
Sungguh pria seperti Hamdan seperti pria kelainan ****, melihat gadis kecil yang sedang tertidur saja adik kecilnya bisa dengan cepat berdiri. Ia meraba dan meremas paha kecil milik Alma. Gadis itu menggeliat sebentar akibat sentuhan itu, tetapi kembali tertidur.
Hamdan menjadi ragu untuk melanjutkan aksinya. Hmm..tunggu saja gadis kecil, kau juga akan menjadi milikku. Aku tidak sabar untuk mencicipimu, aku menunggu kau beranjak dewasa dulu. Ia bergumam sendiri lalu keluar dari kamar kecil itu.
Baru saja ia mencelupkan adik kecilnya pada Amira, sehingga wanita itu kelelahan dan kehabisan tenaga. Ia sekarang tidak sadarkan diri, tetapi Hamdan malah membiarkan wanita itu tergolek tak berdaya. Di samping itu pula ada niat untuk pelecehan anak tiri dari Amira.
Hamdan kemudian kembali ke dalam kamar Amira. Ia merebahkan tubuhnya sejenak. Sambil tersenyum puas.
Pagi telah merambat turun, Hamdan telah bersiap untuk ke kantor. Ia memandang Amira teman kencan selama sebulan ini. Terlihat wanita itu tidak juga bangun. Ia tertidur atau belum sadar sama sekali.
"Tidurlah Amira dengan nyenyak kalau perlu jangan bangun lagi. Aku hanya memerlukan hartamu setelah ini, kau pasti akan ku buang." Ia merapikan dasinya dan tetap melihat sosok janda dengan tubuh masih telanjang.
Amira mulai membuka mata perlahan. Kepalanya terasa sangat berat. Sayup-sayup ia melihat Hamdan yang telah berpakaian rapi.
"Sayang, kau sudah bangun," terdengar suara manis Hamdan di telinga Amira.
Ia mengecup kening perempuan itu dengan lembut.
Amira sangat menyukai kelembutan dan kehangatan yang diberikan Hamdan padanya. Ia merasa sangat beruntung.
Matanya berbinar dan rona bahagia terpancar pada wajah wanita itu.
"Istirahatlah, aku akan memanggil pelayan untuk membersihkan dirimu dan juga sarapan pagi." Hamdan kembali membelai pucuk kepala Amira dan merapikan anak rambut yang berserak di sana.
Sungguh janda itu merasa berada di Negri awan. Selama dengan Mendiang Teguh saja ia tidak pernah diperlakukan seperti itu. Ia merasa inilah saatnya untuk mereguk cinta manis dan kebahagiaan dunia. Amira tersenyum dan membelai lengan Hamdan yang ditumbuhi bulu halus yang lebat dan ia sangat menyukai itu.
"Aku ke kantor sekarang, persiapkan dirimu minggu depan aku akan menikahi mu sayang."
"Ya, jaga dirimu baik-baik juga, jangan nyetir dengan ngebut." Jawab Amira lagi.
"Tentu sayang," Pria itu kembali mengecup bibir dan kening Amira.
Pria tampan dan telah rapi itu menghilang di balik pintu. Ia berjalan menuruni tangga dan kembali melihat dari lantai atas Alma dengan cekatan membantu asisten dan pelayan lain di rumah itu.
Ia menatap bocah itu dari jauh dan terus melangkah seakan sangat acuh dengan keadaan di dalam rumah.
"Bi Ana, siapkan sarapan dan juga air panas di kamar mandi untuk Amira, aku akan segera ke kantor."
Hamdan memberi perintah pada asisten setengah baya itu.
"Baik tuan." Bi Ana dengan cepat melangkah kaki menaiki tangga menuju kamar nyonya besarnya.
Sementara itu Hamdan mengamati Alma yang tadi bersama Bi Ana, ia menjauhkan diri dan kembali kebelakang. Hamdan yang sedari melihat bocah menatapnya dari kejauhan penuh arti. Seringai iblis hadir sudah di wajah tampan pria itu.
Apa boleh buat, mereka adalah bawahan yang tidak perlu bertanya dengan urusan pribadi tuan mereka.
