I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Katakan Apa Hadiah Untuk Uncle?



Sambil bergelayut manja gadis belia yang masih memakai seragam abu-abu itu terus menempel pada sang Uncle. Tidak peduli dengan tatapan beberapa pasang mata pada ponakan dan pamannya itu.


Tetapi karena juga sudah terbiasa dengan Alma yang sedari kecil bolak balik masuk kantor, asisten dan karyawan tidak ada yang terkejut. Mereka terkadang sangat gemas dengan bocah yang dulu masih kecil dan sering merengek pada sang paman untuk membeli es krim walau Alex pada saat itu sedang sangat sibuk. Ia terpaksa harus menunda rapat hanya karena permintaan sang ponakan cantiknya itu.


"Memang hadiahnya apa Uncle?" Alma terlihat tidak sabaran.


"Sabarlah sayang, kamu pasti suka akan hadiahnya." Ucap Alex dengan senyum menggoda.


Mereka telah sampai di lobby kantor, terlihat Alex menelpon seseorang.


"Sayang ayo kita ke halaman samping kantor."


Alma mengikuti kaki panjang Alex menuju halaman samping yang dimaksud.


"Ini hadiah untuk ponakan Uncle," ucap Alex sambil tersenyum dan memberikan kunci mobil pada gadis cantik yang langsung melonjak kegirangan.


Sebuah mobil sports dengan warna putih dan keluaran terbaru berada di depannya saat ini.


Betapa gembira nya gadis yang memakai seragam abu-abu itu, tampa malu dan berjingkrak ia meraih tengkuk sang paman dan bergelayut dengan kedua tangan mulusnya pada leher itu. Ia kemudian mendarat kan ciuman di sebelah pipi kanan dan pipi kiri Alex. Karyawan dan asisten yang ada di situ hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.


Mereka merasa sangat tidak heran, kejadian seperti itu juga bisa mereka lihat ketika Alma memasuki Tingkat Sekolah Pertama.


Hanya Alex yang merasa sangat sedikit berbeda, bagaimana tidak Alma telah tumbuh menjadi gadis yang sebentar lagi dewasa. Ia tampil menjadi gadis bertubuh tinggi ramping dengan padat berisi. Kulit nya putih bersih dengan kaki jenjang yang sangat mulus yang dimilikinya. Tetapi sekarang gadis itu memeluk dan menempel pada bidang yang dimilikinya, tentu saja hal itu membuat aliran panas dalam denyut nadi dan juga detak jantung yang berpacu cepat dari biasa.


Alex lantas mengalihkan semua itu dengan melepas tangan Alma yang tadi bergelayut pada leher kokohnya.


"Sayang kamu senang dengan hadiahnya. Ayo sekarang kita lihat dan kita coba!"


"Tentu saja Uncle. Tetapi Alma belum bisa nyetir dan juga punya SIM." Mendadak Alma kemudian bingung dan melihat pada Alex.


"Itu perkara yang tidak sulit. Yang sulit itu jika kamu tidak suka akan hadiah ini." Alex kembali membelai dengan sayang pucuk kepala Alma dan merapikan anak rambut yang berserak di terpa angin.


Alma merasa sangat damai, perhatian dan kasih sayang Alex yang begitu sempurna. Tidak ada yang salah lagi dalam kasih sayanya pada gadis itu.


Alma terdiam sesaat dan kemudian kembali tersenyum.


"Ayo sekarang kita mencobanya," Alek meminta kembali kunci mobil yang berada pada tangan Alma dan mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam mobil.


Mereka menaiki mobil Sport keluaran terbaru. Dengan fasilitas dan kenyamanan yang ada pada mobil mahal itu membuat Alma tidak berhenti menyunggingkan senyum manisnya.


"Setelah nanti bisa mengendarai mobil dengan baik, secepatnya kamu akan mendapatkan SIM," ujar Alex sambil tersenyum dan melirik Alma yang berada di sampingnya.


"Aku boleh membawa mobil ke kampus Uncle?"


