalan dengan langkah masih ragu-ragu.
Karena rumahnya dan Kia hanya terpisah beberapa rumah saja, tidak terasa sudah sampai di depan rumah Kia. Malik yang dari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri spontan menghentikan langkahnya.
Malik terkejut melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah Kia.
"Ehmmmm, aku rasa ada tamu di rumahnya. Sebaiknya aku menunggu sebentar, siapa tau akan segera keluar. "
Batin Malik berkata, dia memutuskan memundurkan langkahnya agar menjauh dari rumah Kia. Malik akan sabar menunggu sebentar lagi.
Di dalam mobil ada Neil yang masih menunggu bos nya keluar. Dia sibuk dengan ponselnya dan sekilas melihat dari spion ada seseorang yang berdiri tidak jauh di sebelah rumah Kia. Neil tau siapa orang itu, dia hanya memperhatikan gerak-geriknya dari spion mobil.
"Hei tuan, apa yang Anda lakukan disini. Mengganggu saja...... Tunggu kenapa anda berdiri disana seperti patung saja. Ck... ck.... ck..... "
Kata Neil bergumam sendiri sambil tersenyum tipis.
"Eit, tunggu apa dia mencari nona Kia? aish tuan, sudah terlambat pulanglah sebelum kau sakit hati".
Kata Neil lagi, Neil yakin Malik ingin menemui Kia dan mungkin dengan maksud yang itu.
Neil akhirnya cuek dengan apa yang dilihatnya, biarlah seperti itu. Neil ingin melihat drama yang menarik sebentar lagi.
Tidak berapa lama, pintu rumah Kia terbuka. Kia mengantarkan Lee sampai depan rumahnya. Mereka berdua berjalan beriringan, tidak lupa Lee menggenggam tangan Kia erat. Mereka saling membalas senyum. Senyum kebahagian yang terlihat oleh Neil yang sudah menunggu mereka dari tadi.
" Ish... ish... ish.... dasar bucin. Dunia seperti milik mereka berdua saja".
Neil bergumam sendiri yang untung saja tidak didengar bosnya.
Disisi lain Malik terkejut melihat pemandangan yang merusak matanya. Dilihatnya Kia bergandengan tangan dengan seorang laki-laki Asia yang amat tampan dan gagah dengan kemeja hitamnya. Langkahnya bergerak mundur agar tidak terlihat oleh Kia.
Malik merasa sedih, hatinya seakan tercabik-cabik hancur berkeping-keping. Wanita yang dia cintai bersama orang lain. Dengan memantapkan hati setiap hari akan mengungkapkan isi hatinya pada Kia semuanya sia-sia saja. Badannya terasa lemas, kakinya hampir tidak bisa menahan berat tubuhnya.
Malik membalikkan tubuhnya berjalan menuju rumahnya sendiri. Entah apa yang dia rasakan, kecewa patah hatilah namanya. Malik menyesal kenapa tidak sedari dulu mengungkapkan isi hatinya. Merutuki kebodohannya sendiri yang tidak pernah berusaha mendekati Kia. Sekarang semuanya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur.
Malik sampai di rumahnya dengan mata yang sudah memerah. Dia langsung masuk menuju kamarnya sendiri. Mengunci pintu dari dalam karena tidak ingin diganggu siapapun. Kakinya melangkah menuju tempat tidurnya. Membaringkan badannya yang sudah ingin roboh dari tadi.
Sekilas sosok laki-laki yang bersama Kia muncul dipikirannya. Malik langsung mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa yang kulakukan? Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tidak bertanya apakah dia sudah punya kekasih atau belum? Aku sungguh bodoh! ".
Malik berkata sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
" Ya Allah, kenapa? Aku sangat mencintainya. Kenapa aku begitu bodoh? Apa dia bukan jodohku? apa aku harus menyerah?
Malik terus memikirkan apa yang terjadi hari ini. Berpikir memaksakan hatinya lagi untuk menyerah. Semua adalah salahnya yang terlalu bodoh. Sudah terlambat untuk mengejar Kia. Sudah ada seseorang dihatinya, tidak ada tempat lagi untuk seorang Malik.
Malik akhirnya sadar, karena dirinya gagal sebelum memulai.
Pasangan yang sedang dimabuk cinta memang menggemaskan buat semua orang termasuk seorang Neil yang jomblo sejati. Neil masih menyaksikan pemandangan yang merusak matanya dari tadi.
"Cukup tuan, mataku sudah minus sejak tadi. Sampai kapan kalian berdua cuma memandang saja. Sosor saja nona Kia beres khan.........
Gumam-guma kecil Neil yang hampir didengar bosnya.
Lee yang telinganya tajam langsung menoleh ke arah Neil. Matanya tajam menatap ke arah Neil. Membuat Neil langsung terdiam dan membuang wajahnya ke arah lain. Neil menelan ludahnya yang terasa pahit dan serag kurang minum air.
" Ampun, mati aku nanti. Tuan mendengarnya, aku keceplosan. Bibir ini kenapa gk diam saja."
Batin Neil cemas, dia takut bosnya akan menghukumnya karena apa yang dia ucapkan tadi.
Kia merasa tidak enak dengan Neil, dia hanya tersenyum ke arah Lee.
"Kak pulanglah, kasihan Neil sudah menunggu dari tadi. Besok aku akan kembali bekerja, aku ingin istirahat sekarang".
Ucap Kia membujuk Lee.
" Baiklah sayang, tidurlah jika kau lelah dan jangan lupa makan. Besok aku akan menjemputmu. Selamat malam...... ".
Jawab Lee dengan penuh kasih sayang yang tidak habis-habisnya dia ungkapkan.
" Baiklah, selamat malam Kak Lee. Sampai jumpa besok...."
Tangan yang tadi saling terikat akhirnya terlepas sementara waktu. Meski Enggan Lee melepasnya. Tapi Kia masih tersenyum menatap Lee yang masuk ke dalam mobilnya. Lee menoleh kearah jendela, memastikan Kia lagi. Kia melambaikan tangannya pada Lee, dan begitupun Lee sebaliknya. Akhirnya mobil Lee melaju keluar dari rumah Kia.
Di dalam mobil Lee tersenyum sendiri, terlintas wajah Kia di matanya. Hanya sosok Kia yang terlihat sekarang.
"Kia, aku akan menikahimu segera. Aku tidak akan membiarkan serangga-serangga kecil mengganggumu lagi. Atau akan ada saingan baru yang akan muncul lagi mengganggu hubungan kita".
Batin Lee berkata dan terlihat senyuman kecil di bibirnya.