Mereka bekerja dan menuruti semua perintah yang diberikan majikan pada pelayan dan asisten, dan hal itu sangat mereka sadari.
Setiap hari adalah pandangan yang memuakkan bagi mereka yang melihat, tanda ****** memenuhi setiap bagian leher Amira. Amira yang masih berantakan dengan tubuh serta ranbut awut-awutan.
Mereka memang setiap hari, melihat pandangan yang menjijikan itu. Rambut yang terlihat basah setiap hari bahkan erangan erotis memekakan telinga mereka setiap hari.
Adakah rasa malu yang ada di otak Pasangan mesum itu. Mereka seakan tidak peduli, naluri bintang yang mengalir di dalam dada hanya untuk memuaskan hasrat setiap hari.
Di dalam perjalanan menuju kantor, Hamdan memikirkan dengan cepat agar acara pernikahannya dengan janda kaya itu dipercepat. Ia meraih ponsel dan menelpon Ramses.
"Ramses, tolong kau siapkan semua berkas dan perlengkapan pernikahan untuk Aku dan Amira. Karena minggu depan kami akan melangsungkan pernikahan." Hamdan menghubungi Ramses yang sekarang telah beralih tugas menjadi asistennya.
"Me..nikah Tuan?" Ramses menjawab dengan tergagab.
Ia merasa sangat terkejut, jika selama ini mungkin saja Amira kesepian dan butuh hiburan. Kemungkinan saja Hamdan menjadi Fatner ranjangnya. Tetapi agaknya Amira benar-benar dimabuk cinta, tanpa terlebih dahulu situasi dan kondisi saat ini.
Lama Ramses, terdiam tanpa memberikan jawaban pada Hamdan. Hal tersebut membuat pria yang lagi dalam kondisi menyetir itu terlihat emosi.
"Apakah kau mendengar apa yang aku katakan padamu Ramses. Apakah kau paham apa yang aku perintahkan? Mengapa kau diam saja?"
"Ya, aku paham tuan, apakah sekarang yang juga saya pergi atau besok pagi," tanya Asisten setengah baya itu kembali.
"Tentu saja sekarang,mengapa mesti menunggu besok pagi. Pergi sekarang, dan urus secepatnya!"
"Baik tuan.
laki separuh baya itu lalu pergi meninggalkan ruangannya. Sebenarnya pekerjaan hari ini begitu padat. Tetapi nyonya besar sekaligus presiden Direktur itu tidak pula hadir. terdapat banyak agenda kegiatan Perusahaan yang tidak bisa diwakilkan pada wakil Direktur. Namun Amira tidak pula peduli akan nasib perusahaan ke depannya nanti. Mau dibawa kemana Perusahaan kedepannya pikir Ramses dalam hati.
Di lobi kantor ia berpapasan dengan Jamal sang Saptam yang juga telah sangat lama mengabdi pada Perusahaan itu, sama seperti dirinya.
"Pak Ramses, mau kemana? pagi-pagi begini sudah pada sibuk sekali?" Tanya Jamal pada Ramses.
"Hmm..hmm aku mendapat pekerjaan hari ini, mengurus keperluan dan perlengkapan yang untuk dibawa serta diurus ke kantor urusan Agama." Jelas Ramses dengan datar.
"Wah, Pak Ramses mau menikah lagi rupanya. Rupanya Pak Ramses berselera juga sama daun muda. Wah..wah bisa jadi berita heboh nih." Jawab Jamal dengan tertawa tertahan.
"Sebaiknya kau pikir dulu jika mau bicara banyak, semenjak kematian mendiang Bos Besar aku sebenarnya kurang bersemangat untuk berkerja, terlebih lagi dengan hadirnya Amira dan sosok kuasa wakil Direktur. Dan kau tahu Pak Jamal, akulah yang disuruh untuk melengkapi semua berkas Kantor agama. Karena sebentar lagi mereka akan menikah!"
Ramses pergi dengan meninggalkan Jamal yang termenung dengan mulut terbuka.Ia benar-benar terkejut tanpa bisa berkata apapun.