
Hari ini adalah hari libur, Alex dan juga Alma berencana akan belajar menyetir bersama. Mereka memakai baju kaos santai. Baju kaos berwarna putih berpadu dengan motif hitam sedangkan Alex memakai baju kaos bewarna coklat tua dengan dipadu celana Jeans panjang. Jika dilihat mereka berdua seperti kakak dan adek.
Hal itu bisa terlihat, Alex walaupun mendekati umur 40 Tahun. Tetapi lelaki tampan itu terlihat muda lima tahun dari umur yang sebenarnya. Ia tampan, rapi dan sungguh buatan Tuhan yang sangat sempurna.
Tetapi tidak kalah dengan gadis cantik berusia 18 Tahun itu. Ia bagaikan bunga yang baru tumbuh mekar, kuncup-kuncup yang baru bermekaran seiring dengan bau bunga yang begitu wangi semerbak untuk dipetik dan dicuim kelembutannya.
"Apa kamu telah siap ponakan Uncle?" Sapa Alex ketika pagi itu memang mereka telah janjian untuk pergi ke taman belakangan yang lumayan luas untuk area belajar menyetir.
"Tentu saja siap Uncle," jawab Alma dengan riang.
"Ayo kita pergi, kalau begitu."
"Siiip, Uncle."
Seperti biasa, Alma meraih tangan kekar Alex dan bergelayut di sana. Tingkah Alma yang kasih kadang kekanakan dan sangat manja menjadi hal biasa untuk mereka lihat oleh Asisten dan para penjaga mereka hanya tersenyum dalam hati.
Mereka telah sampai pada halaman belakang, halaman luas yang sangat rindang di tumbuhi oleh beberapa Pohan rambutan dan Pohon Mangga. Jika dilihat halaman belakang itu sebesar halaman sepak bola. Jadi sangat luas untuk Alma belajar kendaraan di sana.
"Mulai dari menghidupkan mesin dan memasukan gigi Alma." Alex mematikan mobil dan menyuruh ponakannya itu untuk menghidupkan mesin.
"Uncle, takut nanti mobilnya jalan sendiri." Jawab Alma dengan takut.
"Wah..wah susah kalau gitu deh, ngak punya mental mau bawa mobil ah, gimana nih. Ponakan Uncle." Seloroh Alex dengan gemas.
Alma hanya diam terpaku. Ia berusaha untuk menertralkan detak jantung dan nafasnya dengan teratur.
"Baiklah Uncle, sekarang mobilnya telah hidup."
Alma telah menghidupkan mesin mobil.
"Ya, bagus sekarang kita belajar masukan gigi."
Alex kembali memperagakan cara memasukan gigi mobil satu dan dua. Cara memijak kopleng dan rem semua mempunyai kecepatan tangan yang harus terampil dan posisi tangan yang juga harus seimbang dalam memegang stir.
Alma telah memulai memasukkan gigi satu dan membawa mobil dalam satu arah.
Alma tersenyum, ah seperti ini rupanya membawa mobil pikirnya lagi. Tetapi karena kegirangan ia menginjak pedal gas agak sedikit laju. Mobil yang ia bawa, melaju dan ia memekik dengan sangat takut.
"Uncle, Alma takut bagaimana ini!" Ia dengan tangan gemetar memegang stir mobil dengan mengeluarkan keringat dingin yang mengalir dipelipis Alma.
Melihat itu semua Alex segera mengambil tindakan, ia segera memegang Stir dan mengambil rem tangan.
"Tenangkan hatimu," Alex kemudian mengambil posisi pindah dan kali ini ia yang menyetir mobil sambil mengajari Alma.
"Sudah paham dengan tekniknya sayang?" Ucap Alex dengan sabar.
"Harus paham dulu, kemudian jangan takut. Di sini ada Uncle." Tambah Alex lagi.
"Benarkah aku akan bisa membawanya mobil nya Uncle." Alma mulai merasa ragu.
"Tentu saja bisa, kalau orang lain bisa mengapa kita tidak dan harus bisa dengan syarat tekun dan hati-hati." Ucap pria tampan itu sambil tersenyum.
