
Alex telah sampai pada Perusahaan Wijaya Grup. Ia di sambut dengan senyuman dan kepala yang tertunduk dari para asisten dan juga karyawan di sana.
"Selamat pagi pak."
"Selamat pagi." Ujar Alex dengan senyum.
Walau senyuman terukir di bibir tampannya. Tetapi senyum nyaris seperti datar dan dingin. Para bawahan sangat segan dan takut pada sosok yang mulai memencet pintu lift khusus Ceo.
"Mala ruangan, aku mau tahu apa agendaku hari ini." Ujar Alex ketika baru saja masuk pada ruangan dan berpapasan dengan Mala.
"Baik Tuan." Ujar sekretaris cantik itu dengan cepat.
"Agenda rapat anda haru ini tuan adalah, jam 10 nanti akan ada pertemuan dengan Tuan Miyoku dari Jepang pada Cafe Zilken di Jalan Subrantas. Kemudian pada malam hari nanti akan ada jamuan makan malam dari Perusahaan mereka menganjurkan untuk membawa pasangan Tuan."
Mala menjelaskan perihal agenda yang akan di kerjakan oleh pemilik perusahaan itu. Ia masih menunggu perintah karena Alex masih terdiam beberapa saat.
Alex terdiam tentu saja. Karena memikirkan jamuan makan malam yang mengundang beberapa rekan bisnis dan orang-orang besar yang berada pada acara itu.
"Apakah ada tugas yang lain Tuan, jika begitu saya permisi keluar." Ujar Mala dengan sopan.
Alex baru sadar dari pemikirannya, ia menganggukkan kepalanya.
"Kau sekarang boleh keluar Mala!"
"Baik Tuan."
Sekretaris yang cantik itu pun keluar dari ruangan dan kembali pada meja kerjanya.
***
Alma mengikuti langkah kaki dosen untuk masuk ke dalam ruangannya.
Ia mengurungkan niat untuk pergi bersama dengan Dinda dan juga Tino mereka berniat untuk hari ini untuk nongkrong di kantin. Tetapi niat itu batal karena Dosen Ray memanggilnya.
Alma telah sampai pada ruangan sang Dosen.
"Masuklah Alma dan duduklah." Ia menyuruh Alma duduk pada kursi yang berada pada meja kerjanya.
Dosen ganteng itu terkesan ramah dan tidak seperti pada ruangan kelas pagi tadi. Ia dingin dan juga sangat datar. Padahal tadi pagi semua teman berteriak histeris pada dosen tampan itu.
"Apakah saya menganggu waktu istirahat mu?"
Pria itu menatap Alma dengan tersenyum.
"Ee..saya rasa tidak pak," jawab Alma dengan polos.
"Saya tidak akan menganggu waktu mu dengan lama, saya hanya meminta padamu untuk membuat tabel rekapitulasi absen anak semester ganjil dari Bu Darmi kemaren kemudian di ketik ulang pada laptop saya."
Alma terdiam, bukankah itu juga memakan waktu lama, mengapa mesti di ketik ulang? bukankah bisa meminta flashdisk pada bagian Sekre atau di minta pada laptop Bu Darmi. Nih dosen buat kerjaan saja pikir Alma.
Tetapi apalah daya, jika nanti ia mengeluarkan pendapat takut nanti ia terkesan membantah dan tidak ikhlas untuk membantu.
"Siap pak," ujar Alma dengan cepat.
"Kalau begitu, ini laptopnya dan jika nanti kehabisan baterai kamu bisa di dekat sini." Rey memberi charger laptop.
Alma kemudian mengangguk pelan dan menerima langsung Charger laptop itu tangan yang cekatan kemudian langsung menghidupkan komputer.
Alma mulia fokus dengan pekerjaannya. Sementara Rey juga sibuk dengan materi kuliah yang juga akan di adakan tatap muka sebentar lagi pada kelas lain.
Rey yang lagi sibuk dengan pekerjaannya, sesekali melirik gadis cantik itu. Mukanya yang polos dan natural terkesan begitu Alami dan putih bersih. Sungguh Rey sangat ingin berlama-lama menatap wajah mahasiswanya itu kali ini.
Kemudian dengan cepat Rey kembali mengalihkan perhatian pada buku materi. Ia sama sekali tidak mau tertangkap basah menatap mahasiswa yang baru dikenalnya itu.
"Apakah kamu haus dan mau dipesankan minuman." Pria itu menatap Alma yang dengan terampil memegang keyboard Laptop.
"Oh, terimakasih pak, saya tidak terlalu haus dan juga lapar." Ucap Alma pelan.