"Tentu saja sayang, dengan syarat telah pandai dan telah mahir membawa dan tanggab terhadap rambu lalu lintas." Jelas Alex sambil membawa mobil baru itu keliling kota.


"Uncle jadi aku harus ikut kursus dulu agar bisa membawa mobil dengan benar." Tanya Alma dengan serius.


"Tidak perlu kursus sayang, Uncle akan mengajarimu. Tetapi dengan satu syarat." Alex memandang Alma dengan pandangan menggoda.


"Apa syaratnya Uncle?"


"Apa ya," senyum Alex kembali mengembang.


Mendengar itu semua Alex tertawa dengan keras.


"Ah, Uncle selalu seperti itu," ujar Alma dengan cemberut.


"Ya, syaratnya tidak mahal-mahal sayang."


"Cepat bilang Uncle, apa syaratnya." Alma dengan gemasnya mengelus kumis tipis milik Alex.


Alex yang diperlukan seperti itu merasa sangat kegelian. Dengan spontan ia kembali menggelitik pinggang ramping milik ponakan.


"Awas ya Uncle, kalau ngak lagi nyetir udah aku kerjain." Ucap Alma dengan menahan geli.


"Ya, siapa juga takut."


"Lihat aja deh, kalau sudah sampai rumah. Ntar aku kerjain." Ujar gadis itu dengan senyum khasnya.


Lalu lintas sedikit ramai, ponakan dan sang paman akhirnya menghentikan canda tawa mereka sebentar.


Alex kembali dengan fokus menyetir dan mengarahkan mobil pada jalur yang tidak begitu padat.


"Uncle mau syarat nanti malam Alma, udah capek-capek ngasih hadiah terus tidak imbalan. Ya tak mungkin." Kembali Alex ingin menggoda gadis belia yang sedang melihat Alex yang dengan serius memegang stir.


"Ya..Uncle dari tadi minta syaratnya. Bilang aja sekarang. Mau minta dipijit atau mau kue bolu brownis kukus hangat?"


"Wah, ponakan Uncle bisa menebaknya dengan sangat tepat, tetapi saat ini permintaannya lain dari yang kemaren ya."


"Bilang aja dari sekarang, kenapa ah, gemesin aja si Uncle." Rengut bibir gadis cantik itu dengan bertambah gemas.


"Wah, kalau dibilang dari sekarang ngak seru deh."


"Terserah Uncle saja, asal syaratnya ngak macam-macam."


"Eaa..harus macam-macam lah, ngak seru kali kalau ngak macam-macam."


Alex kembali tersenyum geli, ia melihat muka Alma yang putih menjadi sedikit merona. Ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Terlebih jika lagi cemberut seperti itu desis pria berumur 38 tahun itu.


Di usia yang telah matang, entah mengapa Alex tidak lagi berniat untuk menikah. Setelah kepergian Amira sampai sekarang ia menduda. Bahkan Indah yang telah menjalin hubungan sebagai status istri orang diam-diam pergi meninggalkannya.


Alek tidak tahu apa yang tejadi dengan Indah, ia resign dari perusahaan dengan membawa Unang yang sangat tidak sedikit. Tetapi Alex tidak mempersalahkannya, mungkin saja Indah ingin pergi dari hidupnya dan memulia hidup yang baru.


Saat ini yang ada dalam pikirin lelaki matang itu adalah bagaimana keponakannya itu bisa memulai hidup mandiri, jika suatu saat ia harus pergi. Ia akan berdiri dengan kedua kaki dan kedua tangan yang tidak selalu harus bergantung hidup pada orang lain.


Hari telah mulai sore, sesekali.ponakna dan sang paman bercanda dan bercerita dengan ceria, Alex yang sering menggoda dan berkata dengan nada yang lucu. Sesekali membuat muka Alma memerah menahan geli yang ada perutnya.


"Hari telah mulai sore, sebaiknya kita pulang sayang. Tetapi sebelum pulang kita singgah sebentar di tempat restoran yang kamu suka ya." Ujar Alex melirik Alma yang sedikit sibuk dengan handphone terbaru yang belum lama Alex beli.


"Baiklah," Alma tersenyum senang.


Bersambung