"Hmm.. Uncle..aku senang sekali mendengarnya." Ucap Alma memuji.
Alex yang mendengar Alma memujinya tersenyum tipis, hati dan perasaan nya juga sangat bahagia saat ini.
Alma duduk dibelakang stir. Tetapi di saat Alma ingin menutup pintu Alex malah masuk dan duduk dibelakang gadis itu.
Sontak saja Alma merasa sangat heran.
"Mengapa Uncle duduk di sini?"
"Tentu saja sayang, Uncle duduk disini nanti kalau terjadi apa-apa tidak akan ada masalah lagi," Ujar Alex dengan senyum nakalnya.
Aroma wangi tubuh Alma dan parfum yang sangat lembut seakan berada di depan hidung Alex saat ini. Ia serasa berada di Taman Bunga karena menghirup aroma yang segar itu.
Tubuh Alma yang begitu menempel padanya saat ini, membuat Alex yang sebagai lelaki normal harus menetralkan adik kecil di bawa sana. Ia juga harus menormalkan aliran darah yang dan juga detak jantung yang bekerja cepat pada biasanya.
"Ayo Uncle. Mengapa diam saja." Suara Alma membuyarkan lamunannya.
"Oiya..ayo kita mulai kembali." Ujar Alex sedikit gagab.
ia
Sebenarnya Alma juga sedikit canggung kali ini. Ini kali pertama tubuhnya begitu lengket dengan Alex ada perasaan lain dari biasanya. Jika saja setiap hari ia bergelayut manja dengan Uncle ia tidak merasakan apapun
Tetapi kali ini mengapa ada rasa yang berbeda pikirnya dalam hati.
Alma juga berusaha menepis perasaan anehnya dalam hati. Gadis belia itu kemudian menghidupkan mesin mobil dan membawa mobil dengan perlahan.
Ia mulia bisa ternyata. Tetapi kemudian ia belajar mundur dan memutar ia sedikit menghadapi kesulitan.
Dengan gesit Alex kemudian mengambil posisi stir dan kendali mobil. Tentu saja posisi itu membuat tubuh Alex dan Alma semakin merapat. Bahkan pipis mulus Alma terkena kumis tipis sang Paman.
Bulu -bulu halus yang ada di permukaan kulit gadis belia itu meremang dan Alex yang menyadari hal itu seakan tidak terjadi sama sekali. Ia sibuk dengan kendali mobil dan mengeluarkan kata-kata dan terik agar Alma merasa paham.
Melihat Alex yang terlihat acuh, membuat Alma sedikit lega. Ia kembali fokus dengan mobil yang di bawanya.
Hari ini adalah hari pertama dimana Alma membawa mobil. Selama ini sengaja Alex tidak mengajari Alma karena gadis itu belum cukup umur untuk membawa kendaraan roda empat.
Tetapi saat ini umur Alma telah menginjak 18 Tahun. Ia telah berhak mendapat sertifikat dan ijin mengemudi. Inilah dimana saatnya Alex untuk untuk membuat Alma bisa mengendarai mobil dan tidak selalu harus bergantung pada orang lain.
Hari pertama Alma membawa mobil terlihat banyak kemajuan. Ia telah mahir memasukan gigi dan menukarnya dari 1 sampai 3. Alex merasa itu sudah cukup untuk hari ini.
"Ternyata susah juga ya mengajari orang yang belum sama sekali bisa membawa mobi. Agak rada ribet juga," kelakar pria itu sambil melirik Alma.
Alma yang merasa di goda oleh Alex tersenyum lebar.
"Ya anggab saja ini kursus Uncle. Biar nanti Alma bayar. Satu jamnya berapa ?" Ucap Alma dengan sangat polosnya.
"Sangat mahal Alma, bahkan jika bekerja setahun saja kau tidak bisa untuk membayar ku!" Alex kembali menggoda gadis itu dengan kelakarnya.
"Ya, Uncle pasti ada maunya." Cibik Alma dengan bibir mengerucut.
"Tagihanya besok-besok aja kalau sudah gede dan Uncle udah tua." Ucap Alex dengan muka serius.
Bersambung