Alex kembali fokus pada pekerjaannya. Entah mengapa ia begitu senang melihat gadis cantik itu yang bersemangat menyelesaikan pekerjaan yang ia perintahkan. Keringat sedikit keluar di pelipis Alma walaupun ruangan itu full Ac.
Tidak berselang lama, dengan terampil dan cekatan Alma memberikan Laptop pada Rey.
"Pak, nih ketikannya sudah siap." Ujar lama dengan sopan.
Dosen Rey itu lalu meneliti sebentar. Ia tersenyum puas.
"Terimakasih Alma. Boleh meminta no Handphone mu?"
Alma terdiam, apalagi nih dosen. Boleh deh, minta no hp tapi jangan chat macam-macam buat gerah aja desis dalam hati.
Alma kemudian menyebutkan no handphone nya. Ia sebenarnya tidak mau menyimpan no teman-teman laki-laki. Yang ada di handphone nya kebanyakan adalah no teman perempuan baginya menyimpan no teman laki-laki membuatnya gerah, karena pernah kejadian jika teman lelakinya mengirimkan video tak senonoh pada handphone miliknya. Semenjak itu Alma tidak berniat lagi menyimpan no teman-teman laki-laki dan apakah pak Rey juga seperti itu? Alma bertanya dalam hati.
"Baiklah Alma, terimakasih banyak. Jika lain kali aku butuh bantuan mu aku akan menelpon mu."
"Tidak apa-apa pak."
"Saya permisi."
"Ya."
Alma dengan cepat keluar dari ruangan sang Dosen. Keringat telah keluar dari baju dan kakinya saat ini. Ia begitu haus dan juga lelah. Waktu istirahat tinggal 4 menit lagi. Ia seperti berlari menuju kantin kampus.
Sesampainya di sana ia bertemu Dinda dan Tino yang juga akan beranjak pergi meninggalkan kantin.
"Tuan putri lama banget keluarnya dari ruangan dosen. Emang ada apa?"
"Diam, nanti aja cerita aku lagi capek banget, perut lapar dan juga haus."
"Bu pesan teh es, terus ayam bakar satu. Tidak pakai lama ya bu, pesanya sekarang. Bukan untuk besok."
"Ya non, untuk sekarang. Dan tidak besok pagi." Bu kantin tersenyum dan tidak lama pesanan Alma sudah dibawa dalam nampan kecil.
Dengan cepat Alma menyeruput teh es dan melahap ayam bakar dengan nasi yang masih mengepul.
"Pelan-pelan makannya teman, kayak orang dua hari ngak makan aja." Ucap Tino terkekeh.
"Aku sangat lapar, Tin pagi tadi cuma minum susu segelas, kau tahu bukan sebentar lagi mata kuliah akan di mulai dan aku tidak mau terlambat untuk masuk." Ucap Alma sambil mengigit Ayam bakarnya.
"Tu Alma Bu Li, mau sudah mau masuk. Aku tinggal dulu ya. Nanti jika pas absen aku bilang kamu lagi di kantin." ucap Dinda.
"Baiklah." Ia dengan cepat menyuap nasi dan juga teh es kedalam mulutnya.
Dinda dan Tino pergi meninggalkan Alma yang masih di kantin.
"Bu,,bu..ini semua berapa.?"
Terlihat Alma telah menyudahi makan siangnya. Ia tidak ingin terlihat terlambat sementara dosen telah masuk ruangan terlebih dahulu.
Baru saja mahasiswa duduk di tempatnya masing-masing dan perkuliahan belum di mulai Alma telah duduk di kursinya. Dinda yang melihat itu dibuat sangat heran. Baru juga ia dan Tino sampai pada ruangan. Tetapi temanya itu malah duduk dengan santainya sambil membuka buku kuliah.
"Makannya di kunyah atau ditelan langsung tuan Putri?" Alma berbisik ditelinga temanya itu.
"Langsung di telan," jawab Alma santai.
Mahasiswa melanjutkan perkuliahan kembali dengan Bu Li.
Sementara itu di kantor Wijaya Group. Alex berpikir siapa yang harus di bawanya pada acara jamuan makan malam nanti. Apakah Nara. Ah, perempuan itu hanya enak di bawa sebagai teman ranjang, bukan untuk pertemuan bisnis. Apakah Bella, ah perempuan itu terlalu dan hot dan seksi jika ia membawanya apakah tidak akan menjatuhkan marwah dan wibawa pada rekan bisnis? ah, lalu siapa?
Ah, mengapa aku harus lupa. Aku punya keponakan yang cantik. Mengapa tidak minta pertolongannya saja dalam acara jamuan makan malam nanti. Alex tersenyum senang ide yang bagus pikirnya.
Bersambung