I Love You, Oppa....

I Love You, Oppa....
Restu Boy



Perjalanan Ke Jogja sudah usai, Lee memutuskan kembali ke Bandung.


Hari-hari yang bahagia sudah dirasakan dua sejoli yang sedang berbunga-bunga. Sepanjang perjalanan tidak ada waktu yang terlewat sedikitpun. Mata mereka berdua bergantian saling memandang, senyuman di wajah mereka terlihat manis sekali. Kedua tangan saling terikat tidak terlepas sepanjang jalan. Walaupun perjalanan begitu panjang, tapi mereka tidak merasa bosan. Walau bibir mereka tidak bersuara, tapi bisa terlihat dari bahasa tubuh mereka berdua.


Tapi tidak dengan yang dibelakang kemudi, Neil merasa gerah sendiri.


"Aishhhh, bisa gak sich biasa aja. Jiwa jomblo ku menangis meraung-raung. Dasar bucin..... " Ucap Neil dalam hatinya.


Neil melirik mereka dari spion, hatinya terus mengomel sepanjang jalan. Lee sekilas melihat lirikan Neil dari spion mobil.


"Ehm.... ehm..... sepertinya ada yang cemburu nih..... " Kata Lee mengejek.


Kia hanya tersenyum mendengar ucapan Lee. Lain Neil, dia kaget mendengar kata-kata bosnya. Neil hanya diam tidak berani berkomentar. Maklumlah bosnya lagi di mabuk asmara.


"Cih, dasar pamer..... " Ucap hati Neil lagi.


Neil melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang sesuai perintah bosnya. Mereka melewati Tol yang panjang, sesekali beristirahat di rest area menghilangkan lapar dan lelah.


Akhirnya mereka sampai di Bandung menjelang malam. Mobil melaju menuju kediaman Kia. Tak berapa lama terlihat rumah Kia sudah terlihat. Tapi sungguh kaget Kia melihat kak Boy yang berdiri di depan rumah. Ragu Kia keluar dari mobil Lee. Apa yang harus dia katakan pada kakaknya, karena masih ada beberapa luka yang belum sembuh.


Boy masih menatap ke arah mobil dari depan rumah. Sudah tau Kia yang datang tapi masih diam memperhatikan. Sedangkan Lee melihat raut wajah Kia yang cemas. Sebenarnya kondisi Lee juga sama masih ada luka yang terlihat di wajahnya.


"Tenanglah, aku akan keluar menemanimu. Aku akan menjelaskannya pada Boy, jadi jangan takut ya..... " .


Kata Lee berusaha meyakinkan Kia dengan memegang tangannya.


Akhirnya Neil turun lebih dulu membukakan pintu untuk Lee dan kemudian lanjut ke arah Kia. Setelah mereka turun, Neil mengekor di belakangnya.


Pasangan itu berjalan saling berpegangan tangan dan terlihat oleh Boy.


Boy yang melihat pemandangan itu kaget tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Tangannya mengepal menahan marah.


"Sialan, lepaskan tanganmu dari adikku sekarang... " Kata Boy marah.


Tapi Lee tidak mendengarkannya, mereka berdua mendekat ke arah Boy.


Boy kaget setelah Kia mendekat dan dilihat adiknya yang terluka.


"Kia..... ada apa denganmu? kenapa wajahmu terluka? tanganmu juga? Ada apa sebenarnya Kia? Jawab Kia? ".


Teriak Boy merasa cemas melihat kondisi adiknya.


" Maaf kak, jangan marah dulu. Sebenarnya kita berdua kecelakaan sewaktu di Jogja... " Jelas Kia pada Boy.


"Apa? kecelakaan? aku tau pasti ini ulah dia lagi khan? cepat jawab Kia.... "


Boy sudah terbakar emosi menatap ke arah Lee.


"Tidak kakak ini bukan salah Kak Lee. Kia yang kurang hati-hati. Kak Lee sudah menyelamatkan Kia. Kalau tidak Kia pasti tidak akan selamat. "


Kata Kia berusaha membujuk Boy agar percaya ucapannya.


Tapi Boy masih tidak percaya, dia berusaha menahan emosinya yang sudah mau meledak ingin menghajar Lee.


"Kak Boy percayalah ini bukan salah Kak Lee ! "


Kata Kia dengan tegas membujuk Boy untuk percaya padanya.


Boy terdiam sejenak memperhatikan Lee dan Kia sekali lagi. Memastikan apa yang dikatakan adiknya benar atau tidak.


Lee berusaha tenang, tidak melawan kata-kata Boy. Dia tau harus mengalah sekarang walaupun Boy marah padanya. Demi restu dari Boy.........


"Masuklah dulu, kalian pasti lelah..... "


Tidak ingin kena sasaran Neil memutuskan menunggu bosnya diluar saja.


"Selamat berjuang bos, semoga di restui. he... he... he.... ".


Hati Neil tertawa melihat perjuangan bosnya.


" Duduklah....... Aku ambilkan minum dulu".


Kata Boy berlalu ke dapur meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


"Maaf Kak Lee, Kak Boy jadi marah padamu..... ".


Kata Kia merasa bersalah.


" Tak apa, memang ini juga salahku tidak bisa menjagamu Kia. Aku mengerti Boy bersikap seperti itu padaku. Jadi tenanglah... "


Lee berkata sambil menepuk-nepuk punggung tangan Kia.


Boy memperhatikan mereka dari arah dapur. Boy merasa bersalah menghalangi perasaan mereka berdua. Melihat tatapan mata Lee pada adiknya. Sebaliknya juga dengan Kia. Boy tahu cinta Lee tulus sampai saat ini. Meskipun Boy dulu menjauhkan mereka berdua selama 2 tahun lebih. Boy kira dengan perbuatannya akan memudarkan cinta diantara mereka.


"Ck.... ck.... ck.... apa aku harus merestui mereka? tapi keluarga Lee bagaimana? "


Ucap batin Boy.


Boy menghampiri mereka sambil membawa nampan yang berisi minuman dingin. Sekejap Lee dan Kia gelagapan karena tidak menyadari kedatangan Boy.


Boy duduk dihadapan mereka berdua, berusaha meresapi apa yang terjadi. Memperhatikan mereka berdua bergiliran, memastikan apa yang akan dia putuskan tidak akan terjadi kesalahan di masa depan.


"Ehm.... Tuan Lee, apa kau bisa menjaga adikku melebihi nyawamu sendiri? "


Tanya Boy yang membuat Lee menatap langsung ke arah Boy dan kemudian Lee dan Kia saling menatap satu sama lain. Memastikan apa yang mereka dengar adalah nyata.


"Meskipun itu keluargamu sendiri, apa anda bisa melindungi adikku? "


Tanya Boy lagi memastikan apakah dia bisa menyerahkan hidup adiknya pada Lee.


"Boy, aku sangat mencintai Kia dari dulu sekarang dan selamanya. Aku akan menjaga Kia di sisiku dari siapapun yang akan menyakitinya. Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Aku berjanji padamu. Jadi tolong restui kami..."


Lee menjawab semua pertanyaan Boy dengan keyakinannya akan selalu menjaga Kia disisinya.


Mendengar jawaban Lee yang penuh keyakinan, Boy berpikir dengan sangat keras. Tidak ingin membuat adik satu-satunya terluka. Dan ingin melihat Kia bahagia. Mungkin dulu Boy egois dengan memisahkan mereka tanpa berpikir dulu. Tapi apalah daya seorang kakak yang menyayangi adiknya seperti anak sendiri. Yang Boy pikirkan hanya keselamatan Kia.


"Baiklah..... aku merestui kalian. Aku berharap anda memegang janji anda Tuan Lee. Jika Kia terluka karena anda, saya tidak akan segan lagi. Tolong lindungi Kia dengan baik! "


Jawaban Boy yang tegas membuat Lee dan Kia merasa bahagia. Kia menangis mendengar kakaknya merestui hubungannya dengan Lee. Kia langsung bangun menghampiri kakaknya dan memeluknya.


"Terima kasih Kak, aku bahagia kak..... Dan maafkan aku Kak Boy".


Kata Kia masih merasa bersalah pada kakaknya. Kia menangis juga karena merasa senang.


Lee juga terlihat matanya yang berkaca-kaca merasa senang karena usahanya untuk mendapatkan cinta Kia kembali dan juga restu dari Boy menjadi kenyataan.


" Terima kasih Boy.... ".


Ucap Lee lagi.


Boy menatap kearah Lee kemudian hanya menganggukkan kepalanya.


Hari ini adalah momen terbaik buat Kia, dengan restu dari Boy akhirnya Kia merasa lebih tenang. Termasuk Lee juga merasa jauh lebih bahagia.